RDP KUR: Komisi III DPRK Aceh Tamiang menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan pihak perbankan yang beroperasi Aceh Tamiang membahas program KUR dan dana stimulan banjir di gedung DPRK setempat, Rabu (8/4/2026). DEDE/RAKYAT ACEHRAKYAT ACEH | ACEH TAMIANG – Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang kembali menyoroti insiden pengusiran wartawan saat pelaksanaan santunan 5.000 anak yatim dan wakaf Al Quran yang diselenggarakan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk di Huntara 1 Kampung Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, beberapa waktu lalu.

Ketua Komisi III DPRK Aceh Tamiang Maulizar Zikri di Aceh Tamiang, Rabu, menyayangkan aksi pengusiran yang diduga dilakukan oleh pihak penyelenggara acara (event organizer) terhadap jurnalis yang hadir memenuhi undangan resmi manajemen BSI Pusat dan BSI Aceh.
“Kegiatan sosial ini sangat baik, namun sangat disayangkan ternoda oleh insiden di lapangan terhadap wartawan. Kami berharap profesionalisme tetap dijaga agar tidak merusak citra kemitraan,” kata Maulizar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama pihak BSI.
Ia menyebutkan salah satu jurnalis yang menjadi korban pengusiran adalah Rahmad Wiguna dari harian Serambi Indonesia. Rahmad hadir ke lokasi atas permintaan langsung pihak BSI Pusat untuk meliput kegiatan religi tersebut, namun justru mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari panitia lokal.
Jurnalis yang akrab disapa Igun ini menyatakan bahwa kehadirannya merupakan bentuk komitmen profesional terhadap undangan yang diterima.
“Kami diundang langsung oleh BSI Pusat. Kami datang karena menghargai undangan itu. Jika tahu akan diperlakukan seperti ini, tentu kami lebih memilih mengerjakan agenda liputan lain,” ujar Rahmad kala itu.
Sementara itu, pihak BSI dalam RDP tersebut mengaku tidak mengetahui secara pasti kronologi insiden pengusiran tersebut. Perwakilan BSI Kualasimpang menjelaskan bahwa saat kejadian, sebagian besar staf bersiaga di kantor cabang guna mempersiapkan rencana kunjungan Direktur Utama BSI.
“Kami mendengar informasi itu melalui pemberitaan, namun tidak mengetahui kronologinya secara detail karena saat itu tim fokus bersiaga di kantor menyambut rencana kunjungan pimpinan pusat,” kata perwakilan BSI tersebut.
Maulizar menekankan agar koordinasi antara penyelenggara pusat dan tim pelaksana di tingkat tapak dievaluasi kembali agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Menurutnya, sinergi yang buruk di lapangan dapat merusak pesan positif dari kegiatan yang dijalankan perusahaan. (ddh)
Tidak ada komentar