Empat tentara Israel melakukan patroli di dataran tinggi Golan. AFP/JALAA MAREYRAKYAT ACEH | TEL AVIV – Kalangan oposisi di Israel menuduh pemerintahan Benjamin Netanyahu sedang membawa negaranya menuju sebuah “bencana keamanan” akibat jumlah tentara yang tidak memadai. Kekuatan sumber daya manusia IDF saat ini dinilai tak akan mampu meladeni serangan dari beberapa front.

“IDF telah menjangkau melebihi batasnya. Pemerintah meninggalkan pasukan yang terluka di medan peran,” ujar tokoh oposisi Yair Lapid, dikutip TRT World, Kamis (26/3).
Pernyataan Lapid itu merujuk pada taklimat yang diberikan Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir di rapat kabinet yang menyebut pihaknya kekuarangan prajurit di medan perang. Media Israel mengutip Zamir yang mengatakan bahwa “IDF di ambang menuju kolaps”.
“Pemerintah mengirim tentara ke perang multi-front tanpa strategi, tanpa cara yang jelas, dan dengan jumlah tentara yang terlalu sedikit,” kata Lapid.
Menurut Lapid, Zamir mengungkap di rapat kabinet bahwa para tentara reservis saat ini melakoni enam sampai tujuh rotasi penugasan. Akibatnya, banyak prajurit yang kelelahan dan tak bisa lagi menghadapi tugas berat mengamankan Israel.
Lapid menyerukan dimulainya perekrutan dari komunitas ultra-Orthodox Haredi community, yang mana sejak berdirinya negara Israel pada 1948, telah dikecualikan dari wajib militer. Berdasarkan aturan, kaum ultra-Orthodox Heredi yang mendedikasikan dirinya untuk mempelajari teks Yahudi diperbolehkan tidak mengikuti wajib militer.
“Pemerintah harus berhenti menjadi pengecut, segera setop semua pendanaan bagi para Heredi yang menghindari wajib militer, rekrut mereka tanpa ragu,” kata Lapid.
Mengomentari masalah IDF yang kekurangan tentara, juru bicara Brigadir Jenderal Effie Defrin mengatakan, “lebih banyak prajurit perang diperlukan” di front terdepan peperangan, khususnya di Lebanon.
“Di front Lebanon, zona pertahanan yang kami bentuk membutuhkan pasukan tambahan IDF,” kata Defrin, sembari menyebut peningkatan kebutuhan prajurit untuk wilayah Tepi Barat, Gaza, dan Suriah.
IDF bisa kolaps
Dalam rapat kabinet terkahir, Eyal Zamir dilaporkan media Israel mengingatkan bahwa militer Israel akan “kolaps dengan sendirinya,” saat mereka menghadapi peningkatan perlawanan dari Hizbullah di Lebanon. “Saya mengibarkan 10 bendera merah sebelum anda,” kata Zamir kepada para menteri, menurut laporan Channel 13.
“IDF saat ini butuh undang-undang wajib militer, undang-undang kewajiban penugasan militer, dan undang-undang yang memperpanjang kewajiban penugasan militer,” kata Yamir.
“Tak lama lagi, IDF tidak akan siap untuk menjalani misi rutin dan sistem perekrutan tidak akan bisa bertahan.”
Israel telah membuka perang multi-front di Timur Tengah dengan menyerang Iran, Lebanon, dan Gaza, dan sesekali mengebom wilayah Suriah. Pada Kamis, dua prajurit IDF tewas dalam misi invasi di selatan Lebanon.
Total, empat prajurit IDF tewas terbunuh. Hizbullah menyatakan, melancarkan serangkaian operasi penyergapan atas pasukan Israel dan menghancurkan beberapa tank Merkava. (rol/hra)
Tidak ada komentar