x

n-Ach dan Masa Depan Pembangunan Aceh: Sebuah Telaah Psikologi Sosial dalam Perspektif McClelland

waktu baca 6 menit
Senin, 4 Mei 2026 14:56 1 redaksi

Oleh: Dr. Elidar Sari, SH, M.H

Dosen Fakultas Hukum, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

 

Apa yang membuat suatu masyarakat maju? Selama ini, jawaban yang lazim kita dengar berkisar pada kekayaan sumber daya alam, kebijakan politik yang tepat, atau pembangunan infrastruktur fisik. Namun seorang psikolog sosial bernama David C. McClelland dalam bukunya The Achieving Society (1961) mengajak kita melihat faktor lain yang tak kalah penting: motivasi psikologis individu-individu dalam masyarakat, khususnya need for achievement atau yang akrab disingkat n-Ach yaitu kebutuhan untuk berprestasi.

 

Menurut McClelland, masyarakat yang maju adalah masyarakat yang memiliki proporsi signifikan individu dengan n-Ach tinggi. Mereka adalah orang-orang yang berorientasi pada masa depan, berani mengambil risiko secara terukur, kreatif, inovatif, dan tidak pernah puas dengan status quo. Mereka adalah motor perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Pertanyaannya: bagaimana dengan Aceh? Bisakah teori ini menjelaskan kejayaan masa lalu dan tantangan pembangunan Aceh saat ini?

 

Aceh sebagai Masyarakat Berprestasi Tinggi

Jika kita membaca sejarah Aceh melalui kacamata McClelland, masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-16 dan ke-17 adalah periode emas ketika n-Ach masyarakat Aceh melangit. Sultan Iskandar Muda adalah figur sempurna kepribadian berprestasi tinggi: visioner, inovatif, berani mengambil risiko, dan mampu menggerakkan masyarakat menuju tujuan kolektif yang besar. Di bawah kepemimpinannya, Aceh membangun armada laut yang disegani, memperluas wilayah hingga pesisir timur Sumatera, dan menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Utsmani, Kerajaan Inggris, maupun Kekaisaran Mughal di India.

 

Tak hanya di bidang politik dan militer, para ulama dan intelektual Aceh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, dan Nuruddin ar-Raniri menunjukkan kreativitas intelektual yang luar biasa. Mereka menghasilkan karya-karya teologis, filosofis, dan sastra yang berpengaruh hingga ke seluruh dunia Melayu. Dalam perspektif McClelland, inovasi tak hanya terjadi di bidang ekonomi dimana inovasi pemikiran pun adalah manifestasi n-Ach yang tinggi.

 

Para pedagang Aceh juga tak kalah hebat. Mereka membangun jaringan dagang internasional, menguasai jalur rempah, dan berlayar jauh hingga ke India, Arab, bahkan Afrika Timur. Berlayar di lautan terbuka pada abad ke-16 bukanlah perkara mudah itu menuntut keberanian, kemampuan membaca peluang, dan orientasi pada hasil. Semua itu adalah ciri-ciri kepribadian berprestasi tinggi.

 

Aceh pada masa kejayaannya adalah achieving society dalam arti sebenarnya.

 

Ketika Sejarah Berbelok

Namun sejarah tak berjalan linear. Setelah masa kejayaan, Aceh memasuki periode panjang konflik internal, kolonialisme, perang, dan ketidakstabilan politik. Dalam perspektif McClelland, kondisi-kondisi semacam ini justru menjadi racun bagi tumbuhnya n-Ach. Mengapa? Karena motivasi berprestasi sangat bergantung pada stabilitas sosial, pola asuh, pendidikan, dan nilai-nilai budaya yang berkembang.

 

Pada masa kolonial Belanda, struktur sosial Aceh hancur. Banyak elite lokal dibunuh atau diasingkan, jaringan perdagangan internasional dilumpuhkan, dan masyarakat dipaksa masuk ke dalam sistem kolonial yang mengekang kreativitas serta inisiatif. Kondisi represif seperti ini jelas menghambat pembentukan kepribadian berprestasi. Individu tak diberi ruang untuk mengambil risiko atau berinovasi.

 

Memasuki abad ke-20, Aceh kembali dilanda badai konflik Panjang, baik pemberontakan DI/TII maupun konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia. Konflik berkepanjangan menciptakan budaya ketidakpastian. Masyarakat terbiasa hidup dalam mode survival, bukan mode inovasi. Dalam kondisi seperti ini, n-Ach sulit berkembang karena perhatian orang lebih tersedot pada pemenuhan kebutuhan dasar dan rasa aman, bukan pada pencapaian jangka panjang.

