x

Konfercab IV NU Lhokseumawe Tegaskan Persatuan Nahdliyin, Tgk Husnaini dan Tgk Rizwan Pimpin PCNU 2026–2031

waktu baca 4 menit
Jumat, 22 Mei 2026 08:03 10 redaksi

LHOKSEUMAWE | RAKYAT ACEH – Konferensi Cabang (Konfercab) IV Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Lhokseumawe berlangsung penuh khidmat, dinamis, dan sarat semangat persatuan di Aula Kementerian Haji dan Umrah Kota Lhokseumawe, Kamis, 21 Mei 2026.

Forum tertinggi organisasi tingkat cabang tersebut secara mufakat menetapkan Dr.Tgk. Husnaini Hasbi, M.A. sebagai Rais Syuriah dan Dr. Tgk. M. Rizwan Haji Ali, M.A. sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Lhokseumawe masa khidmat 2026–2031.

Konfercab kali ini menjadi momentum strategis bagi konsolidasi organisasi Nahdlatul Ulama di Kota Lhokseumawe di tengah tantangan sosial, keagamaan, dan perkembangan masyarakat modern yang terus berubah.

Selain agenda pemilihan kepengurusan baru, forum tersebut juga menjadi ruang evaluasi terhadap perjalanan organisasi selama satu periode terakhir sekaligus merumuskan arah gerakan NU ke depan.

Acara pembukaan berlangsung khidmat dengan dihadiri sejumlah tokoh penting Nahdlatul Ulama Aceh. Hadir di antaranya Rais Syuriah PWNU Aceh, Nuruzzahri Samalanga, caretaker Ketua Tanfidziyah PCNU Lhokseumawe Tgk. H. Iskandar Zulkarnaen, Ph.D., serta jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh seperti Tgk H. Asnawi Amin, Tgk Al Munzir, Tgk Akmal Abzal, dan Tgk Indra.

Forum juga dihadiri para ulama dayah, pimpinan badan otonom (banom), pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) se-Kota Lhokseumawe, serta para kader dan tokoh Nahdliyin.

Dalam sambutannya, Waled Nuruzzahri Samalanga menekankan bahwa Nahdlatul Ulama harus tetap teguh menjaga khittah perjuangan sebagai organisasi keagamaan yang berpijak pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, khususnya dalam bingkai Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah.

Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, hingga munculnya berbagai paham keagamaan transnasional, NU memiliki tanggung jawab besar menjaga keseimbangan umat dan memperkuat moderasi Islam di tengah masyarakat.

“Khittah NU tidak boleh bergeser. NU harus tetap menjadi penjaga nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin yang moderat, toleran, dan berakar kuat pada tradisi keilmuan ulama,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa peran NU saat ini tidak lagi terbatas pada ruang dakwah dan pendidikan keagamaan semata, melainkan harus mampu hadir menjawab persoalan sosial, ekonomi, hingga kebangsaan.

“NU harus hadir sebagai kekuatan sosial yang mampu menjaga umat, bangsa, dan negara. Kiprah NU hari ini dituntut mampu memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, membangun persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan dunia serta akhirat,” katanya disambut tepuk tangan peserta konferensi.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah terpilih, M. Rizwan Haji Ali, menyampaikan bahwa pelaksanaan Konfercab IV PCNU Lhokseumawe telah melalui seluruh tahapan administratif dan memperoleh izin resmi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Hal tersebut, menurutnya, menjadi syarat penting agar seluruh proses organisasi berjalan sah dan konstitusional sesuai aturan jam’iyah.

Ia mengapresiasi seluruh pihak yang telah menjaga suasana forum tetap kondusif, demokratis, dan penuh kekeluargaan meskipun sempat muncul sejumlah dinamika pandangan dalam pembahasan internal organisasi.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada PWNU Aceh, seluruh pengurus sebelumnya, para ulama, pimpinan MWC, badan otonom, serta seluruh peserta konferensi yang kembali memberikan amanah kepada kami untuk memimpin PCNU Lhokseumawe,” ujarnya.

Rizwan menegaskan, kepengurusan baru ke depan akan fokus pada penguatan konsolidasi organisasi hingga tingkat akar rumput, peningkatan kaderisasi ulama muda, penguatan dakwah digital, serta memperluas peran sosial NU di tengah masyarakat perkotaan.

Menurutnya, tantangan NU saat ini tidak hanya berkaitan dengan isu keagamaan, tetapi juga bagaimana organisasi mampu menjawab problem generasi muda, literasi digital, ekonomi umat, hingga penguatan nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

“Dalam waktu dekat kami akan segera duduk bersama Rais Syuriah dan tim formatur untuk menyusun komposisi kepengurusan yang representatif, inklusif, dan mampu menjawab tantangan zaman. Setelah itu akan segera diusulkan ke PBNU,” katanya.

Saat ditanya mengenai dinamika yang berkembang dalam sidang Konfercab, Rizwan mengakui sempat terjadi perbedaan pandangan di antara peserta forum. Namun seluruh persoalan dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat tanpa harus menempuh mekanisme voting.

“Memang ada dinamika dan perbedaan pendapat, tetapi karena forum ini diisi para ulama dan intelektual muslim, semuanya dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan semangat persaudaraan,” jelasnya.

Keputusan yang dihasilkan melalui musyawarah mufakat tersebut dinilai menjadi simbol kuat bahwa tradisi dialog dan budaya tabayyun masih menjadi ruh utama Nahdlatul Ulama dalam menyelesaikan persoalan organisasi.

Konfercab IV PCNU Lhokseumawe juga menjadi penegasan bahwa NU di Kota Lhokseumawe tetap solid dan siap mengambil peran lebih besar dalam membangun masyarakat yang religius, moderat, dan berdaya saing di tengah perkembangan zaman.

Dengan kepemimpinan baru periode 2026–2031, warga Nahdliyin berharap PCNU Lhokseumawe mampu memperkuat sinergi ulama, akademisi, dan generasi muda untuk menjawab tantangan masa depan umat dan bangsa.

Dalam Konfercab itu turut dihadiri pengurus PCNU Lhokseumawe, para ulama, organisasi badan otonom (banom) dan para pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) sebagai pemilik suara.(arm/ra)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x