x

SDM Mumpuni, Infrastruktur Utama Penguatan Wisata Halal di Aceh

waktu baca 6 menit
Selasa, 28 Apr 2026 15:00 91 redaksi

Oleh: Prof Dr. Apridar, S.E., M. Si.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

apridar@usk.ac.id

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia baru saja meluncurkan Wonderful Indonesia Awards 2026 dengan kategori spesifik Local Hero in Tourism atau Pejuang Pariwisata. Ajang bergengsi ini merupakan bentuk perhatian serius terhadap fondasi sumber daya manusia yang selama ini mungkin kurang mendapat sorotan, padahal letaknya di garda terdepan pengalaman wisatawan. Dengan kelima fokus utamanya yang mencakup kualitas destinasi hingga sumber daya manusia, jelas arah kebijakan pariwisata nasional sedang bergeser. Bagi Aceh, sudah waktunya kita tidak sekadar terseret arus perubahan, tetapi harus menjadi aktor utamanya.

 

Kabar baiknya, secara kuantitas wisatawan, paruh tahun pertama 2026 terhitung menjanjikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Aceh selama periode Januari-Desember 2025 mencapai 46.325 kunjungan. Ini adalah peningkatan yang sangat signifikan, yaitu sebesar 35,86 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.

 

Aceh juga sudah memiliki infrastruktur keras yang cukup mumpuni. Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, saat ini kita telah memiliki lebih dari 830 hotel bintang dan non-bintang serta 2.335 restoran dan rumah makan. Sebuah jumlah yang tidak sedikit untuk menyokong kebutuhan akomodasi wisatawan yang terus menanjak. Belum lagi platform wisata religi seperti Masjid Raya Baiturrahman dan Museum Tsunami yang selalu menjadi magnet utama. Lantas, apa kekurangannya? Kuncinya ada pada kualitas layanan.

 

Saat ini, gap terbesar yang kita hadapi bukan lagi pada bangunan megah, tetapi pada kesenjangan antara infrastruktur yang sudah jadi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengoperasikannya secara profesional sekaligus Islami. Kabar baiknya, perubahan sedang terjadi. Bertepatan dengan gelora Indonesia Emas 2045 dan dorongan akselerasi pariwisata nasional, kita mulai melihat titik terang dalam penguatan SDM hospitality tahan banting di Aceh.

 

Salah satu bukti nyata adalah inisiasi program vokasi lintas sektor. Baitul Mal Aceh bekerja sama dengan International Tourism College (ITC) Aceh telah memberangkatkan 17 mahasiswa beasiswa ke Malaysia untuk menjalani pendidikan vokasi dan program magang di hotel-hotel berbintang di Kuala Lumpur. Pada program gelombang berikutnya, ke-4 mahasiswa tersebut tidak hanya belajar, tetapi langsung menyerap know-how manajemen perhotelan modern di negeri orang, sekaligus menerima penghasilan 1.700 Ringgit per bulan dari pihak hotel. Sebuah sistem yang tidak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga mengubah pola pikir anak daerah menjadi pelaku ekonomi global. Peserta bahkan telah mengenyam pendidikan satu tahun penuh di ITC Aceh terlebih dahulu, memastikan mereka memiliki fondasi keilmuan yang kuat sebelum memantapkan karier di level internasional.

 

Tidak hanya itu, inovasi ground-breaking juga dilakukan di dataran tinggi Gayo. Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah bersama Visigo Academy tengah menjalankan program vokasi bagi warga kurang mampu dengan menyediakan biaya pendidikan penuh dan uang saku selama dua semester. Peserta akan mendapatkan pelatihan intensif di bidang pariwisata dan perhotelan serta diberangkatkan magang hingga ke Malaysia dan Taiwan, membuka peluang kontrak kerja langsung. Ini adalah langkah cerdas karena persoalan kesejahteraan pelaku pariwisata adalah fondasi dari pelayanan berkualitas. Sebab seorang guide yang sejahtera atau pelayan hotel yang digaji layak, akan serta merta bekerja dengan hati dan keramahan yang tiada duanya.

 

Sayangnya, hierarki kebutuhan SDM pariwisata seringkali terbalik. Banyak pelatihan hanya di permukaan, padahal akar masalahnya terletak pada literasi keuangan dan jaminan hidup. Untuk mengatasi hal ini, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Aceh telah menggelar forum strategis dengan mengusung tema “Transformasi Digital dan Peningkatan Kompetensi SDM Aceh dalam Mewujudkan Pelayanan Berbasis Syariah dan Ramah Wisatawan”. Forum ini menjadi ajang penting untuk merumuskan arah baru pariwisata Aceh di mana digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan untuk efisiensi, transparansi, dan kualitas layanan.