 

Setelah tsunami 2004 dan Perjanjian Damai Helsinki 2005, Aceh memasuki fase baru. Namun warisan konflik dan ketergantungan struktural masih terasa hingga kini. Ketergantungan pada dana otonomi khusus yang melimpah, birokrasi yang dominan, serta minimnya ekosistem wirausaha membuat n-Ach tak berkembang optimal. McClelland menyebut penghambat semacam ini sebagai cultural inhibitors of achievement motivation dimana hambatan budaya yang menekan motivasi berprestasi.

 

Tantangan Ekonomi dan Pendidikan Aceh Kini

Dalam ekonomi kontemporer, Aceh sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan n-Ach melalui sektor UMKM, industri kreatif, pertanian modern, perikanan, dan pariwisata. Namun potensi ini seperti bunga yang tak kunjung mekar karena beberapa kendala.

 

Pertama, struktur ekonomi Aceh masih sangat menggantungkan diri pada dana pemerintah. Ketergantungan ini melahirkan budaya menunggu, bukan budaya berprestasi. Ketika orang terbiasa menerima bantuan, mereka kehilangan kebiasaan mengambil inisiatif. Kedua, ekosistem wirausaha masih lemah. Akses modal terbatas, jaringan pasar belum kuat, dukungan inkubasi bisnis masih minim. Padahal wirausaha adalah wujud paling nyata dari n-Ach dalam ekonomi modern. Ketiga, budaya sosial Aceh yang sangat menghargai keseragaman dan kehati-hatian kerap menjadi tembok bagi individu dengan ide-ide baru. McClelland menekankan bahwa inovasi butuh toleransi terhadap kegagalan dan keberanian untuk berbeda. Tanpa itu, n-Ach sulit bersemi.

 

Di sinilah pendidikan memegang peran kunci. McClelland meyakini bahwa n-Ach bukanlah bawaan lahir, melainkan dibentuk melalui pendidikan dan pola asuh. Aceh memiliki tradisi pendidikan agama yang kuat yaitu fondasi moral yang baik. Namun pendidikan sains, teknologi, dan kewirausahaan perlu digenjot untuk menumbuhkan motivasi berprestasi. Pendidikan kita harus menanamkan orientasi masa depan, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, keberanian mengambil risiko, dan budaya inovasi. Model pembelajaran berbasis proyek, kompetisi inovasi, hingga inkubasi wirausaha di sekolah dan kampus bisa menjadi strategi jitu.

 

Membangun Aceh sebagai Achieving Society Baru

Untuk mengembalikan Aceh sebagai masyarakat berprestasi tinggi, diperlukan strategi yang memadukan teori McClelland dengan konteks lokal. Beberapa langkah konkret dapat dilakukan.

 

Pertama, perkuat ekosistem wirausaha melalui inkubator bisnis, kemudahan akses modal, pelatihan UMKM yang berkelanjutan, serta pembukaan jaringan pasar. Wirausaha adalah kanal utama ekspresi n-Ach dalam ekonomi modern.

 

Kedua, ciptakan ruang sosial yang mendukung kreativitas dan inovasi. Kurangi stigma terhadap kegagalan, buka ruang seluas-luasnya bagi ide-ide baru, dan dorong kompetisi yang sehat.

 

Ketiga, perkuat pendidikan berbasis kreativitas, teknologi, dan kewirausahaan. Jadikan pendidikan sebagai mesin pembentuk n-Ach generasi baru Aceh.

 

Keempat, dorong kepemimpinan transformasional di tingkat lokal. Pemimpin dengan n-Ach tinggi mampu menciptakan visi jangka panjang, menggerakkan masyarakat, dan membangun budaya berprestasi.

 

Kelima, kembangkan narasi budaya baru tentang Aceh sebagai masyarakat inovatif. Narasi ini penting karena motivasi berprestasi sangat dipengaruhi oleh imajinasi kolektif yaitu siapa kita dan apa yang ingin kita capai sebagai bangsa.

 

Menutupi

Teori McClelland mengingatkan kita bahwa pembangunan Aceh tak semata-mata bergantung pada kekayaan alam, kebijakan pemerintah, atau megaproyek infrastruktur. Lebih dari itu, pembangunan bergantung pada motivasi psikologis masyarakatnya sendiri. Aceh memiliki sejarah panjang sebagai masyarakat berprestasi tinggi. Tapi konflik, kolonialisme, dan ketergantungan struktural telah melukai motivasi itu.

 

Membangun kembali Aceh sebagai achieving society adalah pekerjaan besar. Butuh strategi yang sadar menumbuhkan motivasi berprestasi, kreativitas, dan inovasi. Pendidikan, wirausaha, kepemimpinan, dan budaya adalah kunci-kuncinya. Jika Aceh mampu melahirkan generasi dengan n-Ach tinggi, maka masa depannya tak hanya akan ditentukan oleh kebijakan di ibu kota atau gedung DPR. Masa depan Aceh akan ditulis oleh energi kreatif masyarakatnya sendiri seperti yang pernah ditorehkan para leluhur di masa kejayaan dahulu.

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x