Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe Yudo Herlambang dan Walikota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar memperlihatkan nota kemitraan dalam rangka mendukung percepatan dan perluasan digitalisasi daerah (P2DD). FOR RAKYAT ACEH.RAKYAT ACEH | LHOKSEUMAWE – Upaya memperkuat pemulihan ekonomi sekaligus mengangkat potensi budaya dan kreativitas Aceh kembali digerakkan melalui Festival Meurah Silu (FMS) 2026. Festival yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe tersebut resmi dibuka Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., di Harun Convention Center, Sabtu (31/10).
Mengusung tema “Merajut Kolaborasi, Bangkit Bersama, Meningkatkan Perekonomian Daerah”, FMS 2026 tidak sekadar menjadi agenda promosi budaya, tetapi juga diarahkan sebagai ruang mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, perbankan, UMKM, komunitas kreatif hingga masyarakat dalam memperkuat aktivitas ekonomi daerah.
Momentum tersebut menjadi semakin relevan di tengah upaya pemulihan ekonomi masyarakat setelah bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah Aceh.
Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, mengatakan penyelenggaraan Festival Meurah Silu memiliki manfaat strategis karena dapat menjadi salah satu ruang untuk kembali menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar pemulihan tidak berhenti pada penanganan dampak bencana, tetapi berlanjut pada penguatan ekonomi masyarakat dan pengembangan potensi daerah.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mendongkrak ekonomi daerah, terutama setelah bencana banjir yang sudah mencapai satu tahun lalu,” ujar Sayuti.
Festival tersebut juga memperlihatkan pentingnya sinergi antar daerah. Sejumlah kepala daerah dan pejabat dari berbagai wilayah di Aceh hadir dalam pembukaan, di antaranya Bupati Bener Meriah Ir. H. Tagore Abubakar bersama Wakil Bupati Ir. H. Armia, Wakil Bupati Bireuen Ir. H. Razuardi, M.T., Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Hertha Bastiawan, serta Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe Yudo Herlambang.
Turut hadir para kepala daerah kabupaten/kota atau yang mewakili, unsur Forkopimda, sekretaris daerah, Ketua Dekranasda kabupaten/kota termasuk Ketua Dekranasda Kota Lhokseumawe Ny. Yulinda Sayuti, pimpinan instansi vertikal, kepala OPD, pimpinan perbankan dan lembaga, tokoh adat, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, seniman serta budayawan.
FMS 2026 berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2026, dengan berbagai kegiatan yang menyasar sektor ekonomi, pendidikan, budaya, kreativitas dan pemberdayaan masyarakat.
Rangkaian kegiatan tersebut antara lain Aceh Modest Fashion Competition, talkshow bersama desainer nasional, donor darah, lomba cerdas cermat kebanksentralan, pertunjukan seni budaya, QRIS Wakaf Run, lomba mewarnai hingga tabligh akbar.
Beragam agenda itu menunjukkan bahwa festival tidak hanya diarahkan sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang promosi dan interaksi bagi pelaku ekonomi kreatif serta UMKM.
Penguatan promosi produk lokal menjadi salah satu aspek penting karena keberadaan UMKM tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas ekonomi dan budaya daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe Yudo Herlambang, mengatakan, dengan adanya Festival Meurah Silu, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diharapkan dapat memperluas jejaring promosi produk unggulan, memperkuat daya saing UMKM, serta membuka ruang kolaborasi ekonomi yang lebih luas.
“Di sisi lain, penggabungan unsur budaya, ekonomi kreatif, digitalisasi pembayaran, olahraga, pendidikan dan kegiatan sosial membuat FMS 2026 menjadi salah satu ruang kolaborasi lintas sektor di kawasan,”katanya.
Ke depan, tantangannya bukan hanya menjaga festival tetap menjadi agenda tahunan, tetapi memastikan momentum tersebut memberikan dampak yang lebih nyata bagi pelaku UMKM, ekonomi kreatif, sektor pariwisata dan masyarakat.
Dengan demikian, semangat “Bangkit Bersama” yang diusung dalam FMS 2026 tidak berhenti pada panggung festival, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kerja sama berkelanjutan untuk memperkuat ekonomi dan menjaga kekayaan budaya Aceh.(arm/ra)
Tidak ada komentar