x

UTU dan BPBD Bantu Kuta Padang Rawat Drainase hingga Tanggul Cot Rungkom

waktu baca 3 menit
Sabtu, 31 Okt 2026 08:47 46 redaksi

RAKYAT ACEH I MEULABOH – Safrizal, Geuchik atau Kepala Desa Kuta Padang, Kecamatan Johan Pahlawan, kabupaten Aceh Barat dapat sedikit bernafas lega. Sebanyak 31 mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh dan BPBD setempat, bersedia saling bahu membahu bergotong royong pada pekan ke-164, membersihkan parit pembuangan menuju Rawa Cot Rungkom dan ikut menanam pohon pencegah abrasi sepanjang tanggul desa. Meulaboh, Jum’at (30/10/2026) pagi.

Sebanyak 31 mahasiswa ini, bagian program bersama pencegahan bencana banjir dari Unit Kegiatan Mahasiswa Penanggulangan Kebencanaan (UKM PK) Universitas Teuku Umar Meulaboh dan BPBD Aceh Barat.

Geuchik Kuta Padang, Safrizal, menyambut baik kehadiran UKM PK Universitas Teuku Umar dan BPBD Aceh Barat. Selama ini, ia bersama warganya senantiasa memantau perkembangan naik-turunnya ketinggian debit air di sungai mati atau Rawa Cot Rungkom serta langkah cepat membelah suak untuk pembuangan air menuju laut sebagai antisipasi banjir luapan melanda permukiman penduduk setempat.

“Rawa Cot Rungkom ini, menjadi tempat pembuangan dan penyerapan akhir air luapan hujan maupun kiriman dari hulu,” cetus Safrizal yang akrab di sapa Ngo Jal.

Sungai mati atau Rawa Cot Rungkom diperkirakan luas mencapai sembilan hektar, terletak di wilayah pesisir Meulaboh perbatasan Desa Kuta Padang – Desa Suak Ribee. Rutinitas gotong royong setiap pekan diberlakukan Ngoh Jal, demi membersihkan tumpukan sampah maupun gulma yang menghambat aliran air pembuangan saluran drainase menuju rawa Cot Rungkom.

“Alhamdulillah gotong royong pekan ke-164, dari UKM PK Universitas Teuku Umar dan BPBD Aceh Barat bersedia turut membantu masyarakat membersihkan parit,” ungkap Ngoh Jal.

Selain saluran pembuangan utama Lueng Aneuk Aye, Rawa Cot Rungkom juga menjadi penampungan air buangan akhir dari sejumlah gampong sekitar, antara lain, Desa Ujung Baroh, Desa Suak Ribee, Desa Ujong Kalak, Desa Seuneubok, dan Desa Drien Rampak. Letak geografis ini, menyebabkan Ngoh Jal selalu waspada jika curah hujan tinggi melanda kawasan Kota Meulaboh.

“Tiga jam curah hujan tinggi tanpa henti, saya sudah waspada. Apalagi lihat tinggi debit air naik 60 centimeter, itu jalan permukiman kawasan penduduk sudah tenggelam. Solusi belah Suak alirkan buangan ke laut, makanya setiap jaringan parit pembuangan harus bersih biar selalu lancar,” penilaian Ngoh Jal.

Pembina UKM PK UTU, Irsadi Aristora, menuturkan curah hujan tinggi dan ancaman bibit siclon yang menyebar seluruh wilayah Indonesia, khususnya Aceh disikapi dengan persiapan menciptakan program bersama dalam pencegahan bencana banjir.

UTU Meulaboh dan BPBD Aceh Barat mulai action lapangan. Lokasi dipilih dalam kesiangan adalah Desa Kuta Padang, sebagai gampong tangguh mitigasi bencana.

Irsadi berterima kasih kepada geuchik dan BPBD Aceh Barat atas kolaborasi tersebut. Hal ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dalam aplikasi pengabdian kepada masyarakat. UTU dapat kesempatan bersama masyarakat dan pemerintah membantu mengurangi (mitigasi) berbagai resiko bencana.

Irsadi berharap program pencegahan dini dampak bencana, dapat terus berjalan, tercipta kolaborasi antara kampus, masyarakat dan pemerintah.(den)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x