x

Gedung BMCC Bener Meriah Rp41 Miliar Memprihatinkan

waktu baca 3 menit
Jumat, 17 Jul 2026 08:41 6 redaksi

RAKYAT ACEH | REDELONG  – Berdiri megah di Kampung Wonosobo, Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah Convention Center (BMCC) seharusnya menjadi salah satu ikon kebanggaan Kabupaten Bener Meriah.
Namun, harapan itu kini hanya tinggal kenangan. Gedung yang dibangun menggunakan anggaran sekitar Rp41,1 miliar dari APBA pada tahun 2021 tersebut kini terbengkalai dengan kondisi yang semakin memprihatinkan.

Dari luar, bangunan itu masih tampak kokoh dan megah. Akan tetapi, suasana berubah drastis saat memasuki bagian dalam gedung. Ruangan-ruangan yang seharusnya menjadi pusat berbagai kegiatan kini dipenuhi material bangunan yang berserakan, kaca-kaca pecah, plafon yang rusak, serta lantai yang dipenuhi debu.
Tidak ada tanda-tanda aktivitas maupun perawatan terhadap aset bernilai puluhan miliar rupiah tersebut.

Keheningan yang menyelimuti setiap sudut bangunan menghadirkan kesan angker. Cahaya matahari hanya menembus melalui kaca yang telah pecah, sementara sebagian plafon menggantung akibat kerusakan.
Kondisi itu membuat gedung yang semula dirancang sebagai pusat konvensi modern berubah menjadi bangunan kosong yang perlahan dimakan usia.
Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas yang sebelumnya telah dipasang. Sejumlah peralatan dan instalasi dilaporkan hilang, diduga dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa perangkat lainnya mengalami kerusakan akibat aksi vandalisme. Kabel instalasi menjuntai di sejumlah titik, sementara bekas dudukan peralatan yang telah dicopot menjadi saksi bahwa aset negara itu terus mengalami penyusutan nilai.

Jika kondisi tersebut terus dibiarkan tanpa pengamanan dan pemeliharaan, kerusakan diperkirakan akan semakin parah. Bangunan yang dibangun dengan biaya besar itu berpotensi kehilangan lebih banyak fasilitas, sementara biaya rehabilitasi di masa mendatang akan semakin tinggi.

BMCC awalnya diproyeksikan menjadi pusat kegiatan berskala besar di Kabupaten Bener Meriah sekaligus lokasi utama penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-35 tingkat Provinsi Aceh pada tahun 2022. Pembangunan tahap awal dimulai pada tahun 2021 dengan anggaran sekitar Rp41,1 miliar yang dikerjakan oleh PT Pilar Jurong Sejati.
Namun, proyek tersebut mengalami kendala akibat putus kontrak dengan rekanan sehingga pembangunan tidak selesai sesuai target. Akibatnya, gedung tidak dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pelaksanaan MTQ Aceh sebagaimana yang telah direncanakan.

Pemerintah Aceh kemudian kembali mengalokasikan tambahan anggaran sekitar Rp4,5 miliar pada tahun 2023 untuk melanjutkan pembangunan. Meski demikian, upaya tersebut belum mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan sehingga BMCC tetap belum dapat difungsikan secara optimal.

Harapan penyelesaian kembali muncul ketika pemerintah merencanakan kelanjutan pembangunan pada tahun 2025 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp6,5 miliar. Namun, rencana itu akhirnya dibatalkan akibat kebijakan efisiensi anggaran serta keterlambatan proses lelang.

Hingga kini, BMCC masih berdiri tanpa kepastian. Bangunan yang dibangun menggunakan uang rakyat itu terus mengalami penurunan kondisi akibat minimnya perawatan. Di balik kemegahannya, BMCC kini menjadi potret proyek yang belum mampu memberikan manfaat sebagaimana tujuan awal pembangunannya.
Bagi masyarakat Bener Meriah, keberadaan BMCC bukan hanya sekedar bangunan yang mangkrak. Gedung ini menjadi pengingat bahwa setiap rupiah dari anggaran publik semestinya mampu menghadirkan manfaat nyata.

Tanpa penyelesaian dan pemanfaatan yang jelas, bangunan bernilai Rp41 miliar itu akan terus berdiri sebagai monumen sunyi yang menyimpan kisah tentang harapan besar yang belum pernah benar-benar terwujud. (uri)

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x