Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 96, “Seandainya penduduk bumi beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan bukakan bagi mereka berbagai nikmat dari langit dan bumi.” Ketika penduduknya jauh dari iman, mereka akan diuji dengan kesempitan dan penderitaan. Kemudian, jika mereka kembali lalai setelah mendapat kesenangan, azab akan datang tiba-tiba. Sebaliknya, jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan membuka pintu berkah dari langit dan bumi. Firman ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah hukum sosial yang nyata dan dapat diukur secara ilmiah.
Ayat ini bukan sekadar janji spiritual. Ini adalah fondasi ilmiah bagi sukses dan sejahteranya sebuah negeri. Bagi Aceh, dengan predikat daerah istimewa yang menerapkan syariat Islam, ayat ini harus menjadi pijakan utama dalam setiap kebijakan pembangunan. Iman dan takwa bukan hanya ritual individu. Keduanya adalah sistem nilai yang menuntun pada tata kelola yang bersih, ekonomi yang berkeadilan, dan sumber daya manusia yang unggul.
Namun ironi melanda. Aceh masih bergulat dengan masalah struktural yang berat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2025 menunjukkan tingkat kemiskinan Aceh sebesar 12,33%. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 8,47%.
Dengan sekitar 703.330 jiwa penduduk miskin, mayoritas berada di wilayah perdesaan. Kemiskinan di perdesaan mencapai 14,44 persen, sementara di perkotaan 8,54 persen. Ketimpangan ini memperlihatkan bahwa berkah belum merata turun ke seluruh lapisan masyarakat.
Data lainnya juga menunjukkan prihatin. Sekitar 56.000 anak usia 16 hingga 18 tahun di Aceh tidak bersekolah formal. Selain itu, 1.200 siswa SMA masuk dalam kategori rentan putus sekolah akibat faktor ekonomi dan kurangnya motivasi belajar. Inflasi Aceh pada Desember 2025 juga menjadi yang tertinggi secara nasional, mencapai 6,71 persen, sementara inflasi nasional hanya 2,92 persen.
Lalu di mana letak kesalahan kita?
Allah telah memberikan peringatan melalui ayat 94 dan 95 surat yang sama. “Dan Kami tidak mengutus seorang nabi ke suatu negeri, melainkan Kami jadikan kesusahan dan penderitaan kepada penduduknya agar mereka tunduk dengan kerendahan hati. Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kenikmatan, lalu Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”
Makna ayat ini sangat relevan bagi Aceh pasca tsunami, banjir bandang dan konflik. Musibah besar telah datang. Kita selamat. Kita bangkit. Namun setelah gemerlap pembangunan dan dana otonomi khusus yang melimpah, justru perilaku koruptif merebak. Bukannya bersyukur, sebagian oknum malah menyalahgunakan amanah.
Buktinya nyata. Pada 2025, Kejaksaan Tinggi Aceh menetapkan dua tersangka kasus korupsi di Balai Guru Penggerak (BGP) dengan nilai kerugian negara mencapai Rp76,4 miliar. Potensi kerugian dalam kasus ini sendiri mencapai Rp4,3 miliar. Kasus korupsi ini merupakan contoh nyata apa yang dimaksud dengan “mendustakan ayat-ayat Kami”.
Jika iman hadir dalam sistem, korupsi tidak akan subur. Jika takwa menyelimuti birokrasi, maka setiap rupiah dana rakyat akan dikelola dengan penuh tanggung jawab. Inilah mengapa iman dan takwa menjadi fondasi utama keberhasilan sebuah negeri.
Pemerintah Aceh telah mengambil langkah konkret. Instruksi Gubernur Nomor 1 Tahun 2025 mewajibkan shalat berjamaah bagi ASN dan masyarakat serta mewajibkan kegiatan mengaji di setiap satuan pendidikan. Kota Banda Aceh juga meluncurkan program “Jumat Mengaji” untuk membangun kota melalui nilai-nilai Qur’ani.
Langkah ini positif. Namun pelaksanaannya harus konsisten dan menyeluruh. Shalat berjamaah yang khusyuk harus berbuah pada peningkatan etos kerja. Mengaji yang rutin harus menumbuhkan kejujuran dan transparansi. Jangan sampai ritual hanya menjadi seremonial belaka.
