x

Dari Pedalaman Aceh Tamiang, Jembatan Gantung Perintis Garuda Putuskan Isolasi Puluhan Tahun

waktu baca 2 menit
Sabtu, 30 Mei 2026 21:17 1 redaksi

LHOKSEUMAWE | RAKYAT ACEH– Di tengah hamparan sungai dan rimbunnya pedalaman Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, sebuah jembatan kini berdiri megah membelah keterisolasian yang selama puluhan tahun membelenggu warga. Namanya Jembatan Gantung Perintis Garuda, infrastruktur yang bukan sekadar penghubung dua desa, tetapi juga simbol harapan baru bagi masyarakat di wilayah terpencil Aceh.

 

Jembatan sepanjang 240 meter itu resmi menghubungkan Desa Sekerak Kiri dan Desa Bandar Mahligai, membuka akses yang selama ini hanya bisa ditempuh melalui perahu kayu atau jalur darat memutar hingga dua jam perjalanan.

 

Kini, perjalanan yang dahulu penuh risiko cukup ditempuh sekitar lima menit.

 

Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, Brigjen TNI Ali Imran, menyebut jembatan tersebut sebagai jembatan gantung terpanjang di Indonesia yang dibangun untuk kepentingan masyarakat pedalaman.

 

“Puluhan tahun masyarakat di daerah ini belum memiliki akses jembatan yang layak. Kehadiran jembatan ini menjadi solusi nyata bagi keselamatan, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi warga,” ujar Brigjen Ali Imran, dalam keterangannya kepada Rakyat Aceh, Sabtu (29/5).

 

Jembatan dengan kapasitas beban hingga 400 kilogram itu dibangun sebagai tindak lanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto dalam percepatan pemulihan infrastruktur pasca banjir di Aceh. Proyek tersebut dikerjakan melalui kolaborasi TNI Angkatan Darat bersama berbagai pihak sebagai bagian dari program pemulihan konektivitas wilayah terpencil.

 

Bagi masyarakat setempat, jembatan ini bukan sekadar proyek fisik. Ia menjadi jawaban atas kecemasan panjang yang selama bertahun-tahun dirasakan warga setiap kali harus menyeberangi sungai deras menggunakan boat kayu sederhana.

 

Anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.

 

Lutvia Monisa (12), siswi MIN 7 Aceh Tamiang, mengaku kini dapat berangkat ke sekolah tanpa rasa takut seperti sebelumnya.

 

“Sekarang lebih mudah ke sekolah, tidak perlu naik boat lagi. Terima kasih TNI dan Pak Presiden sudah membangun jembatan untuk kami,” ucapnya dengan mata berbinar.

 

Cerita Lutvia menggambarkan wajah lain pembangunan infrastruktur, bukan hanya tentang beton dan baja, tetapi tentang akses pendidikan, keselamatan, dan masa depan generasi muda di daerah terpencil.

 

Pembangunan Jembatan Gantung Perintis Garuda juga menjadi bagian dari program besar pemulihan pasca bencana di wilayah kerja Korem 011/Lilawangsa. Tercatat, sebanyak 252 titik jembatan ditargetkan dibangun maupun direhabilitasi di berbagai wilayah Aceh.

 

Hingga Mei 2026, sebanyak 108 jembatan telah rampung 100 persen, terdiri dari jembatan Bailey, Aramco, jembatan gantung, hingga jembatan beton permanen. Sementara sisanya masih dalam tahap pembangunan dan perencanaan.

 

Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mempercepat konektivitas antarwilayah sekaligus membuka akses ekonomi masyarakat pedalaman yang selama ini tertinggal akibat keterbatasan infrastruktur. (arm/ra)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x