x

In Memoriam Dr Israk Ahmadsyah: Pejuang Ekonomi Syariah Aceh yang Konsisten

waktu baca 5 menit
Senin, 19 Okt 2026 14:57 6 redaksi

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Wakil Ketua IAEI Orwil Aceh

apridar@usk.ac.id

 

Dr Israk Ahmadsyah, B.Ec., M.Ec., Ph.D., telah pergi. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry itu wafat pada Selasa, 13 Oktober 2026 (bertepatan dengan 2 Jumadil Awal 1448 H) pada usia 54 tahun. Ia meninggalkan jejak panjang sebagai akademisi yang tidak pernah berhenti membumikan ekonomi syariah di Aceh. Bagi banyak pihak, Israk bukan sekadar pengajar. Ia adalah pejuang yang konsisten.

 

Konsistensi Israk terlihat dari pilihan hidupnya. Ia menempuh S1 Ekonomi di International Islamic University Malaysia pada 1993 hingga 1997. Lanjut S2 di University Kebangsaan Malaysia pada 1997 hingga 1999. Ia sempat menimba ilmu di Birmingham Business School, University of Birmingham, Inggris, pada 2006 hingga 2007. Pendidikan doktoralnya ia rampungkan di Markfield Institute of Higher Education, Gloucestershire University, Inggris, pada 2013 hingga 2018. Seluruh jalur akademiknya mengarah pada satu bidang: ekonomi Islam.

 

Jabatan struktural ia emban. Israk menjabat sebagai Wakil Dekan II FEBI UIN Ar-Raniry pada periode 2022 sampai 2026. Namun, kursi kepemimpinan tidak membuatnya berhenti turun ke lapangan. Pada 10 Juni 2025, ia memimpin kunjungan mahasiswa ke Bank Syariah Indonesia. Kunjungan itu bagian dari mata kuliah Perbankan Syariah Lanjutan. Ia ingin mahasiswa melihat langsung praktik keuangan syariah, bukan hanya membaca teori di kelas.

 

Israk juga aktif di organisasi masyarakat. Beliau menjabat Wakil Ketua PW Ikadi Aceh. Pada bulan Maret 2026, ia menjadi narasumber pada Seminar Ekonomi Syariah bertajuk PW Ikadi Aceh. Di hadapan 80 peserta, Israk memaparkan materi tentang diskusi syariah sehari-hari. Ia mengutip Surat Al-Baqarah ayat 208. Ayat tersebut memerintahkan umat Islam untuk mengamalkan Islam secara menyeluruh, termasuk dalam transaksi ekonomi. Hal ini juga mengingatkan kita pada larangan riba dalam Surat Al-Baqarah ayat 279. Pesannya tegas. Jangan sampai transaksi harian melanggar ketentuan Allah.

 

Penulis sendiri merupakan sahabat dan rekan kerja dosen pada Prodi S3 Fiqh Modern UIN Ar-Raniry Banda Aceh.  Banyak hal sering kami bahas, terutama dalam hal  ekonomi syariah, sehingga kami sering merasa tercerahkan atas setiap pembahasan tersebut.

 

Konsistensi Israk bukan tanpa alasan. Aceh adalah provinsi dengan indeks literasi keuangan syariah tertinggi di Indonesia. Data OJK per Oktober 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan syariah Aceh mencapai 65,18 persen. Indeks inklusi keuangannya 72,76 persen. Kedua angka itu jauh di atas rata-rata nasional, yang hanya 43,07 persen untuk literasi dan 13,24 persen untuk inklusi. Posisi Aceh sebagai laboratorium ekonomi syariah bukan kebetulan. Ada banyak pihak yang bekerja keras. Israk adalah salah satunya.

 

Angka inklusi yang tinggi itu punya wajah nyata di lapangan. Hingga Juli 2026, jumlah nasabah BSI di Aceh mencapai 5,3 juta. Angka itu tumbuh 31,76 persen secara tahunan. Dana pihak ketiga yang dihimpun mencapai Rp22,3 triliun, sementara pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp26,1 triliun. Jaringan layanan BSI di Aceh menjangkau lebih dari 138 outlet, 20.822 agen, dan 56.567 merchant QRIS. Pertumbuhan ini menunjukkan preferensi masyarakat Aceh terhadap perbankan syariah semakin kuat. Namun, preferensi yang kuat belum tentu berbuah produktivitas.

