Sungai di Kecamatan Sawang pasca bencana akhir November 2025, hingga saat ini sejumlah jembatan yang sebagai penghubung masih darurat. IDRIS BENDUNG-RAKYAT ACEHRAKYAT ACEH| LHOKSUKON – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memperkuat langkah mitigasi bencana melalui kolaborasi strategis bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara per Selasa, 27 Oktober 2026, tercatat sebanyak 25 kecamatan pernah terdampak banjir.Langkah komprehensif tersebut dibahas dalam Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) serta peninjauan lapangan bersama Tim Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) yang dipimpin Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., MM, di Ruang Rapat Bupati, Selasa (27/10).
Pemetaan Wilayah Rawan BencanaBPBD Aceh Utara memetakan wilayah prioritas yang memerlukan perhatian khusus:
1. Wilayah Rawan Banjir (10 Kecamatan Dominan)
Kecamatan Langkahan, Lhoksukon, Matangkuli, Pirak Timu, Tanah Luas, Baktiya, Sawang, Paya Bakong, Samudera, dan Syamtalira Aron.
2. Wilayah Rawan Longsor
Kecamatan Langkahan dan Kecamatan Nisam Antara.
Kepala BPBD Aceh Utara menyebutkan, saat ini pihaknya bersama BNPB sedang menyusun Kajian Risiko Bencana (KRB). Kajian ini bertujuan memetakan tingkat kerawanan secara akurat, mengenali potensi ancaman, serta mengidentifikasi wilayah dengan risiko tinggi.”Rapat monev bersama Tim Satgas PRRP menjadi momentum penting untuk memastikan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana berjalan terpadu, tepat sasaran, dan memberikan perlindungan optimal bagi masyarakat,” ujarnya.(ung/ard)
Tidak ada komentar