
RAKYAT ACEH | ACEH UTARA– Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kabar bahagia datang dari pedalaman Aceh Utara. Katratunida (28), seorang guru ngaji di Gampong Saweuk, Kecamatan Kuta Makmur, akhirnya mendapat perhatian setelah bertahun-tahun mengabdikan diri mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak secara sukarela.
Selama kurang lebih lima tahun, Katratunida dengan penuh keikhlasan membimbing puluhan anak di wilayah tersebut tanpa memungut biaya. Di tengah pengabdian itu, ia bersama suaminya, Khodirun, dan kedua anak mereka harus menjalani kehidupan dalam rumah yang kondisinya jauh dari kata layak.
Rumah berdinding rapuh dengan atap daun rumbia tersebut telah mengalami banyak kerusakan. Ketika hujan turun, air kerap merembes bahkan masuk ke dalam rumah hingga mengganggu aktivitas keluarga dan kegiatan belajar mengaji.
“Kalau hujan, air langsung masuk. Anak-anak saya sampai bilang, ‘Ibu, rumah kita kebanjiran.’ Demi menenangkan mereka, saya terpaksa menghibur dan bilang, ‘Enggak apa-apa, ayo kita nonton air terjun di dalam rumah.’ Padahal, di dalam hati saya menangis,” tutur Katratunida dengan mata berkaca-kaca.
Ironisnya, rumah sederhana itu juga menjadi tempat sekitar 35 santri belajar mengaji. Selain itu, Katratunida membina sekitar 20 remaja untuk mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan keagamaan, termasuk Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).
Keterbatasan tempat membuat kegiatan belajar terkadang harus dilakukan secara bergelombang atau berpindah ke balai desa. Namun, kondisi tersebut tidak pernah memadamkan semangatnya untuk terus mengajarkan ilmu agama kepada generasi muda.
Katratunida juga tidak pernah menetapkan tarif bagi para santrinya. Jika ada orang tua yang memberikan infak, ia menerimanya dengan penuh syukur dan seikhlasnya.
Dari Rumah Lapuk Menjadi Hunian Permanen
Harapan Katratunida untuk memiliki rumah yang lebih layak mulai menemukan titik terang ketika sejumlah prajurit TNI melakukan survei terhadap jembatan yang rusak akibat banjir di kawasan tersebut.
Jembatan yang selama ini menjadi akses penting masyarakat kini dibangun kembali menjadi jembatan gantung Garuda melalui semangat gotong royong antara prajurit TNI dan masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, seorang jenderal TNI meminta izin melihat langsung kondisi rumah Katratunida hingga ke bagian dapur. Setelah menyaksikan kondisi bangunan secara langsung, sang jenderal kemudian menyampaikan kalimat sederhana yang begitu membekas bagi Katratunida.
“Ya sudah, rumah ini kita buat permanen ya, Bu.”
Belakangan, Katratunida baru mengetahui bahwa sosok tersebut adalah Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, Brigjen TNI Ali Imran, putra asli Aceh.
Kepedulian tersebut kemudian diwujudkan melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang digagas Brigjen TNI Ali Imran. Rumah lama Katratunida mulai dibongkar untuk selanjutnya dibangun menjadi rumah permanen yang lebih aman dan layak.
Pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh prajurit Koramil 02 Kuta Makmur jajaran Kodim 0103/Aceh Utara bersama masyarakat setempat.
Danramil 02 Kuta Makmur, Letda Inf Andriyanto, mengatakan pembangunan rumah tersebut ditargetkan selesai dalam waktu sekitar 20 hari.
“Kami berharap rumah baru ini tidak hanya memberikan tempat tinggal yang aman bagi Ibu Katratunida sekeluarga, tetapi juga menjadi tempat yang representatif bagi beliau untuk terus mengajar ilmu agama kepada santri-santrinya,” ujar Letda Inf Andriyanto, Kamis (13/8/2026).
Hadiah Kemerdekaan bagi Guru Ngaji
Bagi Katratunida, rumah baru tersebut bukan sekadar bangunan permanen. Rumah itu menjadi jawaban atas doa dan harapan yang selama ini dipanjatkannya di tengah keterbatasan.
Dengan suara bergetar dan air mata berlinang, Katratunida menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang diberikan kepada keluarganya.
“Kami sangat bersyukur atas kepedulian Bapak Jenderal Ali Imran kepada warga pedalaman seperti kami. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan untuk memimpin Aceh menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Kisah Katratunida menjadi potret lain dari makna kemerdekaan. Di tengah perayaan HUT ke-81 RI, semangat kemerdekaan tidak hanya hadir melalui upacara dan seremoni, tetapi juga melalui kepedulian nyata kepada masyarakat di pelosok negeri.
Di pedalaman Aceh Utara, seorang guru ngaji yang selama bertahun-tahun mengabdikan diri tanpa pamrih kini mendapat rumah yang lebih layak untuk keluarganya. Lebih dari itu, rumah tersebut diharapkan menjadi ruang belajar yang lebih nyaman bagi puluhan anak yang selama ini menimba ilmu agama kepadanya.
Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, rumah baru Katratunida menjadi simbol sederhana tentang arti pengabdian, gotong royong dan kepedulian. Sebuah hadiah kemerdekaan yang bukan hanya menghadirkan tempat tinggal, tetapi juga menjaga harapan agar cahaya pendidikan Al-Qur’an terus menyala dari pelosok Aceh Utara.(arm/ra)
Tidak ada komentar