Warga memperlihatkan kondisi sawah yang kering di Desa Pasie Jambu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Kamis . (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)RAKYAT ACEH | SIGLI – Ribuan sawah di sejumlah desa dalam Kecamatan Padang Tijie, Kabupaten Pidie dilanda keresahan berat akibat tanaman padi kesulitan memperoleh air, bahkan tanaman padi mereka terancam mati kekeringan.
Beberapa hari sebelumnya, masalah ini sempat mengundang pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie, turun tangan dengan mengerahkan puluhan mobil tangki air untuk menyiram areal persawahan petani di Desa Pante Crueng Padang Tijie.
Upaya penanggulangan ini, dilakukan untuk luas areal sawah hanya seluas 500 hektar dari luas sawah yang ditanami padi oleh petani sekarang ini di Kecamatan Padang Tijie, seluas 2.226 hektar lebih.
Dari kondisi usia padi petani tersebut berkisar antara satu bulan hingga satu bulan 10 hari, atau tergolong kebutuhan air yang cukup Sedangkan di kecamatan tidak ada saluran dari irigasi teknis, hanya ada dua Bendungan, yaitu Bendung Seumayan dan Bendungan Rajui.
Disisi lain, pemerintah hingga sekarang ini belum mampu membangun saluran irigasi teknis, baik saluran primair, skunder maupun saluran pembuang apabila terjadi stok air lebih yang dapat mendatangkan banjir bagi sawah dan pemukiman penduduk.
Ironisnya lagi, Bendungan Seumayam sudah berusia 40 tahun lebih, tapi belum mampu mengairi areal persawahan petani, juga Bendungan Rajui hanya dibangun untuk keuntungan proyek saja tanpa memihak keuntungan untuk masyarakat petani.
Disimak upaya pemerintah melalui Dinas Pertanian Aceh dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Pidie, beberapa hari belakangan untuk meredam kegelisahan petani sawah mendatangkan tangki air BPBD Pidie menyiram areal sawah di Padang Tijie
Upaya ini, menurut puluhan petani di Padang Tijie kepada media ini, Ahad (6/9) sore kemarin bukan upaya membantu petani oleh pemerintah tapi cenderung kepada bagaimana bisa tercipta proses untuk penarikan dana kegiatan pertanian menjelang akhir tahun anggaran.
Salah satu tokoh petani di Kecamatan Padang Tijie, Hamdani menyebutkan, pemerintah provinsi harus membangun jaringan air untuk petani jika tidak sama saja setiap musim tanam petani tetap kesulitan air buat areal persawahannya.
Menurut penuturannya, pada masa kepimpinan Almarhum Bupati Pidie, Drs Nurdin AR beliau dengan susah payah meminta Pemerintah Pusat membangun Bendung Tiro, atau sekitar Tahun 1982. Bendung raksasa tersebut mampu menyuplai air untuk 36.518 hektar areal persawahan di Kabupaten Pidie.
Kini, areal sawah seluas itu setiap.tahun terus berkurang karena bangunan perkantoran dan toko di 23 kecamatan, termasuk terkait harga sawah sudah sangat tinggi.
Bendung Tiro, terletak di Kecamatan Tiro mampu mengairi areal persawahan untuk Kecamatan Kembang Tanjong, Kecamatan Simpang Tiga, Kecamatan Peukan Baro, Kecamatan Pidie, Kecamatan Gronggrong, Kecamatan Mila, Kecamatan Delima, Kecamatan Indrajaya, Kecamatan Keumala, Kecamatan Sakti, Kecamatan Mutiara Timur, Kecamatan Glumpang Tiga, Kecamatan Mutiara, serta sejumlah kecamatan lainnya. (ana/rus)
Tidak ada komentar