Pimpinan Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah, Tgk. H. Abubakar Ismail menyambut kedatangan puluhan santri baru korban banjir Aceh Utara, pada Ahad (5/7). ARMIADI RAKYAT ACEHLHOKSEUMAWE | RAKYAT ACEH – Di saat banyak keluarga masih berjuang memulihkan kehidupan pasca banjir yang menerjang Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, secercah harapan justru lahir dari dunia pendidikan.
Sebanyak 30 anak korban banjir kini memulai perjalanan baru sebagai santri di Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah, Gampong Lhok Mon Puteh-Blang Poroh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Ahad (5/7).
Kedatangan mereka bukan sekadar proses penerimaan santri baru. Bagi puluhan anak tersebut, langkah memasuki lingkungan dayah menjadi simbol bangkit dari keterpurukan sekaligus ikhtiar membangun masa depan yang sempat terguncang akibat bencana.
Didampingi orang tua dan keluarga, para santri disambut hangat oleh Pimpinan Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah, Tgk. H. Abubakar Ismail akrab disapa Abati, yang juga menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Lhokseumawe.
Suasana penuh haru menyelimuti prosesi penyambutan ketika para santri mengikuti tradisi peusijuek (tepung tawar), kearifan budaya Aceh yang sarat makna doa, keberkahan, serta harapan agar perjalanan hidup mereka dipenuhi kemudahan dan keberhasilan.
Di balik prosesi adat tersebut tersimpan pesan yang lebih dalam. Bencana tidak boleh menjadi akhir dari cita-cita. Justru melalui pendidikan, anak-anak korban banjir diberikan kesempatan untuk kembali menata mimpi, memperkuat mental, dan tumbuh menjadi generasi yang berilmu serta berakhlak.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak banjir, Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah memberikan fasilitas pendidikan secara khusus bagi para santri korban bencana.
“Untuk santri korban banjir pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), kami membebaskan biaya SPP, biaya makan, serta uang pembangunan. Kami ingin memastikan musibah yang mereka alami tidak menghalangi hak mereka memperoleh pendidikan yang layak,” ujar Abati.
Menurutnya, pendidikan merupakan investasi paling berharga dalam membangun generasi masa depan. Karena itu, lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk hadir memberikan solusi ketika masyarakat menghadapi kondisi sulit.
Abati menegaskan, Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah tidak hanya berfokus pada penguatan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter santri agar siap menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.
“Dayah adalah tempat membangun karakter, menanamkan disiplin, melatih kepemimpinan, serta membentuk pribadi yang bertanggung jawab. Kami ingin melahirkan generasi Islam yang cerdas, berintegritas, berakhlakul karimah, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, proses penerimaan santri baru untuk berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Salafiyah, Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), hingga Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT), dijadwalkan berlangsung pada Selasa (7/7). Seluruh rangkaian penyambutan telah dipersiapkan agar para santri dapat beradaptasi dengan lingkungan belajar secara optimal.
Kisah 30 anak korban banjir ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap musibah selalu ada ruang untuk bangkit. Ketika pendidikan, kepedulian, dan semangat kebersamaan berpadu, harapan kembali tumbuh. Gerbang Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah kini bukan hanya menjadi pintu menuju dunia pendidikan, tetapi juga menjadi jalan baru bagi lahirnya generasi Aceh yang lebih tangguh, berilmu, dan siap menyongsong masa depan.(arm/ra)
Tidak ada komentar