x

Bupati Ayahwa Luncurkan Ie Loen, PDAM Tirta Pase Bidik Pasar Air Minum Kemasan

waktu baca 5 menit
Selasa, 20 Okt 2026 15:11 24 redaksi

RAKYAT ACEH | ACEH UTARA – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mulai mendorong pengembangan usaha air minum dalam kemasan (AMDK) melalui peluncuran produk Ie Loen. Namun, di tengah harapan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), perusahaan daerah juga menghadapi tantangan untuk membuktikan daya saing produk, memperluas pasar, dan memastikan investasi memberikan hasil nyata.

Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Ayahwa, meresmikan produk AMDK Ie Loen di pabrik PDAM Tirta Pase, Gampong Meunasah Reudeup, Kecamatan Lhoksukon, Selasa (20/10/2026).

Peluncuran tersebut menjadi langkah baru bagi PDAM Tirta Pase dalam mengembangkan usaha di luar layanan air bersih perpipaan. Produk Ie Loen disiapkan untuk dipasarkan kepada masyarakat, instansi pemerintahan, sektor usaha, hingga konsumen di luar Aceh Utara.

Ayahwa berharap kehadiran produk lokal tersebut dapat memperkuat perekonomian daerah sekaligus menambah sumber pendapatan perusahaan. Ia juga mengajak seluruh unsur pemerintahan, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), sektor perbankan, dan masyarakat untuk mendukung pengembangan Ie Loen.

“Dengan bismillahirrahmanirrahim, produk AMDK Ie Loen pada hari ini, Selasa, 20 Oktober 2026, secara resmi saya luncurkan. Mudah-mudahan dengan produk ini dapat meningkatkan pendapatan daerah. Mengenai harganya, nanti di lapangan dapat disesuaikan dengan harga standar,” ujar Ayahwa.

Bupati juga meminta jajaran pemerintahan ikut menggunakan produk AMDK lokal tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap usaha daerah. Meski demikian, perluasan penggunaan di lingkungan pemerintah diharapkan tetap memperhatikan ketentuan pengadaan barang dan jasa serta kualitas dan harga produk.

Dalam sambutannya, Ayahwa menyinggung besarnya anggaran yang menurutnya telah dialokasikan pemerintah daerah untuk pengembangan usaha melalui PDAM Tirta Pase, dengan nilai yang disebut mendekati Rp500 miliar.

Besarnya dukungan anggaran itu, kata dia, harus diimbangi dengan kinerja perusahaan yang optimal dan pengelolaan yang menutup celah kebocoran.

Pesan tersebut menempatkan peluncuran Ie Loen bukan sekadar seremoni produk baru, melainkan juga bagian dari tantangan lebih besar bagi perusahaan daerah: bagaimana mengubah dukungan investasi menjadi pendapatan, memperkuat pelayanan publik, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, capaian bisnis Ie Loen ke depan perlu dapat diukur melalui pertumbuhan penjualan, efisiensi biaya produksi, perluasan jaringan distribusi, kontribusi terhadap PAD, serta keberlanjutan usaha.

Ayahwa turut menyoroti kesejahteraan tenaga kerja. Ia meminta jajaran direksi memastikan hak-hak karyawan dipenuhi, termasuk pembayaran gaji tepat waktu.

“Pada kesempatan ini saya mengajak seluruh jajaran pemerintah, unsur Forkopimda, sektor perbankan, dan seluruh elemen masyarakat Aceh Utara untuk senantiasa kompak, bersatu padu, dan bersemangat dalam membangkitkan berbagai sektor pembangunan demi tercapainya cita-cita mulia daerah,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur PDAM Tirta Pase Imran, S.T., MSM, memaparkan perkembangan cakupan layanan perusahaan yang saat ini telah mencapai 53.000 Sambungan Rumah (SR) atau mencakup sekitar 25 persen dari total wilayah pelayanan di Kabupaten Aceh Utara.