 

Di sinilah pekerjaan rumah yang Israk sadari betul. OJK mencatat pembiayaan perbankan di Aceh masih didominasi oleh sektor konsumtif, sekitar 69,05 persen. Sektor pertanian dan perikanan menyumbang 30,71 persen PDRB Aceh. Tetapi porsi pembiayaan untuk sektor pertanian hanya sekitar 5 persen. Ada jarak antara tingginya inklusi dan ketepatan pemanfaatan. Israk menyadari celah ini. Melalui perannya di Ikadi, ia mendorong para dai dan penceramah agar tidak hanya mengajarkan ibadah. Mereka harus menjadi pionir yang memberi pemahaman ekonomi syariah kepada masyarakat. Ia ingin literasi tidak berhenti di angka, tetapi berubah menjadi perilaku ekonomi yang produktif.

 

Sumbangan pemikiran Israk melampaui ruang kelas. Ia menulis bagian penting dalam buku “Jalan Terjal Menghapus Riba.” Buku itu mencatat perjuangan konversi Bank Aceh menjadi bank syariah. Ia juga meneliti dan menulis tentang Bank Baitulmal sebagai institusi integratif untuk pengentasan kemiskinan. Israk paham bahwa ekonomi syariah harus menjawab masalah nyata. Bukan hanya wacana normatif.

 

Kiprah Israk di organisasi profesi juga tercatat. Ia terlibat di Ikatan Ahli Ekonomi Islam Aceh sebagai wakil sekretaris. Ia juga aktif di Masyarakat Ekonomi Syariah Aceh sebagai ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Standardisasi Kompetensi SDI. Posisi-posisi itu bukan gelar kosong. Ia digunakan untuk mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang ekonomi syariah. Israk tahu bahwa institusi sekuat apa pun akan lemah tanpa manusia yang terlatih.

 

Kepergian Israk meninggalkan duka beruntun di UIN Ar-Raniry. Sebelumnya, Warul Walidin wafat pada Agustus 2026. Budi Azhari pergi sehari sebelum Israk. Tiga akademisi meninggalkan kampus itu dalam waktu berdekatan. Bagi FEBI, kehilangan Israk terasa berat. Ia sosok yang lembut dalam berbicara dan bijaksana dalam bersikap. Tetapi di balik kelambutan itu, pendiriannya soal ekonomi syariah tidak pernah goyah.

 

Apa yang bisa dipelajari dari jejak Israk? Pertama, konsistensi bukan soal retorika. Ia membuktikannya lewat pilihan studi, jabatan, organisasi, dan tulisan. Kedua, ekonomi syariah butuh akademisi yang mau turun ke masyarakat. Israk tidak hanya meneliti di ruang tertutup. Ia berdiri di depan peserta seminar, memimpin kunjungan mahasiswa, dan berbicara di depan para dai. Ketiga, pekerjaan rumah ekonomi syariah Aceh belum selesai. Angka inklusi tinggi, tetapi pembiayaan produktif masih kecil. Israk telah menunjukkan arah. Penerusnya harus melanjutkan.

 

Ada satu hal lagi yang layak direnungkan. Aceh punya modal besar: regulasi yang mendukung, jaringan perbankan syariah yang luas, dan kepercayaan masyarakat yang tinggi. BSI bahkan menyiapkan sertifikasi halal untuk 275 UMKM dan menargetkan penyaluran KUR Rp350 miliar pada 2026. Ekosistem itu terus dibangun. Tetapi ekosistem tanpa aktor yang gigih seperti Israk akan berjalan lambat. Ia adalah tipe akademisi yang tidak menunggu program pemerintah. Ia bergerak lewat organisasi masyarakat, lewat kelas, lewat tulisan. Itulah bentuk perjuangan yang ia pilih.

 

Dr Israk Ahmadsyah telah pergi. Namun, apa yang ia tanamkan di FEBI UIN Ar-Raniry dan PW Ikadi Aceh akan terus berjalan. Ekonomi syariah Aceh hari ini berdiri di atas kerja banyak orang, termasuk dirinya. Literasi yang tinggi, inklusi yang luas, dan kesadaran publik yang tumbuh adalah bukti bahwa perjuangan itu tidak sia-sia.

 

Aceh kehilangan seorang pejuang. Bukan pejuang yang berteriak paling keras, melainkan pejuang yang bekerja paling tekun. Dr Israk Ahmadsyah telah menunaikan tugasnya. Kini giliran generasi berikutnya menjaga konsistensi itu.

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x