x

Spanduk Provokatif Serang Bupati Aceh Tenggara, Diduga Operasi Terencana dan Terorganisir

waktu baca 2 menit
Rabu, 22 Apr 2026 12:50 5 redaksi

RAKYAT ACEH| KUTACANE – Aksi pemasangan spanduk bernada provokatif yang menyerang Ketua DPD I Partai Golkar Aceh sekaligus Bupati Aceh Tenggara, H. M. Salim Fakhry, menuai kecaman keras. Peristiwa ini dinilai bukan sekadar gangguan biasa, melainkan ancaman serius terhadap ketertiban umum dan stabilitas sosial di Aceh.

 

Pegiat LIRA, Saleh Selian, mengungkapkan baliho provokatif tersebut terpasang di sedikitnya empat titik di Kota Banda Aceh, Selasa (21/4). Kemunculan spanduk itu dinilai sarat kepentingan, karena terjadi di tengah kunjungan kerja Bupati Salim Fakhry ke Jakarta untuk berkoordinasi dengan sejumlah kementerian terkait perjuangan kompensasi dana emisi karbon dari pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

 

“Dari sini kami menilai pelaku tidak berdiri sendiri. Isu ini muncul di saat Bupati sedang melakukan koordinasi penting di pusat. Ini patut diduga ada motif tertentu yang ingin mengganggu,” tegas Saleh.

 

Ia memperingatkan, jika kasus ini tidak segera diungkap, pelaku berpotensi mengulangi aksinya dengan pola serupa dan menyasar tokoh lain.

 

“Hari ini yang diserang adalah kehormatan Bupati Aceh Tenggara. Ke depan bisa saja figur lain. Ini berbahaya karena bisa memicu saling curiga dan merusak ketentraman publik di Serambi Mekkah,” lanjutnya.

 

Dari perspektif hukum, tindakan tersebut dinilai mengandung unsur kesengajaan atau mens rea, yakni niat jahat yang jelas untuk menyerang martabat seseorang serta mengarah pada ujaran kebencian. Konten spanduk tidak hanya mencederai nama baik individu, tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial yang lebih luas.

 

Indikasi kuat adanya perencanaan matang terlihat dari pola pemasangan di empat titik berbeda. Aksi tersebut diduga melibatkan banyak pihak dengan pembagian peran yang sistematis, mulai dari pengadaan bahan, penyusunan narasi provokatif, distribusi tim ke lokasi, hingga pemantauan situasi saat pemasangan.

 

“Ini bukan kerja satu atau dua orang. Ada struktur, ada koordinasi, dan ada perencanaan. Sangat kuat dugaan ini operasi terorganisir,” ungkap Saleh.

 

Lebih jauh, muncul dugaan adanya aktor intelektual yang mengendalikan aksi tersebut dari belakang layar. Karena itu, masyarakat mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak cepat dan tegas, tidak hanya menangkap pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap dalang utama di balik penyebaran spanduk provokatif tersebut.

 

Desakan ini menguat seiring kekhawatiran bahwa pembiaran kasus serupa dapat merusak stabilitas dan keharmonisan masyarakat, khususnya di Aceh Tenggara, serta mencoreng citra Aceh secara keseluruhan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x