x

Sejumlah Desa di Bandardua “Hutannya” Jagung

waktu baca 3 menit
Selasa, 29 Sep 2026 19:12 5 redaksi

RAKYAT ACEH | MEUREUDU – Jika Desa Reuleuet Kecamatan Ulim sebagai lumbung utama penghasil cokelat atau cacao terbesar di Pidie Jaya (sehingga dijuluki Kampung Kakao), sementara belasan desa di Kecamatan Bandardua adalah “Hutannya”tanaman jagung. Saat ini pertumbuhan kedua komoditi tersebut lumayan bagus. Hanya saja kendala yang dihadapi petani Reuleuet adalah buruknya hubungan transportasi.

Penanaman jagung di Bandardua dilakukan pada musim tanam gadu (MTG) atau seusai panen padi rendengan (pade thon-red). Kabid Produksi Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, Safri Sallam SP yang dikonfirmasi wartawan media ini, Selasa (29/9) kemarin menyebutkan, ada 12 desa di Bandardua lokasi pengembangan jagung. Sementara tahun ini delapan desa yang tanam. Yaitu, Kumba, Jeulanga Barat, Jeulanga Masjid, Pulo Gapu, Blang Miroue, Cot Geurufai, Cot Keng serta Desa Paya Pisang Klat.

Luas penanaman kurang lebih 270 hektare dan sebagian diantaranya sudah dan sedang panen. Hasilnya lumayan sementara harga jual dalam bentuk pipilan khusus untuk pakan ternak yaitu Rp 5.000/kg hingga Rp 5.200/kg. Hasil pantauan dan wawancara wartawan media ini dengan beberapa petani jagung disana menggambarkan, rata-rata umur tanaman jagung disana adalah1,5 bulan. Ada juga sejumlah petani yang baru saja selesai panen dan kini sibuk membersihkan lahan untuk penanaman berikutnya. D

Seperti penuturan, Sakdiah, Ummi Salamah dan Hayatun tiga ibu rumah tangga (IRT) yang ditemui disela-sela bekerja membersihkan lahannya. Katanya, mereka kembali menanam jagung karena alasan, selain memang harga jual bagus juga tak mungkin untuk ditanami padi karena ketersediaan air terbatas. “Lahan disini krisis air, sehingga kami kembali menanam jagung,” kata Sakdiah dibenarkan rekannya.
Ketiga warga Kumba menambahkan bahwa penanaman jagung selepas panen padi rendengan sudah berlangsung sekitar dua belas tahun. Mereka tergabung dalam wadah kelompok tani. Ditanya tentang sarana produksi (benih, pupuk dan pestisida), salah seorang diantara mereka menyebutkan umumnya adalah hasil swadaya atau beli sendiri. “Bantuan ada tapi hanya sewaktu-waktu,” ketus Sakdiyah.
Sedangkan jagung yang kami tanam tahun ini, benihn ya swadaya atau beli sendiri.

Untuk penanaman kali ini, mereka menggunakan benih sendiri atau dengan kata lain bukan benih bantuan pemerintah. Nada sama juga dilontarkan Nurhayati yang ditemui Rakyat Aceh ketika sedang melakukan pemupukan. “Penanaman kali ini baik benih maupun pupuk kami beli sendiri di pasar,” sebut Nurhayati sembari mengatakan bahwa umumnya benih yang digunakan adalah Varietas Pioner 32.
Bagi mereka menanam jagung usai panen padi rendengan sudah rutin setiap tahun. Tergiur menanaman jagung untuk pakan ternak, sebut Tgk Usman, seorang petani disana, karena didukung harga pasar yang lumayan yaitu rata-rata Rp 5.100/kg. Lagi pula petani tidak repot-repot memasarkan ke pasar karena pedagang datang sendiri ke lahan usahanya saat sedang mengirik.

Kadistanpang Pidie Jaya, Muhammad Nur SP yang dikonfirmasi Rakyat Aceh membenarkan, bagi petani Bandardua tak asing lagi dengan jagung.
“Usai panen padi rendengan, mereka langsung membersihkan lahan untuk tanam jagung,” sebut M Nur. Selain Bandardua, beberapa kecamatan lainnya di Pidie Jaya juga menanam komoditi serupa. Hanya saja luasnya terbatas. Bandarbaru juga lumayan luas setiap tahun. Pada MTG 2026 ini, luas penanaman jagung di wilayahnya lebih 400 hektare dan terluas seperti dilaporkan Kabid Preoduksi yaitu Bandardua yaitu sekitar 270 ha.

“Poktan Papeuen Meuligoue – Kumba adalah yang terluas penanaman setiap tahun. Sementara terluas kedua adalah Kecamatan Bandarbaru.

Posisi ketiga Kecamatan Meurahdua. Sedangkan lima kecamatan lainnya terbatas. Menyangkut dengan bantuan, Kadistanpang mengatakan kali ini adalah swadaya atau beli sendiri. Sementara tahun-tahun sebelumnya ada walau tidak merata artinya yang dibantu terbatas atau sesuai anggaran.
“Insya Allah kedsepan akan kami upayakan bantuan,” imbuh M Nur.
Catatan media in, pemerintah telah membantu pada awal-awalnya petani Bandardua menanam jagung termasuk peralatan untuk merontok. (age/rus)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x