x

Memanusiakan Pelaku

waktu baca 2 menit
Minggu, 4 Okt 2026 17:34 3 redaksi

RAKYAT ACEH | ACEH TAMIANG — Memanusiakan manusia tetap menjadi pilihan. Meski kesalahan yang dilakukan telah merugikan orang lain.
Itulah yang dilakukan Datok Penghulu (Kepala Desa) Syariful Alam setelah hilangnya tiga pintu kamar mandi Masjid Ar-Rahman, Kampung Kesehatan, Kecamatan Karang Baru beberapa waktu lalu.

Dibantu sejumlah warga, Datok Syariful Alam pada Minggu (4/10) menelusuri keberadaan pelaku. Informasi dari beberapa warga akhirnya mengarah kepada seseorang yang diduga sebagai pelaku.
Setelah mengetahui keberadaannya, Datok mantan jurnalis ini tidak datang dengan kemarahan.

Alih-alih melapor ke pihak berwaji, pelaku justru dijemput dan diajak sarapan pagi di Kota Kuala Simpang.
Usai sarapan, pelaku dibawa ke kantor datok. Di sana, mereka berbicara dari hati ke hati. Sambil terisak, pelaku mengakui kesalahannya. Ia mengaku terus dibayang-bayangi rasa bersalah. Apalagi barang yang diambil berasal dari tempat ibadah.

“Saya pasrah saja saat datok menjemput saya. Karena rasa bersalah itu,” ujar pelaku.

Mendengar pengakuan tersebut, Datok Syariful Alam merangkul pelaku. Keduanya kemudian bersalaman.
Ketika pelaku menyatakan kesediaannya mengganti pintu yang telah diambil, Datok justru meminta agar uang tersebut digunakan untuk kebutuhan keluarga.

“Tidak usah. Nanti biar saya yang ganti. Kalau ada uang, gunakan saja untuk kebutuhan di rumah. Bantu orang tuamu,” pesan Datok Syariful Alam kepada pelaku sembari berharap kesalahan itu tidak terulang lagi.

Menurut Syariful pelaku bukan warga setempati. Dari keterangan pelaku, ternyata pintu yang diambil hanya dua buah, bukan tiga. Persoalan itu masih akan ditelusuri bersama untuk mengetahui keberadaan satu pintu lainnya. Baginya persoalan tersebut bukan semata soal kehilangan barang. Yang lebih penting adalah keamanan dan ketertiban masyarakat di kampungnya.

“Saya ingin kampung ini aman dan kamtibmas tetap terjaga,” ujarnya.

Identitas dan alamat pelaku sengaja tidak disebutkan. Bukan untuk menutupi kesalahan.
Tetapi lebih kepada pembinaan.
Sebab, menghukum seseorang bukan selalu dengan mempermalukannya.

“Kadang, memberi kesempatan untuk memperbaiki diri justru menjadi hukuman yang paling manusiawi,” demikian Syariful Alam. (ddh)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x