Prof. dr. Apridar, S.E., M. Si.Oleh: Prof. dr. Apridar, S.E., M. Si.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
apridar@usk.ac.id
Perpecahan umat Islam bukan isu baru. Al-Qur’an mencatatnya sejak dulu. QS. Asy-Syura ayat 14 menyebutkan: Ahli Kitab berpecah belah setelah ilmu datang. Penyebabnya sederhana: kedengkian di antara mereka. Kini, kondisi serupa menimpa umat Islam sendiri. Bukan dari luar. Dari dalam. Para munafik bekerja sistematis. Mereka memecah belah. Mereka menyebar kebencian. Mereka memakai topeng agama.
Data lapangan membuktikan tren ini. Kementerian Agama RI merilis Laporan Pemetaan Potensi Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan 2025. Survei mencakup 504 kabupaten dan kota. Jumlah responden 8.746 orang. Hasilnya mengejutkan. Konflik internal umat Islam kini lebih tinggi dibanding konflik antar agama. Abi S. Nugroho, tim leader pemetaan, menyatakan: konflik intraumat menguat. Penyebabnya perbedaan tafsir, praktik ibadah, dan klaim otoritas keagamaan.
Laporan itu juga mendeteksi tiga pemicu utama. Pertama, ujaran kebencian. Kedua, misinformasi. Ketiga, politik identitas. Ketiganya menjadi mesin percepat konflik. Data tambahan dari Jawa Tengah tahun 2025 memperkuat temuan ini. Sekitar 40 hingga 50 persen kasus keagamaan di provinsi tersebut adalah konflik internal Islam. Artinya, musuh terbesar umat Islam saat ini bukanlah orang kafir. Melainkan orang munafik yang mengaku muslim.
Siapa itu munafik? QS. Al-Baqarah ayat 204 memberi gambaran. Mereka pandai bicara. Mereka bersumpah atas nama Allah. Tapi di balik itu, mereka musuh kebenaran. Mereka merusak nilai sosial. Mereka menolak nasihat dengan sombong. QS. Al-Munafiqun ayat 4 menambahkan: tubuh mereka mengagumkan. Perkataan mereka enak didengar. Tapi mereka musuh sebenarnya. Waspadalah.
Ciri lain munafik menurut Al-Qur’an: riya dalam ibadah. Malas beribadah. Sedikit berzikir. Suka berprasangka buruk. Enggan berjihad. Mereka tidak terang-terangan memusuhi Islam. Mereka justru tampak alim. Mereka memanfaatkan celah. Mereka memicu perbedaan kecil menjadi pertikaian besar. Contoh kasus: perdebatan soal maulid nabi, cara mengangkat tangan saat doa, atau hukum tahlilan. Perbedaan ini lazim dalam fikih. Tapi munafik menjadikannya alat pemecah.
Jadi, umat Islam perlu cara yang bijak. Bukan emosi. Bukan kekerasan. Berikut enam strategi yang terbukti dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Strategi pertama: jihad dengan hujjah. Jihad melawan munafik berbeda dengan jihad melawan kafir. Para kafir yang memerangi Islam dilawan dengan pedang. Tapi munafik dilawan dengan lisan. Dengan argumen. Dengan menjelaskan kesesatan mereka. Membongkar strategi mereka. Memberi bukti bahwa mereka sesat. Ini yang dilakukan Rasulullah terhadap Abdullah bin Ubay bin Salul. Beliau tidak memerintahkan pembunuhan. Beliau membongkar aib dan kebohongan Abdullah di depan publik. Hasilnya, pengaruh Abdullah runtuh.
Strategi kedua: tetap dingin dan tidak terbawa emosi. Allah sudah menjelaskan tabiat munafik. Mereka tidak akan berubah kecuali dengan kehendak mereka sendiri. Terlibat debat sengit justru menguntungkan mereka. Debat panas memberi panggung. Mereka suka perhatian. Mereka ingin umat terpecah menjadi kubu-kubu. Maka, hadapi dengan sikap dingin. Jawab singkat. Jangan memperpanjang perdebatan yang tidak produktif.
