Foto ilustrasi : Petani memanen padi di ladang pascabencana banjir pada akhir 2025 lalu di Samarkilang, Aceh Tengah. (FIRHAN FARABI/RAKYAT ACEH)RAKYAT ACEH | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh terus mempercepat pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dikoordinasikan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh bersama Kementerian Pertanian.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), menilai kinerja Distanbun Aceh menunjukkan hasil yang positif. Hal itu disampaikan melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr. Nurlis Effendi.
Salah satu capaian yang telah diwujudkan adalah dimulainya kembali gerakan tanam padi di lahan yang telah dipulihkan. Gerakan tanam perdana pascabencana diresmikan Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, mewakili Gubernur Mualem di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan di Bireuen, Aceh Utara, dan sejumlah kabupaten lainnya.
Keberhasilan pelaksanaan program tersebut juga berdampak pada meningkatnya dukungan anggaran dari Kementerian Pertanian. Bantuan yang semula sebesar Rp380 miliar pada tahap pertama meningkat menjadi Rp515 miliar pada tahap kedua.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanbun Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, melaporkan bencana hidrometeorologi berdampak pada 57.485 hektare sawah, terdiri atas 27.437 hektare rusak ringan ini, program optimasi lahan dan rehabilitasi telah menjangkau sekitar 40.852 hektare. Sementara sekitar 16.633, 13.651 hektare rusak sedang, 16.276 hektare rusak berat, serta 120 hektare sawah yang hilang.
Hingga saat ini, program optimasi lahan dan rehabilitasi telah menjangkau sekitar 40.852 hektare. Sementara sekitar 16.633 hektare lahan dengan kategori rusak berat dan sawah yang hilang masih memerlukan penanganan.
Nurlis menjelaskan rehabilitasi sawah dilaksanakan Kementerian Pertanian bersama Distanbun Aceh dan dinas pertanian kabupaten/kota di wilayah terdampak.
“Beliau juga mengapresiasi Plt. Kepala Distanbum Aceh beserta jajaran sampai kabupaten/kota yang terus bekerja secara maksimal,” katanya, Rabu (22/7).
Menurut Nurlis, Gubernur Mualem juga menginstruksikan Distanbun Aceh untuk terus bekerja keras meningkatkan kesejahteraan petani terdampak sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Baik itu dengan Kementan, Satgas PRR Kemendagri, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, TNI, Polri, serta berbagai pihak terkait guna memastikan seluruh program berjalan sesuai target.”
Gubernur Mualem berharap percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya memulihkan lahan pertanian, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani di seluruh wilayah terdampak.
Saat ini, berbagai program pemulihan terus berjalan, meliputi optimasi lahan sawah rusak ringan seluas 27.071 hektare, rehabilitasi sawah rusak sedang seluas 13.781 hektare, pembangunan 641 unit irigasi perpompaan, 149 unit irigasi perpipaan, 45 bangunan konservasi, 300 jaringan irigasi tersier, serta 106 unit Jalan Usaha Tani (JUT).
Secara keseluruhan, realisasi keuangan seluruh program rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian terdampak bencana hidrometeorologi telah mencapai 48,48 persen hingga 21 Juli 2026. (fir/min)
Tidak ada komentar