
RAKYAT ACEH | ACEH TAMIANG – Alarm merah berbunyi bagi kedaulatan pangan di Tanah Rencong. Rencana masuknya investor raksasa asal Tiongkok ke sektor budidaya ayam petelur memicu perlawanan sengit. Para peternak lokal yang selama ini menjadi tulang punggung daerah meradang, khawatir modal asing bakal menjadi “eksekutor” bagi usaha rakyat yang tengah merangkak naik.

Ketua Asosiasi Peternak Petelur Sumatera Utara (P3SU), Drh. Fadhillah Boy, buka suara dengan nada getir. Putra asli Pidie ini menegaskan bahwa secara fundamental, pasar telur saat ini justru sedang mengalami oversupply atau kelebihan produksi.
“Nasional maupun regional sedang banjir telur. Produksi sudah melampaui kebutuhan, bukan kurang. Di Aceh sendiri, produksi sudah menyebar merata dari Aceh Tamiang, Lhokseumawe, hingga Aceh Barat,” tegas Fadhillah di Aceh Tamiang, Jumat 15 Mei 2026.
Modal Asing Memaksa Masuk
Menurut Fadhillah, memaksakan investasi asing masuk ke pasar yang sudah jenuh adalah kebijakan yang “bunuh diri” bagi ekonomi daerah. Ia menilai peternak kecil dan menengah bakal menjadi korban pertama jika harus beradu mekanik dengan modal raksasa dari Negeri Tirai Bambu.
Ia menekankan bahwa pengusaha lokal bukan tidak mampu bersaing, namun mereka butuh “karpet merah” berupa kemudahan izin dan kebijakan yang memihak, bukan justru tekanan kompetisi dari luar.
“Jangan paksa investasi asing masuk jika hanya akan menciptakan ketimpangan. Kami tidak anti-asing, kami hanya menjaga kedaulatan ekonomi daerah agar peternak lokal tetap berdaya,” tambahnya.
Ketimbang memanjakan investor ayam petelur, Fadhillah menyodorkan solusi cerdas: Pemerintah seharusnya fokus mendorong budidaya jagung. Memanfaatkan lahan tidur Aceh untuk pakan ternak dinilai jauh lebih mendesak demi memangkas biaya produksi dan mengerek kesejahteraan masyarakat secara mandiri.
Wakil DPRK: Jangan Matikan Usaha Rakyat
Suara penolakan juga menggema dari kursi legislatif. Syaiful Bahri SH MH, Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang sekaligus pengusaha peternakan, meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap realitas lapangan.
“Jangan sampai kebijakan yang diambil justru menjadi ‘lonceng kematian’ bagi usaha masyarakat sendiri,” cetus pria yang akrab disapa Bang Syaiful Gowa tersebut.
Politisi Gerindra ini memamerkan bukti nyata kekuatan lokal. Di Aceh Tamiang saja, produksi telur sudah menembus angka puluhan ribu butir per hari. Bahkan, target populasi ratusan ribu ekor sedang dibidik dalam waktu dekat.
Syaiful mengajak seluruh elemen petani dan peternak untuk solid belajar mandiri. Baginya, telur adalah kebutuhan pokok rakyat yang harus dikuasai oleh tangan rakyat sendiri, bukan diserahkan ke pihak asing.
“Kita bangun Aceh bersama-sama, dengan kekuatan sendiri,” pungkasnya. (ddh)
Tidak ada komentar