x

TA Khalid: Aceh Harus Bangun Refinery CPO “Dari Lumbung Sawit ke Industri, Kuasai Minyak Goreng Sendiri”

waktu baca 4 menit
Rabu, 6 Mei 2026 19:34 1 redaksi

LHOKSEUMAWE | RAKYAT ACEH – Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid, melontarkan dorongan kuat agar Aceh segera mempercepat pembangunan industri hilir kelapa sawit melalui pendirian refinery crude palm oil (CPO). Gagasan ini tidak sekadar menyasar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk mengakhiri ketergantungan daerah terhadap pasokan minyak goreng dari luar serta memperkuat kedaulatan pengelolaan sumber daya alam.

Menurutnya, Aceh saat ini menghadapi paradoks klasik daerah penghasil komoditas, kaya bahan baku, namun lemah dalam pengolahan. Meski menjadi salah satu produsen CPO nasional, Aceh justru belum mampu memenuhi kebutuhan minyak gorengnya secara mandiri akibat minimnya fasilitas hilirisasi.

“Selama ini kita hanya menjadi penyuplai bahan mentah. Nilai tambah justru dinikmati daerah lain. Ini harus diubah jika kita ingin ekonomi Aceh tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar TA Khalid, asal Daerah Pemilihan Aceh ini kepada Rakyat Aceh, Rabu (6/5).

Ia menegaskan, pembangunan refinery tidak harus dimulai dari skala raksasa yang berorientasi ekspor global. Model industri berkapasitas menengah dengan fokus pasar domestik Aceh dinilai lebih realistis dan berdampak cepat terhadap stabilitas pasokan serta harga minyak goreng di tingkat masyarakat.

 

Strategi Hilirisasi: Dari Produksi ke Distribusi

Lebih jauh, TA Khalid juga menyoroti pentingnya integrasi antara produksi dan distribusi. Dalam hal ini, ia membuka peluang keterlibatan Perum Bulog sebagai mitra strategis untuk menjaga keseimbangan harga dan memastikan distribusi minyak goreng berjalan merata hingga ke daerah terpencil.

Menurutnya, tanpa sistem distribusi yang kuat, keberadaan refinery tidak akan optimal dalam menekan gejolak harga di pasar.

“Produksi harus diiringi distribusi yang terkontrol. Jika dikelola dengan baik, kita bisa menjaga harga tetap stabil dan melindungi daya beli masyarakat,” katanya.

 

Potensi Besar yang Belum Termanfaatkan

Data menunjukkan, Aceh memiliki potensi sawit yang signifikan dengan produksi CPO mencapai sekitar satu juta ton per tahun. Namun, sekitar 93 persen produksi tersebut masih dikirim keluar daerah, terutama melalui pelabuhan di Sumatera Utara.

Padahal, Aceh memiliki sedikitnya 63 pabrik kelapa sawit aktif dengan luas perkebunan mencapai sekitar 470 ribu hektare. Sayangnya, minimnya industri lanjutan membuat sebagian besar nilai ekonomi hilang karena tidak diolah di dalam daerah.

Kontribusi Aceh terhadap produksi sawit nasional tercatat sekitar 2,41 persen. Namun hanya sekitar 7 persen yang diekspor langsung melalui pelabuhan dalam provinsi, indikasi kuat bahwa infrastruktur hilirisasi dan logistik masih belum berkembang optimal.

 

Dampak Ekonomi: Lapangan Kerja hingga PAD

Pembangunan refinery CPO diyakini tidak hanya berdampak pada stabilitas harga minyak goreng, tetapi juga membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja baru, peningkatan investasi, serta kenaikan pendapatan asli daerah (PAD).

Industri hilir sawit juga berpotensi memicu pertumbuhan sektor turunan seperti logistik, energi, kemasan, hingga industri makanan. Dengan demikian, efek berganda (multiplier effect) terhadap ekonomi daerah diperkirakan cukup signifikan.

“Kalau kita serius masuk ke hilirisasi, dampaknya bukan hanya satu sektor. Ini bisa menggerakkan ekonomi Aceh secara menyeluruh,” ujar TA Khalid.

 

Peluang Regional dan Posisi Strategis Aceh

Selain memenuhi kebutuhan internal, Aceh juga dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pemasok minyak goreng bagi wilayah lain di Sumatera. Letak geografis yang strategis, dekat dengan jalur perdagangan internasional, menjadi keunggulan tersendiri dalam pengembangan industri berbasis sawit.

Dengan dukungan infrastruktur yang memadai dan kebijakan yang progresif, Aceh bahkan berpotensi menjadi salah satu pusat industri hilir sawit di kawasan barat Indonesia.

 

Momentum Transformasi Ekonomi

Dorongan pembangunan refinery ini dipandang sebagai momentum penting bagi Aceh untuk melakukan transformasi ekonomi beralih dari model ekstraktif berbasis bahan mentah menuju industri berbasis nilai tambah.

Namun, TA Khalid menegaskan bahwa realisasi gagasan tersebut membutuhkan keberanian politik, kepastian regulasi, serta percepatan investasi dari pemerintah dan sektor swasta.

“Ini bukan lagi soal wacana. Kita punya bahan baku, pasar, dan posisi strategis. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian mengambil keputusan dan keseriusan membangun,” pungkasnya. (arm/ra)

Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid, melontarkan dorongan kuat agar Aceh segera mempercepat pembangunan industri hilir kelapa sawit melalui pendirian refinery crude palm oil (CPO). FOR RAKYAT ACEH.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x