Imran menjelaskan sejarah panjang pengelolaan air minum daerah yang diawali oleh BPAM. Pada masa awal beroperasi, BPAM memiliki kapasitas produksi 55 liter per detik dengan jumlah pelanggan sebanyak 2.084 SR yang bersumber dari sumur dalam (deep well) di Gampong Paya Leupah, Kecamatan Simpang Keuramat. Seiring berjalannya waktu, layanan tersebut berkembang hingga mencapai 53.000 pelanggan.

Pada kesempatan itu, Imran menceritakan perjalanan Tirta Pase Aceh Utara dari tahun ke tahun. Dalam perjalanannya, pembangunan fasilitas air minum terus mengalami dinamika. Pada tahun 1989, Pemkab Aceh Utara melakukan MoU dengan Den Outer Management Service (DOM Service) asal Belanda dengan nilai investasi sekitar Rp307 miliar. Namun, karena belum terealisasi setelah empat tahun, kontrak tersebut dihentikan pada 28 Februari 1996,” papar Imran.

Selanjutnya, kata Imran, pada tahun 1996, kerja sama dilanjutkan dengan PT Sarana Asa Putra Utama. Kendati demikian, dampak krisis moneter pada tahun 1998 menyebabkan kerja sama tersebut akhirnya dihentikan pada tahun 2000.

Pembangunan infrastruktur kembali berjalan pada tahun 2002 melalui dana pinjaman ADB program PAMSUSD-P (APBN). Melalui program ini, pembangunan Water Treatment Plant (WTP) Krueng Pase berkapasitas 100 liter per detik berhasil diselesaikan dan diresmikan pada tahun 2004. Puncaknya, pada 11 Maret 2006, WTP Lhoksukon berkapasitas 150 liter per detik diresmikan dan beroperasi hingga kini dengan nama IPA Lhoksukon.

Disampaikannya lagi, memasuki fase transformasi progresif, PDAM Tirta Pase memfokuskan pembenahan pada tiga aspek utama: penguatan tata kelola, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta revitalisasi dan re-engineering sistem penyediaan air minum.

Pada tahun 2024, perusahaan menjalin kerja sama dengan BPKP Perwakilan Aceh untuk penerapan Good Corporate Governance (GCG). Langkah ini menjadikan PDAM Tirta Pase sebagai pionir penerapan GCG bagi BUMD air minum di Aceh, di mana evaluasi berkala dilakukan setiap enam bulan.

Memasuki tahun 2025, PDAM Tirta Pase membangun Control Room berbasis SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) yang dikembangkan oleh tenaga IT lokal perusahaan untuk memantau peningkatan layanan di 11 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) secara real-time.

Selain itu, lahan seluas 1,3 hektare yang sebelumnya menjadi tempat penampungan lumpur tak terkendali kini ditata menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kawasan Wisata Air. Lokasi ini difungsikan sebagai pusat edukasi kelestarian sumber daya air bagi anak-anak sekolah, sekaligus direncanakan sebagai lokasi pembangunan Kantor Pusat PDAM Tirta Pase.

“Pabrik AMDK “Ie Loen” yang diresmikan memiliki kapasitas produksi sebesar 20 liter per detik atau setara dengan 15.000 galon per hari. Produk “Ie Loen” dipasarkan dalam tiga varian ukuran, yaitu kemasan botol 300 ml, botol 600 ml, dan galon 19 liter,” kata Imran.

Inovasi produk galon “Ie Loen” sebelumnya telah ditetapkan sebagai best practice dalam laporan Voluntary National Review (VNR) Sustainable Development Goals (SDGs) oleh Bappenas tahun 2025. Program ini menggandeng BUMDes untuk menyalurkan air minum galon berkualitas dengan harga terjangkau guna memberdayakan ekonomi masyarakat menengah ke bawah.

Di akhir sambutannya, Imran mengakui bahwa performa finansial perusahaan sempat terdampak akibat bencana banjir yang merusak infrastruktur pengolahan air, Jaringan Distribusi Utama (JDU), Jaringan Distribusi Bagi (JDB), hingga sambungan rumah.

Namun, pihak manajemen menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat SDM dan tata kelola demi memberikan pelayanan air bersih terbaik bagi masyarakat Kabupaten Aceh Utara. (arm/ra)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x