DISAMBUT SILAT: Menteri Ekraf RI Teuku Riefky Harsya disambut silat pelintau (beladiri suku Tamiang) saat menghadiri acara Unjuk Karya Melukis Bersama Asosiasi dan Anak-anak sekaligus Ekraf Peduli Masak Bersama Master di Aceh Tamiang, Jumat (11/9). DEDE/RAKYAT ACEHRAKYAT ACEH | ACEH TAMIANG – Siapa sangka lumpur sisa banjir bisa menjelma menjadi karya seni? Di tangan anak-anak Aceh Tamiang, lumpur dan debu justru menjadi pigmen alami untuk melahirkan lukisan penuh warna. Karya-karya itu bahkan mendapat perhatian pemerintah pusat.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI Teuku Riefky Harsya mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto menugaskannya memilih 10 karya paling inspiratif untuk dibawa ke Jakarta.
Lukisan tersebut akan dipamerkan dan dikembangkan menjadi produk turunan ekonomi kreatif, seperti art print hingga merchandise. Langkah itu diharapkan membuat semangat kebangkitan anak-anak Aceh Tamiang pascabencana dapat dikenal masyarakat lebih luas.
“Kami ditugaskan Bapak Presiden untuk memilih 10 karya paling inspiratif dari adik-adik untuk dibawa ke Jakarta, dipamerkan dan dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah, seperti art print ataupun merchandise,” ujar Riefky saat menghadiri Unjuk Karya (Showcase) Melukis Bersama Asosiasi dan Anak-anak Sekaligus Ekraf Peduli Masak Bersama Master (MASAMO) di Aceh Tamiang, Jumat (11/9).
Riefky mengaku terkesan dengan cara anak-anak mengolah pengalaman bencana menjadi karya seni. Penggunaan lumpur dan debu sisa banjir sebagai bahan pewarna, menurutnya, menjadi pesan kuat tentang kemampuan anak-anak untuk bangkit dari trauma.
“Saya bahagia mendengar laporan bahwa anak-anak kita menggunakan pigmen alami dari lumpur dan debu sisa banjir untuk mewarnai karya-karya ini. Sebuah pesan yang kuat kepada dunia bahwa anak-anak Aceh Tamiang mampu mengubah trauma menjadi keindahan dan membangun jiwa melalui seni,” katanya.
Menurut Riefky, karya tersebut tidak boleh berhenti sebagai pajangan. Bakat seni anak-anak Aceh Tamiang dapat menjadi pintu menuju berbagai profesi kreatif di masa depan.
“Dari seni lukis bisa menjadi desainer, animator, arsitek, bahkan interior designer. Bakat seni ini jangan dilihat hanya sebagai gambar saat ini. Ke depan, mereka bisa menjadi profesional dan pegiat ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah terhadap perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan melukis tersebut merupakan bagian dari program Creative Recovery for Children Kemenekraf untuk membantu pemulihan anak-anak terdampak bencana.
“Melalui seni lukis kita tidak lagi bicara tentang sisa bencana. Kita bicara tentang harapan baru,” kata Riefky.
Tak hanya melukis, anak-anak juga diajak bermain board game sebagai bagian dari pemulihan trauma. Permainan seperti Games Kata dan Superfood menjadi sarana belajar sekaligus membangun kembali rasa percaya diri, interaksi sosial dan optimisme anak-anak.
Kemenekraf juga menjalankan berbagai program pemulihan bagi pelaku ekonomi kreatif.
“Khusus di Aceh Tamiang, kegiatan mencakup subsektor kuliner, konten digital, sertifikasi barista, seni rupa dan permainan,” ucapnya.
Riefky menyebut Kemenekraf menyiapkan 103 kegiatan dengan target 5.788 penerima manfaat di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Sebanyak 30 kegiatan telah terlaksana dengan 2.216 peserta, sementara 73 kegiatan lainnya akan digelar bertahap hingga akhir tahun.
Ekraf Jalan Bangkit
Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi menyambut baik dukungan Kemenekraf terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
Menurutnya, banjir tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menghantam perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan sektor ekonomi kreatif kuliner.
“Pemulihan pascabencana bukan hanya sekadar membangun kembali fisik bangunan yang rusak, tetapi juga menghidupkan kembali harapan, kreativitas dan sumber penghidupan masyarakat,” ujar Armia.
Ia menilai program Kemenekraf menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali berkreasi, membangun jejaring dan menata usaha setelah terdampak bencana. Armia menegaskan Pemkab Aceh Tamiang berkomitmen mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha dan komunitas dinilai penting untuk mempercepat pemulihan.
“Mari kita buktikan bahwa masyarakat Bumi Muda Sedia adalah masyarakat yang tangguh dan pantang menyerah. Bersama-sama kita racik kembali masa depan ekonomi daerah kita,” pungkasnya. (ddh)
Tidak ada komentar