x

​Sinergi Sektor Peternakan dan Pertanian: Goa Farm Gandeng KTNA Aceh Tamiang Amankan Pasokan Jagung

waktu baca 4 menit
Minggu, 7 Jun 2026 16:07 8 redaksi

RAKYAT ACEH | ​ACEH TAMIANG — Guna menjaga stabilitas pasokan bahan baku pakan, Goa Farm—unit usaha peternakan ayam petelur lokal milik Syaiful Bahri—resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Aceh Tamiang.

Langkah ini diambil untuk mengatasi dua persoalan utama yang selama ini menghambat hilirisasi komoditas jagung di wilayah tersebut yakni, ketidakpastian pasar dan tingginya risiko gagal panen akibat rendahnya kualitas benih.

​Pemilik Goa Farm, Syaiful Bahri, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen bertindak sebagai pembeli siaga untuk menyerap seluruh hasil produksi jagung dari petani lokal Aceh Tamiang.

​”Selama ini, 99 persen petani enggan menanam jagung karena ketidakpastian pasar. Kami hadir untuk memberikan jaminan pasar. Berapapun volume jagung yang diproduksi di Aceh Tamiang, kami siap menyerapnya untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak harian,” ujar Syaiful.

​Kemitraan ‘Induk Semang’

​Saat ini, konsumsi jagung untuk basis populasi 20.000 ekor ayam di Goa Farm—yang berpusat di Desa Air Masin, Kecamatan Seruway—mencapai kisaran 5 ton per hari. Dengan tingkat konsumsi tersebut, seluruh hasil panen lokal diproyeksikan akan terserap sepenuhnya di pasar domestik Aceh Tamiang, tanpa perlu melakukan penyerapan ke luar daerah seperti Medan.

​Untuk mendukung produktivitas, Goa Farm menerapkan skema kemitraan Induk Semang (Bapak Angkat). Melalui skema non-bantuan ini, perusahaan memfasilitasi penyediaan benih berkualitas tinggi serta alat pengolahan tanah. Sebagai bentuk mitigasi risiko bagi petani, kedua belah pihak menyepakati klausul khusus. Jika terjadi kegagalan panen yang disebabkan oleh bencana alam (force majeure), maka utang pembiayaan modal awal dari petani akan diputihkan.

​Syaiful juga menyoroti inefisiensi logistik yang kerap merugikan petani Aceh ketika menjual hasil panen ke Sumatra Utara. Misalnya jagung yang dikirim dari daerah Penarun, Aceh dengan kadar air awal 16%–17%, seringkali mengalami peningkatan kadar air hingga 18% setibanya di Medan akibat faktor cuaca dan transportasi. Kondisi ini memicu penurunan harga beli secara drastis oleh pihak pabrikan di Medan, sementara petani tetap dibebani biaya transportasi yang tinggi.

​Sebagai solusinya, Goa Farm menerapkan sistem jemput bola dan bersedia menyerap jagung dalam kondisi basah langsung di lahan petani: ​Jagung Basah (Kadar Air 20%–22%): Dihargai sesuai indeks harga pasar jagung basah. Sedangkan Jagung Kering (Kadar Air 16%): mengikuti fluktuasi harga pasar reguler (per Jumat pekan lalu, harga di tingkat pasar Medan bertengger di kisaran Rp6.600 hingga Rp6.700 per kilogram).

​Melalui skema rantai pasok pendek langsung ke peternak, posisi tawar petani dinilai menjadi lebih kuat dibandingkan jika harus melalui mata rantai tengkulak. Mengingat komponen jagung berkontribusi sebesar 50% dari total biaya formulasi pakan ayam, keberlanjutan pasokan ini menjadi hal yang sangat krusial.

​Berdasarkan data operasional terbaru, realisasi penanaman jagung kemitraan ini telah mencapai 40 hektare (di luar lahan komoditas pribadi), dengan total lahan yang telah memasuki usia tanam satu bulan mencapai kisaran 38 hektare. Target jangka pendek dari program kemitraan ini adalah mendorong kemandirian petani secara bertahap agar tidak lagi bergantung pada pembiayaan induk semang di musim-musim tanam berikutnya.

​Ketua KTNA Aceh Tamiang, Jumadi, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi konkret ini. KTNA menargetkan program ini dapat menyasar potensi lahan di 11 kecamatan yang tersebar di Aceh Tamiang. Adapun realisasi luas tanam saat ini, di Kecamatan Rantau 4 Hektare, Kecamatan Manyak Payed 16 Hektare, Kecamatan Karang Baru baru 1,5 Hektare. Sementara kecamatan lain seperti Tenggulun, Kejuruan Muda, Bendahara dan Banda Mulia sedang proses persiapan lahan.

“Saat ini total realisasi tahap awal kurang lebih sudah 40 Hektare dari yang ditargetkan 100 hektare,” ujar Jumadi.

Untuk pengembangan tahap II KTNA optimistis target produktivitas minimal mampu menyentuh angka 5 ton per hektare, di mana produktivitas tertinggi sebelumnya pernah menembus angka 7 ton per hektare sebelum terdampak banjir.

​Guna mencapai target yield/persentase tersebut, petani diimbau untuk lebih selektif dalam memilih varietas benih unggul serta memaksimalkan transfer teknologi petunjuk teknis (juknis) dari para penyuluh pertanian lapangan. (ddh)

Teks foto: Pengusaha ayam petelur yang juga Pimpinan DPRK Aceh Tamiang Syaiful Bahri kolaborasi dengan KTNA tanam jagung di lahan 1,5 Ha dalam rangka menjaga stabilitas pasokan bahan baku pakan tenak di Desa Kebun Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Minggu (7/6). DEDE/RAKYAT ACEH

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x