x

Siswa SMPN 26 Linge Belajar di Halaman Pustu

waktu baca 2 menit
Minggu, 26 Apr 2026 19:14 2 redaksi

RAKYAT ACEH | TAKENGON – Anak-anak di pedalaman Aceh Tengah hingga kini masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan pascabencana alam yang terjadi pada November lalu. Sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan parah, sehingga tidak lagi dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Kondisi ini memaksa para siswa, khususnya di wilayah Kecamatan Linge, untuk melaksanakan proses belajar di tempat seadanya. Halaman puskesmas pembantu (pustu) dan kantor desa di Dusun Jamat menjadi alternatif ruang belajar sementara bagi para pelajar.

Sebelumnya, kegiatan belajar masih dapat dilakukan di bawah tenda darurat. Namun, setelah lima bulan berlalu, tenda-tenda tersebut mulai rusak dan tidak lagi layak digunakan akibat terjangan cuaca.
Tokoh masyarakat setempat, Sertalia, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Ia menegaskan pentingnya perhatian serius terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. “Generasi ini harus kita selamatkan dengan memberikan fasilitas sekolah yang memadai,” ujarnya, Jumat (25/4/2026).
Para siswa SMP Negeri 26 Linge menghadapi berbagai kendala dalam proses belajar. Saat hujan turun, kegiatan belajar terpaksa dihentikan. Sementara saat cuaca panas, jam belajar harus dipersingkat karena kondisi yang tidak memungkinkan.

“Situasi secara umum sangat masih payah di Kecamatan Linge Dusun Jamat ini. Semua masih serba darurat, sekolah, jembatan,” ujar Sertalia lagi.
Kepala SMP Negeri 26, Ruslan, M.Pd mengatakan anak-anak didiknya sudah sepekan belajar diruang terbuka, sebelumnya ada tenda, namun hancur diterjang cuaca buruk.
“Hanya bangunan ini (Postu dan Kantor Desa) yang tersisa dan dapat kami manfaatkan. Selain itu tidak ada lagi, maka kami terpaksa melaksanakan proses belajar mengajar seperti ini,” ungkap Ruslan dengan nada prihatin, Jumat 24 April 2026.

Ruslan menjelaskan bahwa akses pendidikan di wilayah tersebut terbagi di dua titik, yakni Desa Reje Payung dan Desa Jamat. Namun, akses ke Reje Payung saat ini terputus total karena ketiadaan jembatan yang bisa dilalui.

Masalah ini sebenarnya sudah sering disampaikan kepada Dinas Pendidikan Aceh Tengah, ” Berulang kali sudah kami sampaikan. Namun sayangnya bel.ada kepastian kapan ditangani dengan pasti,” kesal Sertalia.
Harapan kepala sekolah, pihak dinas pendidikan bisa membangun kelas darurat. (jur)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x