Ilustrasi, seorang warga melakukan transaksi penukaran valuta asing di PT Sotek Tukapenk Money Changer, Banda Aceh, Jumat (5/6). Transaksi valas di sejumlah money changer di Banda Aceh dilaporkan turun hingga 50 persen akibat tingginya nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah. (Septi Iklima Fadila Santi/rakyat aceh).RAKYAT ACEH | BANDA ACEH – Penguatan sejumlah mata uang asing terhadap rupiah berdampak pada menurunnya aktivitas jual beli valuta asing (valas) di sejumlah money changer di Banda Aceh. Dalam beberapa bulan terakhir, transaksi penukaran mata uang asing bahkan dilaporkan turun hingga 50 persen.

Pemilik PT Kutaraja Money Changer, Bahrum Syah, mengatakan penurunan transaksi mulai terasa sejak pertengahan Mei 2025 dan terus berlanjut hingga saat ini. Menurutnya, kenaikan nilai tukar yang terjadi pada hampir seluruh mata uang asing membuat masyarakat cenderung menunda penukaran uang.
“Turunnya lebih dari 50 persen. Bukan cuma dolar Amerika Serikat saja yang naik, hampir semua mata uang, dolar Singapura Ringgit Malaysia, dan lainnya. Penurunan transaksi valas mulai terasa sekitar pertengahan Mei lalu dan sampai sekarang masih menurun,” kata Bahrum saat ditemui, Jumat (5/6).
Ia menjelaskan, mata uang yang paling banyak diperdagangkan masyarakat Aceh adalah Ringgit Malaysia. Namun, tingginya nilai tukar Ringgit saat ini justru membuat transaksi jual beli mata uang tersebut mengalami penurunan signifikan.
Menurut Bahrum, nilai tukar Ringgit Malaysia saat ini berada pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Ringgit sekarang sudah sangat tinggi. Dalam sejarah yang kami alami, biasanya paling tinggi sekitar Rp4.500-an. Sekarang sudah jauh di atas itu,” ujarnya.
Selain Ringgit Malaysia, mata uang yang cukup banyak diperdagangkan adalah Baht Thailand. Namun, transaksi untuk mata uang tersebut juga mengalami pelemahan seiring kenaikan nilai tukar berbagai mata uang asing terhadap rupiah.
Ia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari ketidakpastian ekonomi global, termasuk dampak konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi harga minyak dunia dan pergerakan nilai tukar berbagai mata uang.
Meski demikian, Bahrum berharap aktivitas penukaran uang kembali meningkat saat memasuki masa libur sekolah yang biasanya diikuti meningkatnya perjalanan masyarakat ke luar negeri.
“Kita lihat nanti saat libur sekolah. Biasanya daya beli masyarakat meningkat pada masa liburan,” katanya.
Kondisi serupa juga dirasakan PT Sotek Tukapenk Money Changer. Direktur Utama perusahaan tersebut, Syarifah Salwa, mengatakan transaksi jual beli valuta asing di tempat usahanya turun hampir 50 persen dibandingkan kondisi normal.
“Transaksi turun sekali. Hampir 50 persen. Hampir semua mata uang mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Menurut Salwa, tingginya nilai tukar mata uang asing membuat masyarakat berpikir ulang untuk membeli valas. Meski demikian, sebagian masyarakat tetap melakukan penukaran karena kebutuhan yang tidak bisa ditunda, terutama untuk berobat ke Malaysia maupun membiayai pendidikan anak di luar negeri.
“Kalau untuk berobat tetap harus beli Ringgit karena memang kebutuhannya ada. Begitu juga yang anaknya sekolah di luar negeri,” katanya.
Ia mengungkapkan penurunan transaksi sebenarnya telah mulai dirasakan sejak tahun lalu dan kini mencapai titik yang cukup berat bagi industri penukaran valuta asing.
“Semenjak kami buka sebelum tahun 2000, ini salah satu kondisi yang paling berat setelah masa Covid-19. Waktu Covid memang lebih parah karena aktivitas hampir berhenti total, tetapi sekarang pun transaksi sangat rendah,” ujarnya.
Meski menghadapi kondisi sulit, pihaknya tetap mempertahankan operasional usaha dengan menyediakan stok mata uang yang dibutuhkan masyarakat.
“Kami tetap harus buka dan operasional harus berjalan. Harapannya kondisi kembali normal sehingga transaksi bisa pulih lagi,” kata Salwa.
Berdasarkan data kurs pada 5 Juni 2025 pukul 10.35 WIB, nilai tukar Ringgit Malaysia tercatat sebesar Rp4.470,22 per Ringgit, dolar Amerika Serikat Rp18.030,98 per dolar, dolar Singapura Rp14.027,80 per dolar, Baht Thailand Rp551,54 per Baht. (sep/min)
Tidak ada komentar