Strategi ketiga: memperkuat loyalitas sesama muslim. Al-Qur’an mengajarkan untuk tidak menjadikan munafik sebagai teman dekat. QS. An-Nisa ayat 144: jangan ambil orang kafir sebagai pelindung selain mukmin. Para ulama menafsirkan bahwa ini juga berlaku untuk munafik. Perkuat ukhuwah. Perbanyak silaturahmi. Bangun forum forum diskusi yang sehat. Dengan internal yang solid, serangan munafik tidak akan mempan.
Strategi keempat: pegang teguh prinsip musyawarah. QS. Asy-Syura ayat 38 menyatakan: urusan umat diputuskan dengan musyawarah. Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa keputusan kolektif lebih aman dari kekeliruan. Keputusan individu rawan menimbulkan konflik. Maka, setiap isu yang berpotensi memecah belah harus dibawa ke forum resmi. Misalnya majelis ulama, ormas Islam, atau kementerian agama. Jangan biarkan individu atau kelompok kecil mengeluarkan fatwa tanpa otoritas.
Strategi kelima: menahan diri dari fatwa personal. Fenomena bid’ah membid’ahkan marak di media sosial. Seseorang dengan ribuan pengikut melontarkan vonis sesat kepada kelompok lain. Vonis itu tanpa verifikasi ilmiah. Tanpa kajian mendalam. Akibatnya, polarisasi melebar. Jarak ukhuwah merenggang. Padahal para ulama besar seperti Imam Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani mengajarkan sikap toleran terhadap perbedaan cabang fikih. Maka, jadilah umat yang kritis. Jangan langsung percaya fatwa personal. Tanyakan dalilnya. Tanyakan sanad keilmuannya.
Strategi keenam: meneladani sikap Rasulullah saat peristiwa Abdullah bin Ubay. Peristiwa ini tercatat dalam hadits shahih. Abdullah bin Ubay berusaha memecah belah kaum Muhajirin dan Anshar. Ia berkata: jangan beri nafkah pada orang-orang di sekitar Rasul. Biarkan mereka bubar. Umar bin Khattab marah dan minta izin membunuh Abdullah. Tapi Rasulullah melarang. Beliau bersabda: biarkan dia, jangan sampai orang bilang Muhammad membunuh sahabatnya. Sikap ini luar biasa. Rasulullah memilih menahan diri. Beliau tahu bahwa tindakan frontal akan menimbulkan fitnah baru. Beliau memilih pendekatan strategis: membiarkan keburukan Abdullah terungkap dengan sendirinya.
Apa hasilnya? Abdullah bin Ubay tetap hidup. Tapi pengaruhnya lenyap. Orang orang tidak lagi mendengarkannya. Ketika ia meninggal, Rasulullah bahkan mensholatinya. Para sahabat heran. Tapi Rasulullah menjelaskan bahwa beliau diberi pilihan oleh Allah. Sikap ini mengajarkan kita: tidak semua musuh harus dilawan dengan kekerasan. Kadang, kesabaran dan konsistensi pada kebenaran lebih ampuh.
Ayat ini menutup perdebatan. Dakwah tetap berjalan. Keadilan ditegakkan. Pertengkaran dihindari. Para munafik pemecah belah tidak layak mendapat ruang lebih. Mereka layak diabaikan dengan cara yang cerdas. Jangan beri mereka panggung. Jangan sebarkan ujaran kebencian mereka. Jangan like, comment, atau share konten provokatif mereka. Algoritma media sosial bekerja dari interaksi. Semakin kita terprovokasi, semakin luas jangkauan mereka.
Maka, cara bijak adalah diam dari perdebatan sia-sia. Tapi tetap vokal dalam kebenaran. Tulis artikel. Buat konten edukasi. Buka kajian rutin. Libatkan ulama kredibel. Gunakan data dan fakta. Jangan emosi. Jangan generalisasi. Dan yang paling penting: jadikan Al-Qur’an sebagai satu satunya rujukan utama.
Allah telah memperingatkan dalam QS. Asy-Syura ayat 16 : Barangsiapa yang berdebat tentang agama Allah setelah agama itu diterima, maka sia-sialah dalilnya di sisi Allah. Mereka marah. Mereka mendapat hukuman berat. Ayat ini cukup sebagai pengingat. Jangan menjadi bagian dari argumen. Jadilah perekat, bukan pemecah. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari sikap perpecahaan.
Tidak ada komentar