
LHOKSEUMAWE | RAKYAT ACEH – Di tengah dunia yang semakin dipenuhi perdebatan, permusuhan, dan saling menyalahkan, sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW menghadirkan sebuah pelajaran yang tidak pernah lekang oleh waktu. Membalas kebencian dengan kasih sayang, menjawab permusuhan dengan akhlak, serta menghadapi tekanan dengan kesabaran dan keyakinan kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW merupakan utusan Allah yang diutus untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta. Kehadiran beliau bukan hanya membawa ajaran tauhid, tetapi juga menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan manusia. Di tengah masyarakat Arab yang saat itu masih tenggelam dalam penyembahan berhala, fanatisme kesukuan, penindasan terhadap kaum lemah, dan berbagai bentuk ketidakadilan sosial, Rasulullah datang membawa cahaya kebenaran dan harapan baru.
Namun, tidak semua orang mampu menerima kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah. Ironisnya, penolakan terbesar justru datang dari masyarakat Mekkah sendiri, tempat beliau dilahirkan, dibesarkan, dan dikenal sebagai sosok yang jujur serta terpercaya dengan gelar Al-Amin.
Ketika Rasulullah mulai menyampaikan risalah Islam secara terbuka, para pemuka Quraisy merasa kedudukan dan kepentingan mereka terancam. Ajaran tauhid yang dibawa Nabi dianggap dapat mengguncang tatanan sosial dan ekonomi yang selama ini mereka nikmati. Akibatnya, berbagai cara dilakukan untuk menghentikan dakwah Rasulullah.
Mulai dari cemoohan, penghinaan, pemboikotan ekonomi, tekanan sosial, hingga rencana pembunuhan dilakukan terhadap Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya. Mereka berusaha membungkam suara kebenaran dengan berbagai bentuk intimidasi. Namun yang luar biasa, semua perlakuan tersebut tidak pernah membuat Rasulullah membalas dengan kebencian.
Selama kurang lebih 13 tahun berdakwah di Mekkah, Rasulullah menghadapi ujian yang sangat berat. Para sahabat disiksa, difitnah, bahkan ada yang gugur mempertahankan keimanan mereka. Meski demikian, Rasulullah tetap mengajarkan kesabaran dan keteguhan hati.
Salah satu peristiwa yang paling menyentuh dalam perjalanan dakwah Rasulullah adalah ketika beliau pergi ke Thaif untuk mencari dukungan setelah menghadapi penolakan yang begitu keras di Mekkah. Alih-alih mendapat sambutan baik, Rasulullah justru diusir dan dilempari batu hingga tubuh beliau terluka dan berlumuran darah.
Dalam kondisi yang sangat menyakitkan tersebut, Malaikat Jibril datang bersama Malaikat Penjaga Gunung dan menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan menimpakan dua gunung kepada mereka. Namun Rasulullah SAW menolak tawaran tersebut.
Dengan penuh kasih sayang beliau berdoa dan berharap agar kelak dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Sikap ini menjadi bukti nyata bahwa Rasulullah tidak pernah membangun dakwah di atas kebencian. Beliau membangun peradaban dengan cinta, kesabaran, dan harapan.
Peristiwa Thaif menunjukkan kepada umat manusia bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan membalas dendam ketika memiliki kesempatan, melainkan kemampuan menahan amarah dan memilih jalan kasih sayang demi kemaslahatan yang lebih besar.
Ketika tekanan di Mekkah semakin berat dan ancaman pembunuhan terhadap Rasulullah semakin nyata, Allah SWT kemudian memerintahkan beliau untuk berhijrah ke Madinah. Peristiwa hijrah ini bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, tetapi merupakan salah satu titik paling penting dalam sejarah Islam.
Di Madinah, Rasulullah berhasil membangun masyarakat yang berlandaskan persaudaraan, keadilan, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Dari kota inilah Islam berkembang pesat hingga menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Yang menarik untuk direnungkan adalah bahwa kemenangan Islam tidak lahir dari kebencian, melainkan dari keteguhan prinsip, kecerdasan strategi, dan keluhuran akhlak Rasulullah SAW. Mereka yang dahulu memusuhi beliau, pada akhirnya banyak yang memeluk Islam setelah menyaksikan keagungan akhlak yang dimiliki Rasulullah.
Bahkan ketika Rasulullah berhasil kembali ke Mekkah dalam peristiwa Fathu Makkah, beliau datang bukan sebagai penakluk yang haus balas dendam. Padahal saat itu beliau memiliki kekuatan penuh untuk menghukum orang-orang yang selama bertahun-tahun menyakiti dirinya dan para sahabat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Rasulullah memberikan ampunan kepada sebagian besar penduduk Mekkah. Beliau menunjukkan kepada dunia bahwa kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu mengalahkan ego dan amarahnya sendiri.
Kisah perjuangan Rasulullah SAW menjadi pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan umat Islam saat ini. Di tengah maraknya perpecahan, fitnah, ujaran kebencian, dan konflik sosial, umat Islam perlu kembali meneladani cara Rasulullah dalam menghadapi perbedaan dan permusuhan.
Rasulullah mengajarkan bahwa kebencian tidak akan pernah berakhir jika dibalas dengan kebencian. Sebaliknya, cinta, kesabaran, dan ketulusan sering kali menjadi jalan yang mampu melunakkan hati serta menghadirkan perubahan yang lebih besar.
Mekkah pernah mengabaikan dan menolak Rasulullah SAW. Namun Rasulullah tidak pernah berhenti mencintai umatnya. Beliau tetap mendoakan mereka, mengharapkan kebaikan bagi mereka, dan terus berjuang demi keselamatan manusia.
Dari Mekkah, Thaif, hingga Madinah, sejarah mencatat satu pesan besar yang diwariskan Rasulullah kepada umat manusia: bahwa kasih sayang lebih kuat daripada kebencian, bahwa kesabaran lebih mulia daripada balas dendam, dan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada mereka yang tetap istiqamah di jalan kebenaran.
Semoga kisah perjuangan Rasulullah SAW tidak hanya menjadi bacaan sejarah semata, tetapi juga menjadi pedoman hidup dalam membangun masyarakat yang damai, berakhlak mulia, serta penuh cinta dan persaudaraan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
Oleh: Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Qur’an Kota Lhokseumawe, Tgk. Jamaluddin HK
Tidak ada komentar