
RAKYAT ACEH | BANDA ACEH – Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR) Perwakilan Aceh bekerja sama dengan HIMPSI Aceh dan Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) menyelenggarakan seminar bertajuk “Serangan Psikologis di Era Digital: Memahami Scam dan Manipulasi Siber” di Aula Gedung D Fakultas Kedokteran USK, Banda Aceh.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat mengenai berbagai bentuk penipuan digital (cyber-scam) yang semakin marak terjadi dan menimbulkan dampak tidak hanya secara finansial, tetapi juga psikologis dan sosial.
Ketua APSIFOR Perwakilan Aceh, Dr. Haiyun Nisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa banyak manfaat bagi masyarakat, namun juga membuka ruang bagi munculnya berbagai bentuk kejahatan siber yang semakin kompleks.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa ancaman digital saat ini tidak hanya menyerang sistem teknologi, tetapi juga mengeksploitasi aspek psikologis manusia.
Seminar menghadirkan dua narasumber yang membahas fenomena scam dari perspektif keamanan informasi dan psikologi forensik.
Pada sesi pertama, Teuku Farhan, S.Kom., GCP-CDL, ACA, Direktur Eksekutif MIT Foundation, menjelaskan bahwa scam modern telah berkembang menjadi bentuk rekayasa sistem serangan yang memadukan teknologi, data pribadi, dan manipulasi psikologis untuk memperoleh keuntungan tertentu.
Ia menekankan bahwa pelaku tidak lagi berfokus membobol sistem teknologi semata, tetapi lebih banyak menargetkan manusia melalui teknik *social engineering*.
Menurutnya, sebagian besar insiden keamanan siber modern melibatkan unsur manipulasi manusia, seperti rasa takut, kepercayaan, harapan, maupun keserakahan.
Teuku Farhan juga menguraikan bagaimana pelaku scam memanfaatkan data pribadi yang tersedia di media sosial, kebocoran data, maupun berbagai platform digital untuk menyusun serangan yang tampak meyakinkan.
Ia mengingatkan masyarakat agar menerapkan prinsip **“Think Before Click”**, melakukan verifikasi informasi, menggunakan autentikasi berlapis, memperbarui sistem keamanan perangkat, serta meningkatkan literasi digital sebagai bagian dari pertahanan pribadi terhadap kejahatan siber.
Pada sesi kedua, **Wida Yulia Viridanda, S.Psi., M.Psi., Psikolog**, memaparkan bahwa cyber-scam bukan hanya persoalan teknologi, melainkan juga merupakan bentuk **serangan psikologis** yang dirancang untuk memanipulasi proses berpikir dan pengambilan keputusan korban.
Ia menjelaskan bahwa pelaku memanfaatkan berbagai bias psikologis seperti *authority bias*, *fear appeal*, *reward illusion*, dan *scarcity effect* untuk memengaruhi perilaku korban.
Menurut Wida, siapa pun dapat menjadi korban scam, termasuk individu dengan tingkat pendidikan tinggi dan profesi profesional.
“Scam tidak mencari orang yang bodoh. Scam mencari orang yang sedang percaya, sedang berharap, sedang takut, atau sedang membutuhkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa dampak cyber-scam sering kali melampaui kerugian finansial. Banyak korban mengalami trauma psikologis, rasa malu, kecemasan, depresi, hilangnya kepercayaan diri, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
Dalam beberapa kasus, korban bahkan menunjukkan gejala yang menyerupai gangguan stres pascatrauma (PTSD), seperti *intrusive thoughts*, kewaspadaan berlebihan (*hypervigilance*), dan isolasi sosial.
Seminar ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara psikolog, praktisi keamanan informasi, aparat penegak hukum, regulator, lembaga keuangan, serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanganan cyber-scam.
Selain pendekatan teknis, diperlukan edukasi literasi digital berbasis psikologi, penguatan ketahanan mental masyarakat, serta penyediaan dukungan psikososial bagi korban.
Melalui kegiatan ini, APSIFOR Aceh berharap masyarakat semakin memahami bahwa cyber-scam merupakan bentuk kejahatan yang memanfaatkan kerentanan psikologis manusia dan bahwa perlindungan terbaik adalah kombinasi antara kewaspadaan digital, literasi psikologis, dan kemampuan verifikasi informasi sebelum mengambil keputusan di ruang digital.
**“Jika teknologi dapat digunakan untuk menipu manusia, maka psikologi harus hadir untuk melindungi,”** menjadi salah satu pesan utama yang mengemuka dalam seminar tersebut. (ril/ran)
Tidak ada komentar