Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
apridar@usk.ac.id
Bencana dan Peluang
Akhir tahun 2025 menjadi catatan kelam bagi Aceh. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda pada November 2025 tidak hanya menimbulkan korban jiwa yang tragis, yaitu 502 orang meninggal dunia dan 31 orang masih dinyatakan hilang, tetapi juga menghancurkan sendi-sendi perekonomian masyarakat. Sebanyak 125.842 unit rumah rusak, 1.098 ruas jalan terputus, dan yang paling memilukan, 89.582 hektare lahan sawah terdampak, dengan 27.065 hektare di antaranya tidak bisa ditanami lagi karena tertimbun lumpur setinggi 1 hingga 1,5 meter. Kerugian sektor pertanian saja diperkirakan mencapai lebih dari Rp1 triliun.
Di tengah kepedihan itu, ada secercah harapan. Pemerintah Aceh melalui Dinas Pengairan merespons dengan program pengendalian banjir menyeluruh pada tahun 2026, termasuk di dalamnya rencana pembangunan dan rehabilitasi bendungan di berbagai titik, salah satunya di Peudada, Kabupaten Bireuen. Wacana memperbaiki Bendungan Aneuk Gajah Rhet di Gampong Lawang, Peudada, bukanlah hal baru. Proyek ini sebenarnya telah dimulai sejak 2017, namun hingga kini belum rampung. Kini, pascabencana, urgensi penyelesaiannya semakin mendesak.
Bendungan Aneuk Gajah Rhet: Solusi Irigasi Mendesak
Kecamatan Peudada adalah salah satu sentra produksi perikanan tangkap terbesar di Kabupaten Bireuen. Namun, sektor pertanian di wilayah ini juga sangat vital. Bupati Bireuen, H. Mukhlis ST, dalam berbagai kesempatan menyatakan keprihatinannya terhadap nasib petani Peudada. Lebih dari seribu hektare sawah di kecamatan ini sudah lebih dari satu tahun tidak bisa ditanami karena irigasi Hagu yang jebol dan hancur total diterjang banjir. Membangun kembali irigasi Hagu dari nol membutuhkan anggaran mencapai Rp100 miliar dan tidak akan maksimal karena perbedaan elevasi yang terlalu tinggi untuk menaikkan air ke sawah.
Solusi yang paling rasional adalah menyelesaikan pembangunan Bendungan Aneuk Gajah Rhet yang terletak di atas bendungan Hagu. Dengan elevasi yang lebih tinggi, bendungan ini akan mampu mengaliri air ke ribuan hektare sawah masyarakat di Kecamatan Peudada dan sekitarnya. Inilah mengapa bendungan ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan proyek penyelamat bagi ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Data dari Dinas Pengairan Aceh menunjukkan bahwa pada tahun 2026, target pembangunan jaringan irigasi permukaan di Bireuen mencapai 15 kilometer dengan anggaran sekitar Rp82,49 miliar, serta peningkatan jaringan irigasi permukaan dan rehabilitasi bendung yang juga menyasar Bireuen. Harapannya, bendungan Aneuk Gajah Rhet menjadi prioritas utama.
Potensi Wisata Syariah yang Terabaikan
Selain fungsi irigasinya yang krusial, Bendungan Aneuk Gajah Rhet menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Lokasinya yang dikelilingi perbukitan hijau nan estetik menjadikannya destinasi wisata alam yang sangat menjanjikan. Di era di mana wisata syariah menjadi pilar ekonomi Aceh, bendungan ini bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan alam yang terintegrasi.
Aceh memiliki potensi besar dalam pariwisata syariah. Situs-situs bersejarah, kuliner halal, dan wisata spiritual menjadi daya tarik utama. Namun, keterbatasan infrastruktur aksesibilitas masih menjadi kendala utama. Bendungan Aneuk Gajah Rhet yang saat ini akses jalannya masih berbatu dan becek, membutuhkan pembangunan jalan sekitar satu kilometer lagi agar tersambung dengan jalan aspal yang telah ada.
