Anggota Komisi VI DPRA Muhammad Zakiruddin (Bang Zek).RAKYAT ACEH | ACEH TAMIANG — Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Muhammad Zakiruddin, menyoroti kondisi sektor pariwisata di Kabupaten Aceh Tamiang yang hingga kini masih lumpuh total. Pria yang akrab disapa Bang Zek ini menyayangkan tiadanya alokasi anggaran, baik dari Transfer ke Daerah (TKD) maupun Anggaran Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab Rekon) 2026, untuk pemulihan sektor tersebut.

Meski demikian, politisi Partai Aceh ini memastikan adanya dukungan untuk sarana dan prasarana (sapras) menuju lokasi objek wisata di wilayah hulu. Melalui dana aspirasi masyarakat tahun 2026, ia telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar untuk pembangunan jalan rabat beton dari Desa Bengklang menuju sejumlah objek wisata air terjun, seperti Tamsar 27 dan Sangka Pane.
“Proyek tersebut saat ini sedang dalam tahap survei,” kata Zakiruddin saat dihubungi Rakyat Aceh, Kamis (11/6).
Menurut Zakiruddin, perkembangan pariwisata di Aceh Tamiang sebenarnya sangat progresif sebelum dilanda bencana, baik berkat dukungan pemerintah maupun tingginya kesadaran masyarakat. Namun, banjir besar yang menghancurkan hampir 97 persen infrastruktur wisata di daerah itu telah memutus mata pencaharian warga sekitar.
”Denyut nadi perekonomian masyarakat dari sektor pariwisata lumpuh total. Saat ini para pengelola tempat wisata di Tamiang terseok-seok membangun kembali tempat usahanya dengan modal sendiri,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata segera memberikan atensi lewat alokasi anggaran khusus.
“Kita tidak boleh abai, karena ini adalah momentum bagi pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.
Sebelumnya, Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Aceh Tamiang melaporkan bahwa seluruh sektor pariwisata di wilayah tersebut belum pulih pascabanjir bandang pada pengujung 2025. Salah satu destinasi yang terdampak paling parah adalah Wisata Pemandian Gunung Pandan di Desa Selamat, Kecamatan Tenggulun. Objek wisata yang sempat menjadi primadona itu kini mulai ditinggalkan oleh wisatawan lokal maupun luar daerah.
“Debit airnya mengecil dan keruh akibat erosi di pangkal sungai. Fasilitas umum rusak berat dan pondok wisata (homestay) kosong tanpa pengunjung,” kata Kepala Bidang Pariwisata Disparpora Aceh Tamiang, Thamrindu Lubis.
Ia juga membenarkan jatuhnya pendapatan masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) akibat lesunya sektor wisata pascabencana. Saat ini, destinasi yang masih aktif umumnya adalah wisata alam dari hulu hingga hilir, terutama air terjun dan pemandian pegunungan. Namun, kunjungan ke Gunung Pandan merosot drastis akibat longsor yang menutupi aliran sungai.
“Material batu menutupi sungai sehingga alirannya terpisah dan debit air menjadi kecil,” sebut Thamrindu. (ddh)
Tidak ada komentar