OPTIMALISASI LAYANAN: Ketua Umum AIGMI Deviatri Syam saat memberikan kata sambutan mengenai teknis bantuan instalasi gas medik senilai Rp1,16 miliar di RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, Jumat (6/3). Proyek rehabilitasi ini bertujuan memulihkan sistem penunjang hidup (life support system) yang rusak pascabencana banjir di daerah tersebut. DEDE/RAKYAT ACEHRAKYAT ACEH| ACEH TAMIANG — Asosiasi Instalasi Gas Medik Indonesia (AIGMI) merealisasikan penyaluran bantuan kemanusiaan berupa pengadaan dan perbaikan sistem instalasi gas medik senilai Rp1,16 miliar untuk RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari percepatan pemulihan infrastruktur kesehatan pascabencana di wilayah tersebut. Penyerahan donasi dalam skema “AIGMI Peduli” ini turut dihadiri perwakilan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan manajemen rumah sakit, Jumat (6/3).
Ketua Umum AIGMI Deviatri Syam menyatakan bahwa ketersediaan instalasi gas medis memiliki korelasi langsung dengan aspek keselamatan pasien (patient safety).
“Gas medis bukan sekadar utilitas teknis, melainkan komponen life support system. Saat ini seluruh sistem sudah terpasang di ruang ICU, kamar operasi (OK), hingga ruang Sempa,” terangnya.
Berdasarkan hasil pemetaan Kemenkes, RSUD Muda Sedia merupakan salah satu fasilitas kesehatan dengan tingkat kerusakan infrastruktur paling masif akibat banjir.
Secara terperinci, donasi senilai Rp1.162.642.570 tersebut dialokasikan untuk perbaikan jaringan distribusi, penyediaan sistem sentral kompresor gas medik, sentral vakum medik, hingga optimasi sistem manifold oksigen dan N_2O. Selain itu, bantuan juga mencakup pengadaan puluhan unit flowmeter dan suction regulator.
Direktur RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, dr. Andika Putra mengungkapkan bahwa bantuan ini secara otomatis memulihkan kapasitas operasional rumah sakit yang sempat terkendala. Sebelum perbaikan ini tuntas, RSUD terpaksa menanggung beban rujukan pasien intensif ke fasilitas kesehatan lain karena lumpuhnya sistem gas medis.
”Sebelum ada perbaikan ini, praktis semua pasien yang membutuhkan pelayanan intensif harus kami rujuk. Dengan bantuan instalasi dari AIGMI, pelayanan vital tersebut kini kembali pulih dan bisa kami tangani secara mandiri,” ujar Andika.
Rehabilitasi sistem ini diharapkan mampu menekan angka rujukan sekaligus meningkatkan standar pelayanan medis di Aceh Tamiang secara berkelanjutan. (ddh)
Tidak ada komentar