Potensi besar Aceh belum sepenuhnya tergarap dengan baik. Baitul Mal Aceh mencatat potensi zakat dan infak di Aceh mencapai Rp3,1 triliun. Namun realisasi pengumpulannya baru sekitar 12 persen atau Rp350 miliar. Ini menunjukkan pengelolaan dana umat belum optimal. Seharusnya dana sosial keagamaan ini bisa menjadi instrumen pengentasan kemiskinan.
Pada 2025, Baitul Mal Aceh berhasil menyalurkan zakat dan infak sebesar Rp107,29 miliar kepada 40.132 mustahik. Ini capaian yang bagus. Namun dengan potensi yang begitu besar, penyaluran ini masih jauh dari maksimal. Iman dan takwa menuntut kita untuk memungut dan mendistribusikan hak orang miskin secara profesional, transparan, dan tepat sasaran.
Terkait Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Aceh menunjukkan tren positif. Pada 2025, IPM Aceh mencapai 76,23, meningkat dari 75,36 pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan kualitas hidup masyarakat dari sisi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak terus membaik. IPM Kota Banda Aceh bahkan mencapai 89,55, termasuk kategori sangat tinggi.
Namun keberhasilan di ibu kota tidak cukup. Masih ada kabupaten dengan IPM rendah. Ini tantangan besar bagi Pemerintah Aceh. Membangun manusia Aceh secara utuh harus merata.
Pertumbuhan ekonomi Aceh triwulan III 2025 tumbuh 4,46 persen. Angka ini memang di bawah rata-rata nasional, namun trennya stabil dan mendekati lima persen. Realisasi investasi hingga September 2025 mencapai Rp7,75 triliun, atau 81,5 persen dari target tahunan Rp9,5 triliun. Ini pertanda baik bagi iklim usaha di Aceh.
Namun investor butuh kepastian dan integritas. Mereka akan berlari menjauh jika korupsi masih merajalela dan birokrasi berbelit. Iman dan takwa melahirkan pelayanan publik yang cepat, bersih, dan melayani. Jika sistem dan karakter pemimpin kita berlandaskan takwa, maka investor akan berdatangan. Lapangan kerja akan terbuka. Kemiskinan akan tergerus.
Kita tidak bisa memisahkan urusan dunia dan akhirat. QS. Al-A’raf ayat 96 mengajarkan bahwa keberkahan langit dan bumi (rezeki, kesehatan, ilmu, keamanan, dan kesejahteraan) adalah paket terintegrasi yang Allah turunkan bagi negeri yang beriman dan bertakwa.
Aceh tidak bisa terus menerus mengeluhkan dengan angka kemiskinan yang tinggi di Sumatera atau banjir yang semakin parah sambil mengabaikan hukum kausalitas ilahi. Pembangunan fisik tanpa pembangunan spiritual hanya akan menghasilkan gedung megah yang dihuni oleh masyarakat yang hatinya kosong dan lingkungan yang rusak.
Allah telah memberikan peluang besar kepada Aceh melalui ekonomi yang tumbuh dan perdamaian yang terjaga. Namun, peringatan dalam Surat Al A’raf harus selalu kita dengar: Jangan sampai ketika kita bergembira dengan harta yang bertambah banyak, kita lupa daratan, lupa pada nilai, dan lupa pada Allah. Azab bisa datang kapan saja.
Kesimpulannya, sudah saatnya Aceh melakukan lompatan paradigma. Iman dan takwa harus diwujudkan dalam indikator pembangunan yang terukur. Misalnya, tingkat kepatuhan syariat harus berkorelasi dengan penurunan angka korupsi. Frekuensi ibadah kolektif harus berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas. Dana zakat yang terkelola optimal harus berdampak langsung pada penurunan kemiskinan.
Mari jadikan iman dan takwa sebagai grand strategy pembangunan Aceh. Bukan slogan. Tapi sebuah gerakan kolektif yang rasional, terukur, dan membumi. Hanya dengan cara inilah kita akan benar-benar merasakan keberkahan dari langit dan bumi. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar