x

Rektor UIN SUNA: Kampus Islam Punya Peran Strategis dalam Membangun Perdamaian Global

waktu baca 5 menit
Selasa, 29 Sep 2026 17:36 6 redaksi

RAKYAT ACEH | LHOKSEUMAWE — Lahirnya Jakarta Understanding on Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace dalam rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta mendapat apresiasi dari Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag.

Dokumen yang disepakati pada 27 September 2026 tersebut menegaskan kembali posisi masjid dan imam sebagai kekuatan strategis dalam membangun harmoni sosial, memperkuat diplomasi keagamaan, serta mendorong perdamaian global. IGIC 2026 sendiri berlangsung di Jakarta pada 25–27 September dan mempertemukan para imam, mufti, akademisi serta tokoh keagamaan dari berbagai negara.

Menurut Prof. Danial, semangat yang lahir dari forum internasional tersebut memiliki relevansi kuat dengan misi perguruan tinggi Islam. Perdamaian, kata dia, tidak cukup dibicarakan dalam forum internasional, tetapi harus diterjemahkan melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pembentukan karakter generasi muda.

“Jakarta Understanding memberikan pesan penting bahwa agama harus menjadi kekuatan yang menghadirkan kedamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan,” kata Prof. Danial, kepada Rakyat Aceh, Selasa (29/9).

Ia menilai perguruan tinggi Islam memiliki posisi strategis untuk menerjemahkan pesan tersebut ke dalam kehidupan akademik. Kampus tidak hanya dituntut melahirkan lulusan yang kompeten secara keilmuan, tetapi juga generasi yang mampu menjadi jembatan di tengah keberagaman.

Karena itu, menurut Prof. Danial, pendidikan tinggi Islam perlu memperkuat literasi agama, literasi digital, wawasan global, kepedulian terhadap lingkungan, serta kepekaan terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.

“Mahasiswa harus mampu menghadapi keberagaman dengan sikap terbuka, moderat, dan bertanggung jawab. Mereka juga harus mampu menggunakan media digital untuk menyebarkan ilmu, kebaikan, dan pesan perdamaian,” ujarnya.

Masjid dan Kampus sebagai Ruang Merawat Kerukunan

Jakarta Understanding menempatkan masjid tidak semata sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang dialog, penguatan harmoni sosial, mediasi konflik, pengembangan pendidikan karakter, dan penguatan kemanusiaan.

Kesepahaman tersebut juga mendorong penguatan kompetensi imam, moderasi dan toleransi, perlindungan kelompok rentan, diplomasi keagamaan, dialog lintas iman, penolakan terhadap ekstremisme dan kekerasan, serta peningkatan kesadaran terhadap persoalan lingkungan.

Bagi Prof. Danial, gagasan tersebut dapat menjadi ruang pengembangan akademik di UIN SUNA Lhokseumawe.

Ia menyebut kajian mengenai diplomasi keagamaan, moderasi beragama, konflik sosial, ekoteologi, keadilan sosial, hingga perdamaian global dapat diperkuat melalui penelitian dan kegiatan akademik.

Sementara melalui pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi dapat ikut memperkuat kapasitas lembaga keagamaan agar semakin mampu mengambil peran dalam membangun harmoni sosial.

Prof. Danial juga menilai Aceh memiliki pengalaman sosial yang penting untuk dikembangkan menjadi sumber kajian akademik mengenai perdamaian.

Menurutnya, pengalaman Aceh dalam melewati berbagai dinamika sosial dapat dikaji secara lebih mendalam dan dikembangkan menjadi pengetahuan yang memiliki relevansi bagi Indonesia maupun komunitas internasional.

“Lhokseumawe dan Aceh memiliki pengalaman sosial yang sangat berharga. Pengalaman itu perlu dikaji secara akademik dan dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan perdamaian,” katanya.

Ia menilai pengalaman lokal tidak seharusnya berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami bagaimana masyarakat membangun kembali kepercayaan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kehidupan bersama dalam keberagaman.

Selain isu perdamaian dan diplomasi keagamaan, Prof. Danial memberi perhatian pada pesan Jakarta Understanding mengenai lingkungan.

Ia menilai persoalan lingkungan memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar persoalan teknis. Lingkungan juga berkaitan dengan moral, tanggung jawab keagamaan, pendidikan, dan keberlanjutan kehidupan manusia.

“Isu lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga memiliki dimensi moral, keagamaan, dan pendidikan. Perguruan tinggi Islam harus ikut membangun kesadaran tersebut melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, pengembangan ekoteologi dinilai dapat menjadi salah satu bidang yang diperkuat dalam lingkungan perguruan tinggi Islam.

Jangan Berhenti sebagai Deklarasi

Prof. Danial berharap Jakarta Understanding tidak berhenti sebagai dokumen atau deklarasi, tetapi diterjemahkan menjadi program nyata oleh perguruan tinggi, masjid, pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil.

Menurutnya, keberhasilan sebuah kesepahaman internasional pada akhirnya akan terlihat dari sejauh mana nilai yang dirumuskan mampu hadir dalam kehidupan masyarakat.

“Yang paling penting adalah bagaimana pesan ini kita terjemahkan menjadi tindakan. UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe siap terus memperkuat pendidikan Islam yang moderat, pengembangan ilmu pengetahuan, dialog kemanusiaan, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari kontribusi kampus untuk perdamaian,” tegas Prof. Danial.

Dalam Jakarta Understanding, para Imam Besar juga menyerukan penguatan diplomasi keagamaan dan dialog lintas iman serta penolakan terhadap ekstremisme, kekerasan, hoaks, dan ujaran kebencian. Dokumen tersebut turut memuat dukungan terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.

Dari Kampus untuk Perdamaian

Sejalan dengan semangat tersebut, Prof. Danial mengajak seluruh sivitas akademika UIN SUNA—mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan—untuk menjadikan lingkungan kampus sebagai ruang tumbuhnya ilmu pengetahuan, persaudaraan, toleransi, dan kemanusiaan.

Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan media sosial secara bertanggung jawab, terutama dengan tidak ikut menyebarkan hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, maupun konten yang berpotensi memperuncing perbedaan di tengah masyarakat.

“Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan harus menjadi bagian dari upaya merawat perdamaian. Mari terus menyebarkan pesan-pesan kebaikan, menghindari hoaks dan ujaran kebencian, serta membangun budaya saling menghormati dengan menjunjung nilai-nilai luhur agama, kemanusiaan, persaudaraan, dan keadilan,” kata Prof. Danial.

Menurutnya, perdamaian tidak semata-mata menjadi agenda dalam forum internasional. Perdamaian harus dimulai dari lingkungan terdekat dan diwujudkan melalui sikap, tutur kata, serta tindakan sehari-hari.

“Perdamaian harus kita rawat bersama. Kampus harus menjadi ruang yang menumbuhkan ilmu, persaudaraan, toleransi, dan kemanusiaan. Dari kampus, kita ingin menghadirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menjadi pembawa pesan perdamaian bagi masyarakat dan dunia,” pungkasnya.(arm/ra)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x