x

Mengutip Pesan Sayyidina Ali, Tgk Muchtar Andhika Ajak Jamaah Shuling Sabang Introspeksi Diri

waktu baca 3 menit
Senin, 28 Sep 2026 07:13 1 redaksi

Rakyat Aceh | Sabang – Kegiatan Shubuh Keliling (Shuling) kembali dilaksanakan di Meunasah Muhammadan, Lhok Panglima Kongsi, Gampong Kuta Barat, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Ahad (27/9/2026).

 

Dalam kegiatan tersebut, Tgk. Muchtar Andhika berkesempatan menyampaikan tausiah di hadapan jamaah. Dalam ceramahnya, ia mengangkat pesan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah tentang lima keburukan yang dapat menjadi penghalang manusia dalam membangun kesalehan diri.

 

Tgk. Muchtar menjelaskan bahwa menjadi pribadi yang saleh tidak hanya berkaitan dengan banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga menyangkut upaya membersihkan hati serta menjauhkan diri dari berbagai sifat tercela.

 

Ia mengawali tausiah dengan sebuah pertanyaan reflektif kepada jamaah.

 

“Manakah sebenarnya yang lebih dulu ada di dunia ini, kegelapan lalu disusul dengan terang, atau terang yang kemudian dinodai dengan kegelapan?” ujarnya.

 

Pertanyaan tersebut kemudian dikaitkan dengan pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah yang menyebutkan bahwa seandainya lima keburukan tidak ada di dunia, manusia akan lebih mudah menjadi orang-orang saleh.

 

Menurut Tgk. Muchtar, pesan tersebut dapat menjadi bahan renungan bagi setiap muslim agar senantiasa melakukan introspeksi terhadap diri sendiri. Sebab, penyakit hati dan perilaku tercela dapat memengaruhi kualitas ibadah sekaligus kehidupan seseorang.

 

Lima Penghalang Menjadi Orang Saleh

 

Pertama, merasa senang dengan kebodohan.

Menurutnya, kebodohan tidak semestinya menjadi sesuatu yang dibanggakan. Seorang muslim dianjurkan untuk terus belajar, khususnya dalam memahami ilmu agama sebagai bekal dalam menjalani kehidupan.

 

Kedua, tamak terhadap dunia.

Kecintaan yang berlebihan terhadap kehidupan dunia juga dapat menjadi penghalang seseorang dalam membangun kesalehan. Dunia boleh dimiliki dan dimanfaatkan, tetapi tidak semestinya menguasai hati hingga melalaikan kewajiban kepada Allah SWT.

 

Ketiga, bakhil terhadap kelebihan harta.

Sifat kikir, terutama terhadap harta yang dimiliki, juga menjadi salah satu hal yang perlu dihindari. Harta yang diberikan Allah SWT memiliki tanggung jawab sosial dan dapat menjadi sarana untuk membantu sesama serta memperoleh keberkahan.

 

Keempat, riya dalam beramal.

Tgk. Muchtar mengingatkan agar setiap amal ibadah dilakukan dengan niat karena Allah SWT. Riya dapat mengurangi nilai keikhlasan ketika seseorang melakukan kebaikan dengan tujuan mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia.

 

Kelima, membanggakan diri.

Sikap membanggakan diri atau merasa lebih baik daripada orang lain juga menjadi salah satu sifat yang perlu diwaspadai. Menurutnya, seorang muslim hendaknya senantiasa rendah hati dan menyadari bahwa segala kelebihan yang dimiliki merupakan karunia dari Allah SWT.

 

Tgk. Muchtar mengajak jamaah menjadikan lima hal tersebut sebagai bahan evaluasi diri dalam kehidupan sehari-hari. Kesalehan, kata dia, tidak hanya terlihat dari aktivitas ibadah secara lahiriah, tetapi juga tercermin melalui kebersihan hati, keikhlasan, akhlak, dan hubungan baik dengan sesama.

 

Kegiatan Shubuh Keliling di Meunasah Muhammadan tersebut berlangsung dengan khidmat dan diikuti oleh jamaah. Kegiatan itu menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat melalui tausiah selepas pelaksanaan salat Subuh.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x