x

PNA di Tangan Rahul, Siap Bangkitkan Partai dan Kuasai Kembali Kursi Parlemen Aceh

waktu baca 4 menit
Senin, 10 Agu 2026 14:06 7 redaksi

RAKYAT ACEH | BANDA ACEH- Misbahul Munir akrab disapa Rahul Cobra resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Nanggroe Aceh (DPP PNA) periode 2026–2031. Penetapan tersebut berlangsung dalam Kongres II PNA di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh, Minggu (9/8/2026).

 

Rahul eks Pejuang GAM yang juga Ketua DPW Aceh Utara ini menjadi satu-satunya kandidat yang mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Umum PNA. Ia juga mendapatkan dukungan penuh di 19 DPW PNA dari 23 DPW PNA se- Aceh. Karena hanya terdapat satu calon, peserta kongres sepakat menetapkan Rahul untuk memimpin partai politik lokal Aceh tersebut selama lima tahun ke depan.

 

Ketua Pelaksana Kongres II PNA, Tgk Nurdin Ramli, mengatakan penetapan Rahul telah dilakukan sesuai mekanisme dan kesepakatan yang disepakati dalam kongres.

 

“Karena cuma ada satu calon, sesuai dengan aturan dan kesepakatan kongres langsung ditetapkan Rahul sebagai Ketua Umum PNA periode 2026–2031,” kata Nurdin.

 

Menurutnya, seluruh rangkaian Kongres II PNA berlangsung lancar dan serius. Tidak terdapat perubahan mendasar terhadap aturan organisasi yang dibahas dalam forum tersebut.

 

Kongres II juga menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan setelah sebelumnya PNA dipimpin Irwandi Yusuf akrab disapa Bang Wandi.

 

Rahul Dihadapkan pada Agenda Konsolidasi Besar

 

Terpilihnya Rahul menandai babak baru perjalanan PNA. Tantangan terbesar yang kini berada di depan mata adalah mengakhiri berbagai persoalan internal, memperkuat struktur organisasi, serta menyatukan kembali kader dan simpatisan partai.

 

Nurdin berharap kepemimpinan baru mampu menjadi momentum rekonsiliasi internal sehingga seluruh elemen PNA kembali berada dalam satu barisan.

 

“Dengan ditetapkan ketua umum yang baru ini, maka keadaan PNA yang selama ini banyak konflik internal, kita harap ke depannya kita dapat kembali bersatu,” ujarnya.

 

Ia juga mengajak kader maupun anggota PNA yang sebelumnya bergabung dengan partai politik lain untuk kembali memperkuat barisan PNA.

 

“Yang selama ini sudah bergabung ke partai lain semoga bisa kembali pulang ke rumah besar kita. Kita harapkan bangkitlah kembali PNA,” kata Nurdin.

 

Konsolidasi tersebut dinilai menjadi pekerjaan penting bagi Rahul untuk membangun kembali soliditas organisasi sekaligus mengembalikan kepercayaan publik terhadap PNA.

 

Target Bangkit dan Kembali Kuat di Parlemen Aceh

 

Kepemimpinan baru PNA tidak hanya dituntut menyelesaikan persoalan internal, tetapi juga menghadirkan strategi politik baru untuk menghadapi kontestasi politik di Aceh.

 

Konsolidasi struktur, penguatan kaderisasi, serta perluasan basis dukungan menjadi modal penting apabila PNA ingin kembali menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan dan merebut kembali kursi di parlemen Aceh pada pemilu mendatang.

 

Dengan kepemimpinan Rahul, PNA diharapkan mampu melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari tingkat pusat hingga struktur partai di daerah.

 

PNA Usulkan Tiga Nama Baru

 

Selain pergantian kepemimpinan, Kongres II PNA juga membahas perubahan identitas partai, termasuk nama dan desain bendera.

 

Perubahan nama tersebut berkaitan dengan ketentuan yang berlaku setelah PNA tidak memenuhi ambang batas elektoral pada pemilu sebelumnya.

 

Dalam kongres, muncul tiga usulan nama yang akan diajukan kepada Kementerian Hukum, yakni Partai Nasionalis Aceh, Partai Nusantara Aceh, dan Partai Naungan Aceh.

 

Namun, Nurdin menegaskan ketiga nama tersebut masih sebatas usulan. Keputusan final mengenai perubahan nama berada pada Kementerian Hukum.

 

“Ini sifatnya kita usulkan karena aturannya itu harus ditetapkan oleh Kemenkum,” jelasnya.

 

Selain nama, kongres juga menyepakati perubahan desain bendera PNA. Jika sebelumnya bendera didominasi warna jingga dengan lambang bulan bintang, desain baru akan ditambahkan garis putih pada bagian pinggir.

 

“Kalau sekarang kan full jingga dengan lambang bulan bintang. Untuk ke depan kita tambah garis putih di pinggir, sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkas Nurdin.

 

Dengan kepemimpinan baru Rahul, PNA kini memasuki fase penentuan. Konsolidasi internal, rekonsiliasi kader, pembenahan organisasi, hingga strategi merebut kembali dukungan pemilih menjadi pekerjaan besar yang harus segera dijalankan.

 

Namun, jika agenda tersebut mampu diwujudkan, kepemimpinan Rahul berpeluang menjadi momentum kebangkitan baru PNA sekaligus mengembalikan partai tersebut sebagai salah satu kekuatan politik lokal yang diperhitungkan di Aceh. (arm/ra)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x