 

Momentum strategis besar yang akan menguji kesiapan SDM Aceh sekaligus membuka peluang emas adalah kedatangan Islami Cruise 2026. Kapal pesiar bertema wisata halal ini akan berlabuh di Banda Aceh dalam dua gelombang pada awal tahun 2026, membawa ribuan wisatawan mancanegara untuk menikmati pesona dan keunikan budaya Aceh. Para wisatawan yang diperkirakan mencapai 3.000 orang akan diajak menikmati destinasi unggulan seperti Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami Aceh, PLTD Apung, dan Museum Aceh. Di sinilah letak ujian sebenarnya bagi SDM local yaitu para pemandu wisata, staf hotel, pelaku UMKM kuliner, dan seluruh rantai layanan pariwisata Aceh.

 

Kita patut berbahagia karena Pemerintah Aceh melalui Disbudpar saat ini tengah menyusun Roadmap Pengembangan Destinasi Wisata Halal secara serius. Selain membentuk Tim Percepatan Wisata Halal, mereka juga memfokuskan pada penyiapan SDM pelaku wisata yang kompeten dan berdaya saing. Targetnya jelas: mewujudkan wisata halal di Aceh yang tidak hanya memenuhi prinsip-prinsip syariah, tetapi juga mampu memberikan pengalaman wisata yang menarik, otentik, dan berkelas dunia.

 

Aceh memiliki keunggulan kompetitif alami sebagai “Serambi Mekkah” yang secara institusional menerapkan nilai-nilai syariah dalam keseharian. Ini adalah modal besar yang tidak dimiliki daerah lain. Namun tanpa SDM yang mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam standar layanan kelas dunia, keunggulan itu akan sia-sia. Sehingga penguatan literasi kebudayaan khususnya menjadi suatu keharusan.

 

Sederhananya, penguatan infrastruktur SDM ini adalah “Local Hero” yang sesungguhnya. Program magang ke luar negeri itu bukan sekadar urusan naik pesawat, melainkan transfer teknologi sosial dan etos kerja. Ketika para pemuda Aceh yang kembali dari magang di hotel bintang lima Kuala Lumpur mulai menerapkan “greeting standards” yang Islami namun tetap hangat di hotel-hotel Banda Aceh, di situlah transformasi terjadi. Wonderland Indonesia Award 2026 untuk kategori Pejuang Pariwisata bukan sekadar trofi, tetapi panggilan bagi kita semua. Mari dukung gerakan penguatan SDM pariwisata sebagai pilar pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045, karena hanya dengan sumber daya manusia yang unggul dan profesional-lah Aceh akan benar-benar bersinar sebagai destinasi wisata halal dunia.

 

Semoga Aceh yang dikenal sejak kejayaan Sultan Malikussaleh sebagai daerah yang sangat terbuka dan ramah terhadap pengunjung tercermin dari nilai-nilai budaya Pemulia Jamee (Memuliakan Tamu) dan jadi salah satu falsafah hidup orang Aceh.

 

Dalam hadih maja “Meunyoe na jamee teuka, teumpat geuduek, ranup dong sigrak” Artinya: Kalau ada tamu datang, siapkan tempat duduk, sajikan sirih secepatnya.  Tamu dianggap pembawa rezeki dan berkah. Menolak atau mengabaikan tamu justru dianggap tabu dalam adat.

 

Bukti Keterbukaan Aceh Secara Sejarah Bandar Internasional sejak abad ke-7: Barus, Lamuri, lalu Bandar Aceh Darussalam jadi pelabuhan penting di Jalur Rempah. Pedagang Arab, Persia, Gujarat, Cina, Turki bebas masuk dan menetap.Diplomasi global yaitu Sultan Iskandar Muda kirim duta ke Turki Utsmani, Inggris, Belanda. Kerajaan Aceh terbuka kerja sama, bukan daerah tertutup. Penerimaan pengungsi, dimana Aceh terima pengungsi Rohingya, pengungsi Vietnam era 1970-an, dan relawan dunia saat tsunami 2004. Masyarakat buka rumah dan dapur umum tanpa diminta.

 

Penulis adalah Pemerhati Pariwisata dan Ekonomi Syariah Aceh

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x