
SABANG – Tren mengubah foto menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin marak di media sosial. Fenomena tersebut mendapat perhatian dari Tgk. Muchtar Andhika, yang mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengikuti setiap tren digital hanya karena sedang viral.
Menurut Tgk. Muchtar Andhika, perkembangan teknologi memang memberikan banyak kemudahan dan ruang kreativitas. Namun, penggunaan teknologi tetap harus dibarengi dengan tanggung jawab, etika, serta kesadaran terhadap dampak yang dapat ditimbulkan.
Ia menilai masyarakat perlu berhenti sejenak sebelum mengikuti tren foto AI dan mempertanyakan manfaat serta risiko dari konten yang dibuat.
“Teknologi akan terus berkembang, tetapi prinsip dan batasan dalam menggunakannya jangan sampai ikut berubah hanya karena sesuatu sedang viral,” menjadi pesan yang relevan dalam menyikapi maraknya tren tersebut.
Tgk. Muchtar menyoroti sedikitnya beberapa persoalan yang perlu diperhatikan masyarakat, mulai dari privasi dan kebocoran data, penyalahgunaan foto, dampak terhadap lingkungan akibat penggunaan teknologi, hingga persoalan aurat dan etika dalam membuat maupun menyebarkan gambar hasil AI.
Menurutnya, sebuah foto yang terlihat menarik belum tentu aman untuk dibagikan. Masyarakat perlu mempertimbangkan dari mana foto berasal, ke mana data tersebut dapat digunakan, serta apakah hasil editannya tetap sesuai dengan nilai agama dan norma yang berlaku.
“Jangan sampai demi mengikuti tren, kita justru kehilangan kendali terhadap foto, data pribadi, maupun batasan yang seharusnya kita jaga,” pesan Tgk. Muchtar.
Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih kritis dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, menjadi pengguna teknologi bukan hanya soal mampu membuat konten yang menarik, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan setiap konten yang dibuat dan disebarkan.
Di tengah cepatnya perubahan tren digital, Tgk. Muchtar mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan viral sebagai satu-satunya ukuran dalam membuat konten. Setiap pengguna media sosial perlu mempertimbangkan manfaat, mudarat, etika, dan nilai agama sebelum mengikuti sebuah tren.
“Yang kita dapatkan, apa yang kita berikan, dan bagaimana cara kita menggunakannya harus tetap sejalan dengan prinsip yang kita pegang,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, dapat memanfaatkan perkembangan AI secara bijak untuk hal-hal yang produktif, edukatif, dan bermanfaat, tanpa mengorbankan privasi, lingkungan, kehormatan diri, maupun nilai-nilai agama.
Tidak ada komentar