x

Kondisi Pariwisata Aceh Tamiang Memprihatinkan, Pusat Diminta Turun Tangan

waktu baca 2 menit
Kamis, 11 Jun 2026 19:30 4 redaksi

RAKYAT ACEH | KUALA SIMPANG – Sektor pariwisata di Kabupaten Aceh Tamiang benar-benar berada dalam kondisi titik nadir. Hingga pertengahan 2026, denyut nadi wisata alam di sana masih lumpuh total akibat hantaman banjir bandang pada pengujung 2025 lalu. Ironisnya, alokasi anggaran dari Transfer ke Daerah (TKD) maupun anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) tahun ini sama sekali tidak menyentuh pemulihan sektor tersebut.

?Pernyataan ini mendapat perhatian serius dari anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Muhammad Zakiruddin. Pria yang akrab disapa Bang Zek itu menyayangkan absennya anggaran pemulihan sektor wisata dari pemerintah setempat.

?Meski demikian, legislator dari Partai Aceh ini tidak tinggal diam. Dia menginisiasi bantuan infrastruktur darurat melalui dana aspirasi dewan sebesar Rp 1 miliar. Anggaran tersebut dikucurkan untuk pembangunan jalan rabat beton ke arah Desa Bengklang menuju objek wisata air terjun Tamsar 27 dan Sangka Pane.
“Saat ini posisinya sedang tahap survei,” kata Zakiruddin.

Zakiruddin menceritakan, sebelum diterjang bencana, geliat pariwisata di Tamiang sebenarnya sangat progresif. Kesadaran kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan masyarakat lokal sedang tumbuh tinggi. Namun, banjir besar menyapu bersih hampir 97 persen fasilitas wisata di sana.

? Imbasnya fatal. Mata pencaharian warga lokal terputus total. Kini para pengelola destinasi wisata harus terseok-seok membangun kembali tempat usaha mereka dengan merogoh kocek pribadi.
“Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata harus segera memberikan atensi. Perlu alokasi anggaran khusus untuk rehab-rekon pariwisata Aceh Tamiang. Kita tidak boleh menutup mata, ini momentum untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat,” tegas Zakiruddin.

Lumpuhnya sektor wisata ini juga diakui oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Aceh Tamiang. Destinasi andalan yang dulu menjadi primadona, seperti Pemandian Gunung Pandan di Desa Selamat, Kecamatan Tenggulun, kini mulai ditinggalkan pelancong.

“Debit air mengecil dan keruh akibat erosi berat di hulu sungai. Fasilitas umum rusak parah, homestay pun kosong melompong tanpa pengunjung,” ujar ?Kepala Bidang Pariwisata Disparpora Aceh Tamiang, Thamrindu Lubis

Thamrindu menambahkan bahwa kehancuran sektor ini merembet pada merosotnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan jatuhnya perekonomian warga atau pelaku UMKM. Saat ini wisata yang tersisa dan masih aktif hanyalah wisata alam pegunungan, itu pun dengan kondisi yang babak belur.
“Di Gunung Pandan misalnya, longsoran tanah menutup aliran sungai. Aliran air terpisah oleh tumpukan batu material banjir sehingga debit air yang mengalir ke area pemandian menjadi sangat kecil dan keruh,” katanya. (ddh/rus)

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x