x

Dindingnya Penuh Wajah Politik, Khalidah Tempati Rumah Tak Layak Huni 

waktu baca 4 menit
Minggu, 4 Okt 2026 16:39 4 redaksi

Laporan: Armiadi AM,SE.,C.PS – Aceh Utara

 

RAKYAT ACEH ACEH UTARA — Wajah-wajah yang pernah menghiasi panggung politik Aceh kini justru menjadi bagian dari dinding sebuah rumah sederhana di Gampong Keutapang, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara.

 

Spanduk bekas kampanye yang menampilkan foto gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, anggota DPRK, DPRA hingga DPR RI menutup sebagian besar dinding gubuk berukuran sekitar 2×3 meter itu.

 

Di balik spanduk-spanduk yang indah itu, seorang perempuan berusia 57 tahun bernama Khalidah menjalani kehidupan bersama putranya, Maulidin (28).

 

Rumah itu jauh dari gambaran hunian layak. Dindingnya tersusun dari tepas bambu yang kemudian ditambal dan ditutup dengan berbagai spanduk bekas. Lantainya masih berupa tanah. Sementara atapnya menggunakan daun rumbia yang telah terlihat tua dan tidak lagi utuh di sejumlah bagian.

 

Kondisi rumah memperlihatkan betapa sederhananya tempat Khalidah dan Maulidin berteduh. Beberapa ban bekas bahkan digunakan sebagai pemberat di atas atap untuk membantu menahan daun rumbia dari terpaan angin.

 

Di dalam bangunan sempit itu, ruang yang terbatas harus dibagi menjadi dua bagian untuk tempat beristirahat ibu dan anak.

 

Tidak ada ruang yang benar-benar luas. Tidak ada lantai keramik. Tidak ada dinding permanen. Yang ada hanyalah ruang kecil yang dipertahankan agar tetap menjadi rumah.

 

Bagi Khalidah, gubuk itu bukan sekadar bangunan dengan bambu dan daun rumbia. Di sanalah hari-hari dijalani, hujan dan panas dihadapi, serta kehidupan bersama sang anak terus berlangsung dalam keterbatasan.

 

Ironinya, dinding rumah tersebut justru dipenuhi wajah-wajah para tokoh yang pernah meminta dukungan masyarakat melalui spanduk politik.

 

Kini, spanduk-spanduk itu telah kehilangan fungsi kampanyenya. Namun, bagi Khalidah, lembaran-lembaran tersebut berubah menjadi pelindung tambahan bagi dinding rumahnya.

 

Harapan Datang dari Baitul Mal

 

Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian Baitul Mal Aceh Utara.

 

Pada Sabtu (3/10/2026), Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Utara, Samsul Bahri, S.E., turun langsung melihat kondisi tempat tinggal Khalidah. Ia didampingi Geuchik Gampong Keutapang, Surya Achsal.

 

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi keluarga Khalidah sekaligus melihat kelayakannya sebagai calon penerima program pembangunan rumah layak huni.

 

Menurut Samsul, perhatian terhadap kondisi Khalidah muncul setelah Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil akrab disapa Ayahwa mengetahui keadaan rumah tersebut.

 

Ayahwa, kata Samsul, telah menyampaikan komitmen untuk membantu membangun rumah layak huni bagi Khalidah melalui program Baitul Mal Aceh Utara.

 

“Bapak Bupati menyampaikan bahwa kondisi rumah Khalidah sangat memprihatinkan. Beliau menjanjikan akan membangun rumah layak huni untuk Khalidah melalui program Baitul Mal,”ucap Samsul.

 

Bagi Khalidah, kabar tersebut bukan sekadar rencana pembangunan sebuah bangunan.

 

Itu adalah harapan untuk keluar dari rumah yang selama ini dibangun dari keterbatasan.

 

Baitul Mal Aceh Utara menyebut pembangunan rumah layak huni diprioritaskan bagi masyarakat yang menempati hunian dengan kondisi sangat memprihatinkan atau ekstrem.

 

“Baitul Mal Aceh Utara memprioritaskan pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat yang kondisi rumahnya sangat ekstrem, seperti yang kita kunjungi saat ini,” kata Samsul.

 

Dalam kunjungan tersebut, Baitul Mal Aceh Utara juga menyerahkan bantuan sembako kepada Khalidah dan Maulidin.

 

Bantuan itu mungkin tidak serta-merta mengubah kondisi rumah mereka. Namun, setidaknya menjadi tanda bahwa keberadaan keluarga tersebut mulai mendapat perhatian.

 

Bukan Sekadar Mengganti Dinding

 

Rumah Khalidah memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat yang mungkin luput dari gemerlap pembangunan.

 

Di luar sana, spanduk-spanduk yang dahulu menawarkan janji perubahan telah berganti dengan wajah-wajah baru. Namun di sebuah sudut Gampong Keutapang, bekas spanduk politik justru masih menjadi bagian dari dinding rumah seorang ibu.

 

Khalidah tidak sedang meminta kemewahan.

 

Ia hanya membutuhkan rumah yang tidak membuatnya cemas ketika hujan turun, atap yang mampu melindungi dari panas dan cuaca, serta ruang yang cukup untuk menjalani kehidupan bersama anaknya.

 

Karena pada akhirnya, rumah layak bukan hanya tentang tembok, atap dan lantai. Ia adalah tentang rasa aman, martabat dan kesempatan untuk hidup dengan lebih baik.

 

Jika rencana pembangunan rumah tersebut benar-benar terealisasi, gubuk kecil berdinding bambu yang selama ini diselimuti spanduk bekas itu akan menjadi bagian dari masa lalu.

 

Dan mungkin, suatu hari nanti, wajah-wajah politik yang selama ini menjadi dinding rumah Khalidah akan berganti dengan sesuatu yang jauh lebih berarti:

 

dinding rumah yang benar-benar menjadi miliknya, kokoh berdiri untuk melindungi kehidupan dan harapan keluarganya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x