Seekor gajah jantan ditemukan mati pada Minggu (9/8) di areal perkebunan sawit PT MPLI, Aceh Tamiang. istimewaRAKYAT ACEH | BANDA ACEH – Dalam waktu yang berdekatan, dua individu gajah sumatera dilaporkan mati. Satu gajah jantan liar di Aceh Tamiang, dan seekor anak gajah jinak bernama Yuna di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar.
?Rentetan kematian ini, Forum Jurnalis Lingkungan dan Jaringan Gajah Nusantara mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melakukan evaluasi menyeluruh dan membuka data kesehatan satwa secara transparan kepada publik.
?Kepala Departemen Advokasi Forum Jurnalis Lingkungan, Hidayatullah, mengatakan, kejadian pertama terjadi pada 9 Agustus 2026. Bangkai gajah sumatera jantan ditemukan di areal perkebunan sawit milik PT MPLI, Gampong Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, sekitar pukul 12.00 WIB.
?Gajah tergeletak di jalur perkebunan dengan kedua gading masih utuh dan tanpa luka di tubuhnya. Hasil pemeriksaan awal mengarah pada dugaan keracunan, dengan perkiraan gajah tersebut telah mati sekitar tiga hari sebelum ditemukan.
?Dua hari berselang, giliran Yuna, gajah jinak berusia sekitar tiga tahun, yang mati. Pada Selasa (11/8) pagi, ia masih terpantau aktif seperti biasa. Namun menjelang sore, mahout (pawang) mendapatinya lemas, dengan mata dan wajah bengkak serta lidah pucat kebiruan.
?Tim medis segera memberikan penanganan, tetapi kondisinya terus memburuk hingga akhirnya Yuna mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.48 WIB.
Dugaan sementara mengarah pada infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV), penyakit yang dikenal menyerang anak gajah dan dapat memburuk dengan sangat cepat.
?“Kematian dua gajah ini menambah kekhawatiran terhadap tren populasi gajah sumatera yang terus menurun. Populasi gajah sumatera di Aceh sendiri sebelumnya diperkirakan hanya berkisar 500 individu,” kata Hidayatullah dalam keterangan resminya, Kamis (13/8).
?Forum Jurnalis Lingkungan mencatat dalam empat tahun terakhir ini, setidaknya ada 23 kasus kematian gajah yang terjadi di seluruh Aceh, termasuk akibat perburuan dan konflik dengan manusia.
?Hidayatullah menambahkan, kematian gajah jinak yang terus berulang di PLG Saree tidak boleh lagi berhenti pada penjelasan medis semata. Ia mempertanyakan apakah sistem pencegahan, pengawasan, deteksi dini, dan penanganan kesehatan di PLG sudah benar-benar berjalan secara profesional.
?“Kami mendesak BKSDA Aceh membuka riwayat kesehatan gajah, hasil nekropsi, serta hasil pemeriksaan laboratorium secara bertanggung jawab kepada publik,” tambahnya.
Sementara Polres Aceh Tamiang secara resmi telah menerima laporan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh terkait kasus penemuan bangkai gajah liar di areal perkebunan sawit PT MPLI Kampung Kaloy Kecamatan Tamiang Hulu.
Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Robby Ansyari, SIK, MH menyatakan pihaknya segera menindaklanjuti temuan tersebut dan merencanakan pemanggilan intensif terhadap pihak-pihak terkait, terutama pengelola perkebunan, pemilik lahan, serta saksi-saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian untuk mengungkap fakta secara utuh.
“Kami akan dalami semua kemungkinan. Pihaknya akan memanggil manajemen PT MPLI dan saksi saksi lainnya. Perkembangan selanjutnya akan kami sampaikan secara terbuka kepada masyarakat dan awak media,” pungkas AKBP Robby Ansyari saat bersilaturahmi dengan awak media Aula Mapolres setempat, Kamis (13/8).
Kapolres menjelaskan berdasarkan fakta di lapangan dan hasil pemeriksaan sementara, kondisi gading gajah masih utuh dan lengkap, sehingga belum ditemukan indikasi kuat adanya perburuan liar untuk mengambil gading. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pendarahan pada lambung satwa, yang mengarah pada dugaan kuat bahwa gajah tersebut mengonsumsi makanan yang mengandung zat berbahaya atau racun. (ril/rha)
Tidak ada komentar