Lahan sawah kekeringan di Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, kini terancam gagal tanam akibat kekeringan yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir. FOR RAKYAT ACEH.ACEH UTARA | RAKYAT ACEH – Di tengah upaya Bupati Aceh Utara, Ismail A.Jalil, sibuk melobi pemerintah pusat terkait penanganan pasca banjir, persoalan lain yang tak kalah mendesak justru menghantam sektor pertanian. Seluas 436 hektar lahan sawah di Kecamatan Cot Girek kini terancam gagal tanam akibat kekeringan yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir.
Ironisnya, ribuan petani yang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian kini hanya bisa menyaksikan benih padi yang telah berusia 30 hingga 40 hari menguning di persemaian karena tidak dapat dipindahkan ke lahan. Ketiadaan air membuat aktivitas tanam praktis lumpuh.
Sedikitnya 14 gampong terdampak, di antaranya Alue Drien, Seuneubok Baro, U Baro, dan Ceumpeudak. Hamparan sawah berubah menjadi tanah yang mengeras dan pecah-pecah, sementara saluran air tidak lagi mampu mengairi lahan pertanian.
Geuchik Gampong Seuneubok Baro, Jon Junaidi, mengatakan para petani kini berada dalam kondisi yang sangat sulit. Selama ini mereka hanya mengandalkan hujan karena sebagian besar lahan merupakan sawah tadah hujan.
“Sawah kami hanya mengandalkan air hujan. Benih yang sudah disemai seharusnya sudah bisa ditanam, tetapi karena tidak ada air, semuanya tertunda. Kalau kondisi ini terus berlangsung, benih akan rusak dan petani gagal tanam,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (23/7).
Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Cot Girek, Saiful Azhar, SP, membenarkan bahwa kekeringan berkepanjangan berpotensi menurunkan produksi gabah secara signifikan, bahkan menyebabkan gagal tanam apabila tidak segera ditangani.
Menurutnya, lahan yang telah memiliki pompanisasi mampu menghasilkan 4 hingga 5 ton gabah per hektar, bahkan pernah mencapai 6 ton per hektar. Namun, lahan yang belum memiliki fasilitas pengairan kini menjadi kawasan yang paling terdampak.
Ia mengungkapkan, aktivitas pertanian di sejumlah lokasi praktis berhenti total karena benih tidak dapat dipindahkan ke sawah. Untuk itu, pihaknya telah mengusulkan pembangunan pompanisasi dan sumur bor sebagai solusi jangka pendek agar musim tanam masih bisa diselamatkan.
Berdasarkan perhitungan potensi produksi rata-rata 5 ton per hektar, lahan seluas 436 hektare tersebut seharusnya mampu menghasilkan sekitar 2.180 ton gabah dalam satu musim tanam. Namun apabila kekeringan terus berlanjut, potensi produksi tersebut diperkirakan hilang dan berdampak langsung terhadap pendapatan petani serta pasokan pangan daerah.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai langkah konkret Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam menangani bencana kekeringan yang kini melanda sentra pertanian. Publik berharap perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada penanganan banjir dan agenda di tingkat pusat, tetapi juga pada penyelamatan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga.
Petani mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Utara segera menetapkan langkah darurat, mempercepat bantuan pompanisasi, penyediaan sumur bor, distribusi bantuan air, serta berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh dan Kementerian Pertanian agar ratusan hektare sawah yang kini mengering tidak berubah menjadi gagal tanam secara menyeluruh.
Tanpa intervensi yang cepat, Aceh Utara bukan hanya menghadapi ancaman penurunan produksi gabah hingga ribuan ton, tetapi juga berisiko memperburuk kondisi ekonomi masyarakat tani yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah.(arm/ra)
Tidak ada komentar