Jika akses jalan ini terbangun, bukan hanya sektor pertanian yang diuntungkan, tetapi juga sektor pariwisata. Wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan bendungan dan perbukitan sekitarnya akan membawa dampak ekonomi berlipat. Hotel-hotel syariah, restoran halal, dan fasilitas ramah keluarga dapat dibangun untuk mendukung ekosistem wisata syariah. PHRI Aceh bahkan menargetkan Aceh sebagai destinasi halal unggulan di tingkat nasional dan internasional, dengan transformasi digital dan peningkatan kompetensi SDM berbasis syariah.
Sentra Distribusi Pertanian dan Penggerak Ekonomi
Kehadiran akses jalan yang memadai akan mengubah Bendungan Aneuk Gajah Rhet menjadi sentra distribusi air sekaligus pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Hasil panen jagung, kelapa, sawit, tebu, dan berbagai sayuran dari wilayah pedalaman Peudada akan lebih mudah dibawa ke pasar. Selama ini, petani di wilayah ini menghadapi kendala akses transportasi yang sangat berat. Jembatan darurat dari bambu dan jalan rusak membuat biaya logistik melonjak dan hasil panen sering terlambat sampai ke pasar.
Hadirnya jalan aspal yang tersambung ke kawasan bendungan akan memecahkan masalah ini. Nelayan di Peudada yang juga menjadi salah satu sentra perikanan tangkap terbesar di Bireuen akan merasakan manfaatnya. Hasil tangkapan ikan yang selama ini terkendala akses ke cold storage dan pasar, kini akan lebih mudah didistribusikan. Ini sejalan dengan temuan penelitian bahwa keberlanjutan nelayan di Bireuen sangat bergantung pada peningkatan penjualan hasil tangkapan dan partisipasi dalam kegiatan peningkatan pengetahuan.
Sinergi PRITIA untuk Pemulihan dan Kemajuan
Model PRITIA yang digagas oleh Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si, mengajarkan bahwa pembangunan yang optimal terjadi ketika karakter manusia (PRI) positif dikalikan dengan teknologi, investasi, dan aset . Penerapan model ini dalam konteks Bendungan Aneuk Gajah Rhet berarti: Pertama PRI Positif: Pemerintah daerah, kontraktor, dan masyarakat harus memiliki karakter disiplin, jujur, dan adil. Proyek yang telah terbengkalai sejak 2017 harus segera diselesaikan tanpa korupsi dan tanpa penundaan.
Kedua Teknologi (T): Penggunaan teknologi tepat guna dalam pembangunan irigasi dan monitoring debit air, serta digitalisasi pemasaran hasil pertanian dan perikanan. Ketiga Investasi (I): Anggaran pemerintah dan potensi investasi swasta untuk pembangunan infrastruktur jalan, hotel syariah, dan fasilitas wisata. Keempat Aset (A): Pemanfaatan optimal sumber daya alam lahan pertanian subur, laut kaya ikan, dan keindahan alam bendungan sebagai aset produktif.
Bencana banjir bandang telah mengajarkan kita bahwa infrastruktur pengairan yang tangguh adalah benteng pertahanan pertama menghadapi bencana hidrometeorologi. Namun, lebih dari itu, infrastruktur yang dibangun dengan visi jangka panjang yang mengintegrasikan fungsi irigasi, pariwisata, dan ekonomi adalah kunci pemulihan dan kemajuan Aceh.
Momentum Kebangkitan
Bencana bukanlah akhir segalanya. Dalam setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Bendungan Aneuk Gajah Rhet adalah simbol dari kebangkitan itu. Penyelesaian proyek ini bukan hanya tentang mengalirkan air ke sawah, tetapi juga mengalirkan kehidupan baru bagi ekonomi masyarakat Pedada. Dengan akses jalan yang baik, potensi wisata syariah yang diintegrasikan dengan sentra pertanian dan perikanan, maka Aceh akan menunjukkan bahwa ia mampu bangkit dari puing-puing bencana menuju kemakmuran yang lebih baik.
Pemerintah Aceh, Dinas Pengairan, dan seluruh pemangku kepentingan harus menjadikan momen ini sebagai momentum untuk menyelesaikan proyek yang sudah terlalu lama tertunda. Masyarakat Peudada menanti air mengalir kembali ke sawah-sawah mereka. Dan dunia menanti Aceh menjadi destinasi wisata syariah yang mendunia. Bendungan Aneuk Gajah Rhet adalah awal dari semua itu.
Tidak ada komentar