x

RSCM : Setitik Harapan Baru Bagi Mareka yang Mencari Kesembuhan

waktu baca 4 menit
Rabu, 26 Agu 2026 11:58 1 redaksi

LANGSA | RAKYAT ACEH – Perjalanan panjang dan berliku pernah di alami Rumah Sakit Umum (RSU) Cut Meutia Langsa.

Rumah Sakit yang didirikan pada tahun 1984 di Kebun Baru, Kota Langsa, di bawah naungan PTPN I yang dibangun di atas lahan seluas 1,6 hektare dengan luas bangunan 3.950 meter persegi.

Tujuan pertama didirikannya untuk merawat para karyawan PTPN I yang sakit. Namun sering perjalanan waktu pada tanggal 2 Desember 1995 mendapat izin penyelenggaraan resmi dari Menteri Kesehatan RI dan kemudian izinnya diperpanjang secara berkala pada tahun 2001.

Melihat perkembangan zaman dan kebutuhan pengembangan pada Juli 2013 melakukan pemisahan oleh PTPN I.

Manajemen membentuk anak perusahaan yang bernama PT Cut Mutia Medika Nusantara (PT CMMN) yang khusus bergerak di bidang pelayanan kesehatan.

Selanjutnya, RSU Cut Meutia kemudian resmi berada di bawah pengelolaan anak perusahaan ini, melayani karyawan perkebunan sekaligus masyarakat umum.

Semenjak itu lah RSU Cut Mutia mengalami pasang surut dalam melayani pengobatan kepada masyarakat. Namun pihak menajemen optimis bahwa rumah sakit ini menjadi alternatif bagi masyarakat dalam berobat.

Setelah berjuang dengan sekuat tenaga, kini pengololaan rumah sakit tersebut benar-benar dilakukan secara profesional. Di mana pasien dan keluarganya dibuat senyaman mungkin selama berobat.

Hampir semua warga yang pernah berobat disana pasti berkesan dengan pelayanan Rumah Sakit Cut Mutia. Bagi mareka yang sedang sakit RSCM ini menjadi setitik Harapan Baru bagi mareka yang mencari kesembuhan.

Selain itu letaknya pun jauh dengan kebisingan kota, jadi membuat lokasi tersebut benar benar tenang dan nyaman.

Belum lagi kondisi lingkungan yang hijau, udaranya begitu sejuk saat sepanjang hari, dan saat malam hari pun sangat terasa sejuk.

Salah satu warga Kota Langsa, Marida Fitriani (50) saat dimintai keterangan, Rabu, (26/8) di sela-sela berobat di poli otopedi mengatakan RSCM mengatakan untuk saat ini pelayanannya sangat bagus.

Pernyataan ini di dasarkan pada pengalaman yang pernah saya rasakan. saat berobat putranya. Kurang lebih 8 hari putranya rawat inap di RSCM, bayangkan selama itu sejatinya kita pasti bosan, namun ini malah berbalik, kami sekeluarga senang menikmati suasana dengan lingkungan yang bersih dan perawatnya ramah-ramah dengan senyuman menghiasi bibirnya.

Pengalaman kedua juga kami alami saat waktu banjir, di mana ada salah seorang keluarga kami di rawat disana. Bayangkan saja pasca banjir di mana pasien yang hendak berobat membludak.

Untuk menghadapi hal tersebut, pihak manajemen terpaksa membangun tenda di luar gedung agar bisa menampung pasien dan korban banjir.

Namun lagi-lagi manajemen mengelola dengan profesional dengan semua hal tersebut bisa diatasi dengan baik. Ujar Fitri.

Saat itu, Rumah Sakit Umum Daerah Langsa lumpuh total karena terendam banjir, maka RSCM menjadi “setitik harapn baru bagi mareka yang mencari kesembuhan”. Sebutnya lagi.

Ditambahkanya, bagi orang yang sedang berjuang melawan penyakit, rumah sakit bukan sekadar bangunan dengan lorong panjang, ruang pemeriksaan, dan berbagai peralatan medis.

Di sana, sering kali, tersimpan satu hal yang paling berharga yaitu harapan. Harapan untuk sembuh, harapan untuk mendapatkan kepastian, dan harapan untuk kembali menjalani kehidupan seperti sediakala.

Di tengah perjalanan panjang mencari pengobatan, Rumah Sakit Cut Meutia (RSCM) hadir sebagai salah satu tempat yang kerap menjadi tujuan banyak pasien dari berbagai daerah di Aceh. Bukan hanya karena posisinya sebagai rumah sakit rujukan, tetapi karena di tempat inilah banyak orang datang dengan membawa cerita perjuangan, kecemasan, doa, dan keyakinan bahwa selalu ada kemungkinan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Imbuhnya.

Ketua FPRM, Nasruddin yang juga Founder Yayasan Geutanyoe yang sempat bekerja sama dengan RSCM untuk mengobati warga korban banjir di mengatakan kontribusi RSCM sudah tidak diragukan lagi.

Terbukti saat musibah banjir, bersama Yayasan Geutanyoe melakukan bakti sosial pengobatan gratis bagi korban banjir di Lokop Serba Jadi Aceh Timur dan di pedalaman Aceh Tamiang.

Jadi keberadaan RSCM ini sudah tidak diragukan lagi, pelayanannya cukup memberi makna warga Langsa dan Aceh Timur.

Walaupun masih terbatas alat kesehatan, obat-obatan, namun tenaga medis terus bekerja maksimal dalam melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

“saat ini yang dibutuhkan RSCM Langsa ide yang bagus agar terus memperbaiki apa yang menjadi kekurangan, bukan sebaliknya” ujar Nasruddin. (Ray Iskandar)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x