x

Hilirisasi Gas KEK Arun Dilirik Korporasi

waktu baca 2 menit
Rabu, 15 Jul 2026 05:53 3 redaksi

RAKYAT ACEH | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh melaporkan sejumlah korporasi (termasuk BUMN) mulai melirik hilirisasi migas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, Aceh, meski proyek cadangan gas raksasa di lepas pantai Aceh (Blok Andaman) masih berproses.

“Semoga membawa kebaikan dan kemakmuran bagi Aceh,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Selasa (14/7).
Nurlis mengatakan, pemerintah Aceh membuka peluang selebar-lebarnya bagi setiap investor untuk masuk ke KEK Arun Lhokseumawe. Apalagi, hilirisasi migas dari Blok Andaman menjadi agenda utama Gubernur Aceh.

Dirinya menyebutkan, sejauh ini sudah ada beberapa perusahaan, baik asing maupun nasional yang mulai menjajaki untuk terlibat dalam hilirisasi gas dari Blok Andaman di KEK Arun Lhokseumawe.
Diantaranya, PT Indoasia Oil Tank Terminal. Salah satu pemegang sahamnya, Mohamad Bawazeer, bos Indrillco Group yang juga Ketua Komite Bilateral Arab Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Kemudian, PT Pupuk Indonesia (Persero) juga telah menyatakan ingin membangun dua pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur (Kaltim) untuk memenuhi kebutuhan biodiesel dalam negeri.
Bahkan, lanjut dia, sebuah perusahaan berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, yang bergerak di bidang perdagangan energi serta pengembangan proyek migas, juga menyatakan berminat membangun pabrik methanol. Keinginan tersebut disampaikan melalui surat ke Gubernur Aceh pada 26 April 2026.

“Selain itu, masuk juga surat dari perusahaan yang berbasis di Jiangsu, China, ke Gubernur Aceh, pada 8 Juli 2026. Menggandeng perusahaan nasional di Jakarta, mereka berminat mengembangkan proyek likuefaksi LNG Aceh, juga di KEK Arun,” ujarnya.

Nurlis menuturkan, keinginan sejumlah korporasi itu karena daya tarik cadangan migas Blok Andaman. Kawasan Andaman memiliki enam blok migas utama, yakni Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman.

Tahap awal pengembangan akan dimulai dari Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy. “Proyek inilah yang akan menjadi pintu masuk dimulainya hilirisasi migas di Aceh,” kata Nurlis.

Pemerintah Aceh menargetkan hilirisasi tersebut berpusat di KEK Arun sehingga selaras dengan Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 yang menempatkan pengembangan KEK Arun sebagai salah satu program prioritas. Serta sejalan dengan arah pembangunan dalam RPJMA Aceh 2025–2029.
Nurlis menjelaskan, lapangan gas Tangkulo diproyeksikan memproduksi sekitar 300 MMSCFD gas. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 160 MMSCFD yang telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN.

“Sisanya dinilai membuka peluang besar bagi tumbuhnya berbagai industri hilir. Potensinya masih sangat besar untuk mendukung pertumbuhan industri di Aceh,” demikian Nurlis Effendi. (ant/hra)

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x