x

Muhammad Alfaruq Addawami Jemaah Haji Termuda Aceh, Berangkat Gantikan Almarhum Ayah

waktu baca 3 menit
Rabu, 20 Mei 2026 19:22 59 redaksi

BANDA ACEH | RAKYAT ACEH — Di antara ribuan jemaah haji Aceh tahun ini, sosok Muhammad Alfaruq Addawami mencuri perhatian.
Remaja asal Dusun Uning Gelime, Kampung Wih Pesam, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah itu tercatat sebagai jemaah termuda Kloter 14 sekaligus termuda se-Aceh dengan usia 15 tahun.

Namun, perjalanan Faruq menuju Tanah Suci bukan sekadar tentang usia muda. Di balik keberangkatannya, tersimpan kisah haru tentang amanah seorang ayah yang kini ia lanjutkan.
Faruq berangkat haji tahun ini menggantikan almarhum ayahnya, Teungku Alhukama, yang meninggal dunia pada 2021. Sang ayah bersama ibundanya, Nur Hayati, telah mendaftar haji sejak 2012 dengan harapan dapat berangkat bersama setelah masa tunggu bertahun-tahun.

“Pertama kali dikasih tahu bahwa dipanggil berangkat haji tahun ini sekitar awal tahun. Perasaan saya senang, sedih, dan terharu,” ujar Faruq saat ditemui di Embarkasi Haji Banda Aceh, Selasa (19/5).

Di usianya yang masih sangat muda, Faruq mengaku telah mempersiapkan diri dengan menjaga kesehatan dan mengikuti manasik haji. Santri kelas 4 di Dayah Darul Khairat Bireuen atau setara kelas 1 SMA itu berharap perjalanan hajinya menjadi titik perubahan dalam hidupnya.

“Doanya ingin berubah jadi lebih baik dari sekarang. Semoga ilmu yang dipelajari bermanfaat. Untuk ayah, semoga kuburannya diluaskan dan masuk surga,” katanya lirih.
Faruq merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ia juga menyimpan cita-cita sederhana namun besar, yakni menjadi ulama. “Cita-cita jadi ulama,” ujarnya singkat.
Sementara itu, sang ibu, Nur Hayati (51), mengaku keberangkatan tahun ini menghadirkan dua perasaan sekaligus: bahagia dan sedih.

“Senang karena akhirnya bisa berangkat setelah menunggu belasan tahun. Tapi sedih juga, karena saat waktu berangkat tiba, ayahnya sudah meninggalkan kami,” tuturnya.
Ia mengaku bersyukur karena amanah itu kini diteruskan oleh anaknya. Meski demikian, melepas Faruq yang masih sangat muda untuk menjalani ibadah fisik yang berat juga menjadi tantangan tersendiri baginya sebagai ibu.

“Harapannya, dengan berangkat lebih muda, dia jadi lebih semangat belajar, memperbaiki akhlak, dan menjadi anak saleh yang ilmunya bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, umat, dan negara,” katanya.

Nur Hayati menceritakan, dulu dirinya dan sang suami sengaja mendaftarkan haji lebih awal karena percaya ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik yang baik. Saat itu, mereka mendapat informasi masa tunggu sekitar 12 tahun. Namun takdir berkata lain, keberangkatan baru terealisasi setelah 14 tahun menunggu.
“Kami dulu berharap daftar berdua, berangkat juga berdua. Tapi Allah menentukan yang lain,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Keputusan menunjuk Faruq menggantikan sang ayah juga dibicarakan secara terbuka dalam keluarga. Dua kakak Faruq yang kini sedang kuliah disebut menerima keputusan tersebut dengan ikhlas.

“Kami bicara dari hati ke hati. Alhamdulillah kakak-kakaknya mendukung dan menyerahkan yang terbaik,” katanya.
Nur Hayati juga mengenang almarhum suaminya sebagai sosok yang sangat memikirkan masa depan anak-anak. Bahkan, menurutnya, sang suami telah merencanakan agar seluruh anak mereka didaftarkan haji sejak usia muda.

“Beliau berpikir ibadah ini perlu kesehatan dan kesiapan fisik. Jadi anak-anak direncanakan daftar sejak kecil. Tinggal yang bungsu lagi yang belum karena masih menunggu usia 12 tahun,” ujarnya.

Bagi Nur Hayati, keberangkatan Faruq bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari cita-cita dan amal jariah almarhum suaminya yang terus hidup.
“Semoga apa yang beliau rencanakan dicatat Allah sebagai amal jariah dan beliau terus menerima pahalanya,” tutupnya. (Sep)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x